Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Jiafni Rismawarni
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Balai Adat Rajo Penghulu di Bengkulu kini berkembang menjadi destinasi wisata edukasi yang menarik perhatian masyarakat.
Awalnya, bangunan tersebut didirikan sebagai ruang musyawarah adat dan tempat diskusi budaya, namun seiring waktu bertransformasi menjadi ruang pelestarian sejarah melalui koleksi berbagai barang lawas.
Pengelola Balai Adat Rajo Penghulu, Randi Pratama, mengatakan bangunan tersebut berdiri sekitar tahun 2020 dengan fungsi utama sebagai tempat kegiatan adat.
“Awalnya bangunan ini digunakan untuk musyawarah adat, kalau ada pembahasan tentang budaya biasanya dilakukan di sini. Namun lama-kelamaan kami mulai mengumpulkan koleksi barang yang ditemukan di Bengkulu, di Sumatera, bahkan sampai Pulau Jawa,” kata Randi.
Perubahan konsep tersebut membuat balai adat tidak hanya menjadi ruang komunitas adat, tetapi juga menarik minat masyarakat umum yang ingin belajar sejarah sekaligus menikmati suasana bernuansa klasik.
Seiring bertambahnya koleksi, Balai Adat Rajo Penghulu mulai dikenal sebagai tempat wisata edukasi.
Pengunjung dapat melihat langsung berbagai benda lawas seperti koin dari berbagai era, buku-buku lama, perlengkapan adat seperti tempat sirih, hingga koleksi barang tradisional lainnya.
Baca juga: Jelang Ramadan 2026, Ratusan Masjid di Bengkulu Dibersihkan Serentak oleh Madrasah-Pegawai Kemenag
Menurut Randi, salah satu koleksi paling menarik perhatian adalah koin dari zaman VOC yang kini dipajang di lantai dua.
“Kalau yang paling tua itu ada koin dari zaman VOC. Banyak pengunjung penasaran dan ingin melihat langsung koleksi tersebut,” katanya.
Kehadiran koleksi yang beragam membuat balai adat ini menjadi ruang belajar sejarah yang berbeda, karena pengunjung dapat melihat langsung artefak masa lalu.
Balai Adat Rajo Penghulu dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga menjelang waktu maghrib.
Pengunjung hanya dikenakan biaya Rp5.000 per orang yang digunakan sebagai biaya kebersihan.
Jumlah pengunjung cenderung meningkat pada akhir pekan maupun masa libur.
Dalam sehari, pengunjung bisa mencapai sekitar 30 hingga 50 orang, dengan waktu paling ramai terjadi pada sore hari.
Dengan konsep yang memadukan fungsi adat dan wisata edukasi, Balai Adat Rajo Penghulu diharapkan dapat terus menjadi ruang pelestarian budaya sekaligus destinasi alternatif bagi masyarakat yang ingin mengenal sejarah melalui koleksi benda-benda masa lalu.
“Biasanya ramai di sore hari sekitar pukul 16.00 sampai 18.00 WIB. Banyak pengunjung datang sambil menunggu sunset,” tukasnya.