Nama Tionghoa Suk Dony dan Perjuangannya Sebelum Bisa Dapat Status Warga Negara Indonesia
Ignatia Andra February 16, 2026 05:29 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Memiliki nama asli Tionghoa: Tjong Djhung Seng, Suk Dony menceritakan bagaimana sulitnya mendapatkan kewarganegaraan Indonesia.

Kerusuhan, kekerasan, hingga perlakuan diskriminatif menjadi potret kelam yang masih melekat dalam ingatan Tjong Djhung Seng (71).

Ia telah melewati berbagai periode pemerintahan di Indonesia, dengan pengalaman hidup yang tak lepas dari persoalan identitas dan nama Tionghoa.

Suk Dony, sapaan akrabnya, lahir di Surabaya pada 1955.

Ayahnya merupakan warga negara Tiongkok, sedangkan ibunya berasal dari Lamongan, Jawa Timur.

Saat lahir, ia berstatus sebagai warga negara Tiongkok.

Panggilan “Don” yang Mengubah Namanya

Suk Dony menuturkan, sejak kecil ia tidak memiliki nama Indonesia.

“Saya itu sebenarnya tidak memiliki nama Indonesia, tapi karena ibu saya orang Lamongan kesulitan kalau manggil saya, akhirnya selalu manggil ‘Don.. Don..’, lama kelamaan orang-orang tahunya nama saya Dony Tjong,” jelas Suk Dony saat ditemui di kediamannya, Jumat (13/3/2026), dikutip TribunJatim.com via Kompas.com, Senin (16/2/2026).

Namun, nama yang melekat pada dirinya justru kerap membuatnya menerima perlakuan tidak adil, baik dari lingkungan sosial maupun dari sistem pemerintahan.

Dilarang Sekolah karena Nama dan Keturunan

Suk Dony kecil, yang saat itu masih duduk di kelas I SD di Sekolah Rakyat, mengingat jelas momen menakutkan ketika aparat bersenjata masuk ke ruang kelas.

“Waktu itu saya belum belajar baca tulis, saya ingat betul tiba-tiba ada tentara masuk, kita semua disuruh keluar, pintu langsung dikunci rapat dan dijaga,” ujarnya.

Ia mengenang, sejak peristiwa tersebut, anak-anak keturunan Tionghoa tidak lagi diperbolehkan bersekolah.

Selain itu, nama-nama yang berunsur Tionghoa juga harus dihapus atau diganti dengan nama Indonesia.

“Akhirnya semua nama orang keturunan Tionghoa yang WNI harus di Indonesiakan, misalnya nama istri saya itu Giok Tin berubah jadi Listina,” ujarnya.

Sulit Mengurus Status Warga Negara

Kesulitan lain yang dialami Suk Dony akibat identitas Tionghoanya adalah ketika mengurus perubahan kewarganegaraan menjadi warga negara Indonesia, sekitar 10 tahun lalu.

“Waktu itu saya mengubah kewarganegaraan ke Indonesia benar-benar sesulit itu, banyak sekali persyaratannya, setiap kali pengajuan itu lama, susah pokoknya,” jelasnya.

Meski kini telah resmi menjadi WNI, pengalaman pahit tersebut memengaruhi keputusannya dalam memberi nama kepada anaknya.

“Tapi tetap saya beri juga nama Tionghoanya karena dia keturunan Cina harus tahu asal-usul leluhurnya, marganya,” ucapnya.

LAMPION - Petugas memasang dan menata lampion merah di area Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban, menjelang perayaan Imlek 2577 Kongzili. Ratusan lampion menghiasi sudut klenteng.
LAMPION - Petugas memasang dan menata lampion merah di area Klenteng Kwan Sing Bio, Tuban, menjelang perayaan Imlek 2577 Kongzili. Ratusan lampion menghiasi sudut klenteng. (Tribun Jatim Network/Muhammad Nurkholis)

Nama Tionghoa Kini Lebih Bersifat Simbolis

Menurut Suk Dony, penggunaan nama Tionghoa di kalangan masyarakat Cina-Indonesia (Chindo) saat ini cenderung bersifat simbolis.

Namun, ia menyayangkan banyak generasi muda Chindo yang tidak lagi memiliki marga Tionghoa, bahkan tidak mempelajari bahasa Mandarin.

“Malahan banyak mahasiswa yang Jawa asli Bahasa Mandarinnya bagus banget, sedangkan yang turunan China tidak bisa sama sekali,” terangnya.

Seberapa penting sebenarnya nama Tionghoa untuk sebuah keluarga keturunan Chinese-Indonesia?

Bagi banyak keluarga keturunan Tionghoa di Indonesia, nama Tionghoa memiliki makna yang cukup penting, meskipun tingkat kepentingannya bisa berbeda-beda antar generasi dan latar belakang keluarga.

Secara tradisional, nama Tionghoa tidak sekadar penanda identitas, tetapi mengandung doa, harapan, dan nilai filosofis yang berkaitan dengan kebajikan, keberuntungan, kesehatan, serta masa depan seseorang.

Nama tersebut sering disusun berdasarkan silsilah keluarga (marga), urutan generasi, dan makna karakter Han yang dipilih dengan pertimbangan budaya, etika, bahkan unsur kepercayaan tertentu.

Karena itu, bagi generasi yang masih kuat memegang tradisi, nama Tionghoa dipandang sebagai pengikat identitas keluarga dan warisan leluhur.

Pandangan Liem Ai Lun

Pandangan serupa disampaikan Liem Ai Lun (22), yang akrab disapa Ellen Amanda Santosa.

Ia menilai, banyak generasi muda Chindo memilih tidak menggunakan nama Tionghoa karena merasa nama Indonesia lebih relevan dengan identitas resmi sebagai warga negara.

“Menurutku menggunakan nama Indonesia sudah cukup karena sebagai WNI dan hanya turunan (Chindo) saja, sehingga nama China tidak berlaku di Indonesia atau mungkin hanya memakai marga saja diselingan nama Indonesia sudah cukup,” tutur Ellen.

Selain itu, ia melihat kecenderungan generasi muda yang lebih nyaman menggunakan nama Indonesia, sementara nama Tionghoa hanya dipakai secara simbolis.

“Dan tidak sedikit juga anak-anak Chindo yang tidak memiliki nama mandarin karena sudah bukan suatu kewajiban budaya keluarga Chindo,” paparnya.

Meski begitu, Ellen menilai penggunaan marga Tionghoa tetap memiliki arti penting, terutama bagi keluarga yang masih memegang kuat tradisi.

“Contoh di keluarga saya, sudah tidak terlalu mementingkan nama mandarin, hanya memberi tahu marga saja,” tutupnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.