Tribunlampung.co.id, Kulog Progo - Keracunan massal Makan Bergizi Gratis atau MBG di Wilayah Sentolo, Kulon Progo diduga dari telur menu telur kukus.
Foto ilustrasi. Keracunan MBG di Sentolo Diduga dari Telur Kukus, Dimasak 12 Jam Sebelum Didistribusikan
Hal ini setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo menerima hasil pemeriksaan dari sampel dugaan keracunan makanan yang terjadi pada 20 Januari silam.
Pemeriksaan sampel dilakukan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Yogyakarta.
Sebelumnya, ratusan siswa di sejumlah sekolah di wilayah Sentolo, Kulon Progo mengalami keracunan massal setelah mengkonsumsi menu makanan program Makan Bergizi Gratis.
Ratusan siswa itu harus dilarikan ke sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah Sentolo karena mengalami gejala keracunan, mulai dari pusing, mual, muntah.
Baca Juga Ratusan Siswa di Bandar Lampung Diduga Keracunan MBG, Dinkes Tunggu Hasil Lab
Sebanyak 104 korban dilarikan ke Puskesmas Sentolo I dengan 72 pasien, menyusul RSUD Nyi Ageng Serang Sentolo sebanyak 16 pasien.
Selanjutnya Klinik Pengasih Husada sebanyak 9 pasien dan RS Queen Latifa Sentolo sebanyak 7 pasien.
Para korban berasal dari 37 sekolah penerima program MBG di wilayah Sentolo.
Dikutip dari TribunJogja Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih mengatakan pihaknya menerima hasil pemeriksaan dari BB Labkesmas belum lama ini.
"Pemeriksaannya membutuhkan waktu 14 hari sejak sampel dikirim, dan kami juga melakukan investigasi," ujarnya, Senin (16/02/2026).
Pemeriksaan dilakukan pada sampel makanan, feses, hingga muntahan.
Makanan berasal dari menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan hari itu, meliputi nasi putih, telur kukus asam manis, tempe goreng, tumis sayur, dan buah anggur.
Menurut hasil pemeriksaan, telur kukus menjadi salah satu pemicu terbesar.
Berdasarkan hasil penelusuran, rupanya telur kukus tersebut dimasak sekitar pukul 18.30 WIB, Senin (19/02/2026) atau sehari sebelum didistribusikan.
"Jadi telur kukusnya dimasak 12 jam sebelum didistribusikan, dan itu tidak dimasak ulang," terang Susilaningsih.
Telur kukus jadi pemicu karena paling banyak dikonsumsi oleh sekitar 1.044 pelajar yang menerima MBG pada 20 Januari itu.
Adapun yang bergejala sebanyak 200 pelajar.
Selain itu juga, ditemukan pula bakteri Bacillus cereus pada nasi dan tempe serta bakteri Staphylococcus aureus pada nasi, tempe, dan sayur tumis.
Susilaningsih mengatakan bakteri ini mudah muncul pada makanan yang mengandung gula.
"Jadi telur kukusnya sebagai kendaraan utama penyebaran bakteri karena makanan disimpan di suhu ruang yang terlalu lama," ujarnya.
Susilaningsih pun mendorong agar pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap proses menyiapkan, pengolahan, hingga distribusi makanan.
Terutama memastikan prosesnya sesuai standar higienitas.
Pihaknya merekomendasikan SPPG untuk mengimplementasikan sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) dalam memastikan keamanan pangan.
Pelatihan hingga evaluasi diperlukan bagi para pegawai SPPG guna memastikan Prosedur Operasional Standar tetap berjalan.
"Pelatihan dan evaluasi terhadap kepatuhan prosedur harus dilakukan secara berkala," kata Susilaningsih.
Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Kulon Progo, Aini menyatakan belum menerima hasil pemeriksaan dan rekomendasi dari Dinkes tersebut. Pihaknya pun masih menunggunya.
Selagi menunggu, ia mengatakan SPPG Kaliagung yang memproduksi dan mendistribusikan MBG di Sentolo tengah melakukan perbaikan infrastruktur.
Termasuk evaluasi secara menyeluruh berdasarkan catatan Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) dari Puskesmas dan Dinkes usai kejadian keracunan makanan.
"Sampai saat ini SPPG Kaliagung belum beroperasi dan sedang dalam perbaikan fasilitas infrastruktur," ujar Aini melalui pesan singkat.