Grid.ID – Klarifikasi Taqy Malik terkait tudingan mark up harga wakaf Al-Qur'an justru menjadi bumerang. Niat hati ingin meluruskan isu harga 80 Riyal, pernyataan mantan suami Salmafina Sunan ini malah dijadikan peluru baru oleh Randy Permana untuk mematahkan argumen sang Hafiz.
Randy Permana, fotografer Indonesia yang menetap di Arab Saudi, menyoroti satu kata kunci fatal dalam klarifikasi Taqy, yakni kata 'jualan'.
Melalui unggahan Instagram Story terbarunya, Randy mempertanyakan esensi dari program wakaf tersebut. Dalam tangkapan layar berita yang diunggah Randy, Taqy Malik memberikan pernyataan.
"Kalian hitung sendiri 80 riyal itu di-convert ke rupiah Rp 360 ribu, sedangkan gue jual Rp 330 ribu," bunyi pernyataan Taqy Malik yang diunggah ulang Randy, seperti Grid.ID kutip, Senin (16/2/2026).
Kalimat inilah yang digarisbawahi merah oleh Randy. Menurutnya, pengakuan Taqy sudah jelas bahwa ia memposisikan diri sebagai penjual, bukan sekadar penyalur wakaf.
"Saya rasa sudah cukup jelas klarifikasinya, sudah beliau pertegas juga kalo jualan. Jadi apa masih perlu tabayyun/ketemu?" tulis Randy menohok di akun @paparich666.
Randy juga memberikan edukasi mengenai etika jual beli. Menurutnya, jika memang berjualan, wajar mengambil untung, namun harga yang dipatok Taqy dinilai terlalu tinggi jika dibandingkan dengan toko resmi di sekitar Masjid Nabawi yang sudah jelas memiliki stok barang.
"Tapi setidaknya menurut keyakinan saya kalo orang jualan itu sudah punya barangnya, dan dijual lebih tinggi harganya wajar. Seperti toko-toko di sekitar Masjid Nabawi," tambahnya.
Tak hanya soal definisi "jualan", Randy juga mengungkapkan alasan utamanya berani speak up. Ia merasa kasihan pada umat Muslim yang berniat sedekah, terutama menjelang bulan suci Ramadan.
Randy membuat simulasi hitungan sederhana yang menohok logika. Dengan adanya dugaan mark up harga yang tinggi, jumlah mushaf yang diwakafkan menjadi lebih sedikit, sehingga pahala yang mengalir pun otomatis berkurang.
"Menjelang Ramadhan, banyak umat muslim berlomba-lomba dalam bersedekah khususnya di Tanah Suci. Yang seharusnya duit 1 juta bisa dapet 5/6 pcs pahala mushaf, kenapa cuma jadi 3 pcs pahala mushaf?" sentil Randy.
Ia menyayangkan dana umat yang seharusnya bisa menghasilkan lebih banyak Al-Qur'an untuk dibaca jamaah, malah terpangkas oleh margin keuntungan yang besar. Dalam unggahannya, Randy pun mengingatkan kembali soal aturan ketat di Arab Saudi.
"Dan paling penting di Saudi akan makin ketat secara aturan karena kondisi yang crowded," tulisnya.
Hal ini selaras dengan pernyataan Randy sebelumnya, di mana ia menyebut Taqy Malik pernah dicari-cari polisi Madinah pada Ramadan tahun lalu akibat aksi berbagi yang tidak sesuai prosedur. Randy khawatir jika praktik penggalangan dana atau "jualan" wakaf ini terus dilakukan tanpa transparansi dan izin resmi, akan membahayakan WNI yang tinggal di sana.
Menutup unggahannya, Randy kembali menegaskan bahwa ia tidak takut jika dilaporkan atau dianggap menyebar fitnah, selama data yang ia pegang benar.
"Saya siap menerima segala konsekuensinya jika apa yang saya sampaikan terbukti omong kosong," pungkasnya.

Sebelumnya, Randy juga telah membocorkan bukti chat lawas di mana Taqy Malik menawar harga mushaf di angka 25 Riyal (sekitar Rp 100 ribu), yang semakin memperkuat dugaan adanya selisih harga yang fantastis dengan harga jual Rp 330 ribu ke jamaah.