Anak Yatim Penjual Koran Pimpin Pondok Pesantren, KH. Tol’at Wafa Bicara Masa Depan Umat
tarso romli February 16, 2026 08:27 PM

 

SRIPOKU.COM, INDRALAYA - Apakah umat Islam hari ini sedang menuju cahaya atau justru berjalan pelan menuju kegelapan? 

Pertanyaan reflektif itu menjadi pembuka perbincangan bersama K.H. Tol'at Wafa Ahmad, Lc, Mudir Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga, Kecamatan Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir, Kamis (12/2/2026) sore.

Di sebuah pondok kayu di tepi Danau Telok Putih, K.H Tol'at Wafa tidak hanya berbicara tentang pesantren, tetapi juga tentang kegelisahan zaman, generasi muda, dan tanggung jawab ulama dalam menjaga arah umat.

Yatim Sejak Usia Dua Tahun

Di usianya yang ke-67 tahun, kiai kelahiran 15 Maret 1958 itu mengawali kisah hidupnya dari titik yang sederhana. Ayahnya wafat ketika ia baru berusia dua tahun. Sang ibu, seorang petani, membesarkannya dengan keterbatasan.

“Waktu itu saya tidak punya gambaran mau jadi apa. Yang penting sekolah,” kenangnya.

Saat duduk di SD Negeri 87 Palembang, ia sudah terbiasa bekerja sambil belajar. 

Ia menjual koran di sekitar Masjid Agung Palembang, berjualan pempek di kampung-kampung, juga membuat dan menjual layangan.

“Saya enjoy saja. Tidak gengsi. Itu bagian dari belajar hidup,” ujarnya.

Gontor, Madinah dan Pulang ke Kampung

Tahun 1969 menjadi titik balik. Ia berangkat ke Pondok Modern Darussalam Gontor dan menempuh pendidikan selama enam tahun. 

Selepas itu, ia sempat mengabdi dan kuliah di Gontor sebelum mendapatkan beasiswa ke Universitas Islam Madinah.

Empat tahun di Madinah membentuk perspektif globalnya. 

Ia bahkan sempat bertugas di Atase Agama Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta. Namun pada usia 27 tahun, ia memilih pulang ke kampung halaman.

“Banyak yang menyarankan saya bertahan di Jakarta. Tapi setelah istikharah, saya yakin harus pulang,” katanya.

Sejak 1986, ia memimpin Raudhatul Ulum Sakatiga dan membangun sistem pendidikan 24 jam berbasis asrama. 

Tentu saja terinspirasi dari Gontor.

Krisis Kader

Ketika ditanya apakah umat sedang baik-baik saja, jawabannya reflektif.

“Bisa iya, bisa tidak,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar umat saat ini bukan sekadar kemiskinan atau politik, melainkan krisis kader.

“Kita belum sungguh-sungguh menyiapkan generasi penerus misi kenabian,” katanya.

Ia melihat banyak anak muda bercita-cita menjadi pejabat atau orang kaya, namun sedikit yang bercita-cita menjadi ulama atau intelektual berintegritas.

“Seakan-akan alumni pesantren hanya jadi juru doa. Padahal faktanya banyak alumni pesantren memimpin organisasi dunia,” tegasnya.

Gen Z dan Pertarungan Popularitas 

KH Tol’at Wafa juga menyoroti fenomena generasi Z.

Menurutnya, media sosial menghadirkan pertarungan antara kesederhanaan pesantren dan budaya popularitas instan.

“Pesantren mengajarkan kedalaman ilmu. Dunia menawarkan kecepatan dan viralitas. Ini pertarungan sengit,” ujarnya.

Namun ia menolak sikap mundur dari modernitas.

“Hidup ini kompetitif. Bukan dihindari, tapi dimenangkan,” katanya.

Ia menegaskan, pesantren harus adaptif tanpa kehilangan jati diri. 

Menjelang akhir perbincangan, KH Tol’at Wafa berbicara tentang satu hal yang ingin ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah, yakni kaderisasi.

Ia membedakan antara “anak biologis” dan “anak ideologis”, yakni para santri dan guru yang ia bina.

“Yang ditanya Allah bukan gelar kita, tapi apa yang kita kerjakan dengan ilmu yang diberikan,” katanya.

Ia telah menyiapkan generasi penerus, termasuk putra dan menantunya yang sedang melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral.

“Patah tumbuh hilang berganti. Itu hukum perjuangan,” ujarnya.

Bagi KH Tol’at Wafa, perubahan zaman bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Yang berbahaya adalah kehilangan arah. 

“Setiap yang punya awal pasti punya akhir.

Yang penting ketika kita diberi ilmu, kita menghasilkan karya dan kader,” pesannya.

Baca juga: Breaking News: Ikan Paus Raksasa 10 Meter Lebih Terdampar di Sungai di OKI, Warga Ramai Swafoto

Baca juga: Nyadap Karet yang Terendam Sebatas Pinggang, Warga Desa Muara Burnai 2 OKI Ditemukan Tenggelam

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.