Ibunda Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Turut Diteror Orang Tak Dikenal
Joko Widiyarso February 16, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tidak hanya Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto yang mendapat teror, ibunda Tiyo juga diduga turut diintimidasi.

Orang tidak dikenal itu juga disebut telah mengirimkan pesan lewat WhatsApp (WA) pada 14 Februari 2026 ibunda Tiyo, 

Inti dari pesan tersebut menyebutkan bahwa Tiyo dituduh hobi menggelapkan dana kampus agar dapat setoran.

Teror terhadap Tiyo muncul setelah ia mengirimkan surat terbuka kepada Nations Children's Fund (UNICEF) pada 6 Februari 2026 lalu.

Surat terbuka kepada UNICEF itu merupakan respons BEM UGM atas tragedi seorang siswa di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal dunia karena bunuh diri.

Terkait hal itu, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta turut bersuara atas intimidasi berupa teror terhadap Tiyo dan sang ibu.

Kritik adalah hal umum

Direktur LBH Yogyakarta, Julian Duwi Prasetia menyebut, apa yang dilakukan Tiyo merupakan bentuk ekspresi dan bentuk kritik terhadap kebijakan negara yang sebenarnya merupakan hal umum

Menurutnya, negara seharusnya memberikan perlindungan kepada Tiyo maupun keluarganya, karena itu sudah menjadi bagian dari kewajiban negara.

"Sehingga negara harus aktif mencari siapa yang melakukan intimidasi, serta memberikan perlindungan serta rasa aman kepada keluarga Tiyo," tegas Julian saat dihubungi, Senin (16/2/2026).

Julian juga menanggapi isi teror terhadap Tiyo yang arahnya nyaris menjurus pada upaya pencemaran nama baik.

"Sepanjang tuduhan itu tidak benar Tiyo berhak mendapatkan perlindungan hukum, termasuk punya hak untuk melapor," ungkapnya.

Dia menegaskan, LBH Yogyakarta akan terus menyuarakan penolakan upaya-upaya pembungkaman yang dilakukan pemerintah.

"Kami akan turut menyuarakan jika yang diserang adalah kebebasan ekspresi dan berpendapat," tegas Julian.

Awal teror terhadap Tiyo 

Sebagai informasi, Tiyo mendapat teror melalui aplikasi WhatsApp (WA) dari nomor asing. 

Pesan tersebut terus-menerus masuk, berisi: “Agen asing”, “Culik mau?”, “Jangan cari panggung jadi tongkosong”, “Cari dosamu entr” “Banci” “Jangan cari panggung loe ya jual narasi sampah”. 

Pesan itu masuk dari nomor yang sama, namun dikirim dalam waktu yang berbeda-beda. 

Pertama kali, teror itu diterima Tiyo pada Senin (9/2). Ada sekitar enam nomor asing yang terus menghubunginya, tetapi tidak ditanggapi.

Tidak hanya teror pesan, mahasiswa Fakultas Filsafat UGM itu juga dikuntit oleh dua orang tidak dikenal dan difoto dari kejauhan. 

Sayangnya, dua sosok bertubuh tegap itu hilang ketika dikejar.

Teror itu diterima setelah BEM UGM mengirimkan surat ke Nations Children’s Fund (UNICEF), Jumat (6/2/2026). 

Surat itu dikirimkan karena melihat ironi di Tanah Air. Kala itu seorang anak di Ngada, NTT, memilih untuk mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli pulpen dan buku, padahal negara hendak menggelontorkan Rp16,7 triliun untuk iuran keanggotaan Board of Peace (BoP) besutan Donald Trump.

Pemerintah juga menggelontorkan dana Rp1,2 triliun per hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) sepanjang tahun ini. 

Langkah UGM

Sementara itu, peristiwa teror kepada Ketua BEM UGM tersebut juga sudah diketahui oleh pihak kampus.

Pihak Kampus juga berkomitmen untuk melindungi civitas akademikanya, jika terjadi teror yang sifatnya mengancam keselamatan.

Juru Bicara Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Dr I Made Andi Arsana, menyatakan pimpinan universitas telah melakukan komunikasi dengan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM, Tiyo Ardianto, yang mendapatkan teror dari orang tak dikenal.

Kampus kemudian menugaskan Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) untuk melakukan pemantauan dan perlindungan yang diperlukan. 

“Pada prinsipnya, atas nama institusi dan berdasarkan konstitusi, UGM berkewajiban melindungi seluruh civitas akademika UGM dari ancaman atau teror yang berasal dari mana pun,” jelas Made Andi, dalam keterangan resminya, Minggu (15/2/2026).

Dikonfirmasi terpisah, Tiyo Ardianto membenarkan sudah ada komunikasi dengan pihak universitas terkait upaya perlindungan terhadap dirinya.

“Sementara baru koordinasi intens,” jawabnya, soal bentuk perlindungan seperti apa yang diberikan kampus. 

Pemerintah harus ubah pola pikir

Selain itu, Rektor Universitas Islam Indonesia (UII), Fathul Wahid, turut buka suara menanggapi teror yang diterima Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto.

Fathul menyebut pemerintah harus mengubah pola pikir dalam menghadapi kritik dari rakyat, termasuk dari kalangan aktivis dan mahasiswa. 

Menurut dia, teror yang dialami oleh Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, merupakan bentuk pembungkaman yang juga melawan konstitusi. 

“Kritis itu bukan dosa. Dan bersikap kritis itu dijamin oleh konstitusi. Jadi setiap pembungkaman terhadap kritik itu melawan konstitusi. Sehingga justru negara harus mengubah pola pikirnya. Warga negara yang kritis itu justru harus didorong,” katanya usai Workshop Penguatan Kapasitas Pengelolaan Perguruan Tinggi di Universitas Islam Al-Azhar, Senin (16/2/2026). 

“Apalagi dari anak-anak muda kan, mereka punya wawasan segar, berharap Indonesia lebih bermartabat ke depannya. Yang seperti ini harusnya dirawat. Jangan sampai malah dibungkam, diancam, ada teror, dan lain-lain. Ini menurut saya melanggar konstitusi karena kebebasan untuk berekspresi sudah dibatasi,” sambungnya. 

Kritik adalah pengingat

Fathul menilai kritik yang disampaikan oleh rakyat merupakan pengingat bagi penyelenggara negara. 

Sebab tidak ada yang bisa menjamin penyelenggara negara selalu pada relnya. 
 
“Jadi jangan sampai yang berseberangan itu dianggap lawan. Ini pola pikir yang harus diubah. Itu ketakutan yang berlebih,” lanjutnya. 

Ia pun mendorong mahasiswa, termasuk UII untuk bersikap kritis dalam menghadapi persoalan bangsa.

Kritik yang disampaikan mahasiswa merupakan tanggung jawab moral sebagai warga negara agar negaranya lebih baik. 

“Jadi jangan dianggap musuh (mahasiswa mengkritik). Jangan sedikit-sedikit dikasih stempel yang tidak menyenangkan itu,” jelasnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.