TRIBUNGAYO.COM - Awal puasa Ramadhan 1447 H/2026 M diperkirakan jatuh pada Kamis (19/2/2026).
Namun, resminya menunggu dari Menteri Agama setelah dilakukan pemantauan hilal dan sidang isbat yang akan berlangsung, Selasa (17/2/2026).
Menjelang bulan suci Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri lahir dan batin.
Saling bermaaf-maafan antar sesama agar ibadah puasa dijalankan dengan hati yang bersih dan lapang.
Selain itu, ada amalan yang kerap dilakukan menjelang bulan Ramadhan yaitu mandi sunnah atau mandi keramas.
Meski bukan kewajiban, mandi sunnah jelang Ramadhan menjadi tradisi yang dianjurkan oleh para ulama sebagai bentuk kesiapan menjalani ibadah puasa.
Dalam kajian fikih, mandi keramas atau mandi sunnah menjelang Ramadhan dimaksudkan sebagai bentuk penyucian diri serta kesiapan dalam menyambut ibadah puasa yang penuh keberkahan.
Mandi sunnah jelang puasa Ramadhan dapat dilakukan pada sore hari menjelang Magrib, tepat sebelum malam pertama Ramadhan dimulai.
Selain itu, mandi ini juga boleh dilakukan pada malam hari hingga sebelum terbit fajar di hari pertama puasa.
Para ulama menjelaskan bahwa waktu tersebut dipilih agar seseorang telah berada dalam keadaan suci ketika memasuki malam pertama Ramadhan, sehingga lebih siap menjalankan ibadah seperti salat tarawih dan sahur.
Berikut bacaan niat doa mandi sebelum memasuki bulan Ramadhan:
Nawaitu adâ'al ghuslil masnûni lî fî hadzihil lailatil min romadhan lillâhi ta'âlâ.
Artinya: Sahaja Aku berniat menjalankan mandi yang disunnahkan kepadaku pada malam ini di bulan Ramadhan karena Allah Ta'ala.
Dikutip dari berbagai sumber, memang ada anjuran untuk mandi menjelang puasa Ramadhan.
Kendati demikian, ini bukan mandi wajib saat berhadas tetapi mandi sunnah yang dianjurkan pada setiap memasuki bulan puasa Ramadhan.
Seperti yang dijelaskan dalam kitab Hasyiyah al-Bajuri (1/81),
"Dan sisa mandi-mandi yang disunahkan telah disebutkan dalam kitab-kitab yang panjang pembahasannya di antaranya membersihkan badan karena hendak memasuki kota Madinah, ..., dan setiap malam di bulan Ramadhan.
Imam Al-Adzrai hanya membatasi pada orang yang hendak menghadiri berjemaah, sementara menurut pendapat yang kuat tidak ada pembatasan dalam hal itu."
Jadi, tidak ada keharusan untuk mandi wajib menjelang puasa di bulan Ramadhan karena tidak ada rukun atau syaratnya.
Tapi jika dilakukan pun tidak ada salahnya. Karena dengan melakukan mandi sebelum puasa Ramadhan akan menambah kekhususan umat menjelang masuknya bulan Ramadhan.
Mandi ini juga sebagai bentuk umat Islam mensucikan dirinya dan bersiap memasuki bulan Ramadhan yang suci ini.
1. Membaca Niat
Membaca niat ini bisa diungkapkan dalam hati. Namun, lebih baik jika mampu melafalkan secara lisan.
2. Membasuh seluruh bagian luar tubuh, termasuk rambut dan bulu
Untuk bagian tubuh yang berbulu, air harus dapat mengalir ke kulit bagian dalam dan ke pangkal rambut/bulu.
Terkait tentang niat, Ustadz Abdul Somad atau UAS dalam kajiannya menjelaskan bahwa, sangat dilarang menyebut nama Allah atau melafazkan niat mandi di dalam kamar mandi yang terdapat WC-nya.
“Apakah sah mandi di tempat ada (di dalam kamar mandi) WCnya? Sah, tidak jadi masalah. Hanya saja tidak boleh menyebut nama Allah di dalam (kamar mandi yang ada WCnya),” jelas UAS.
Karena itu, kata UAS, apabila ingin melaksanakan mandi yang di dalam kamar mandi ada WC, maka cukup diniatkan dalam hati saja kemudian mengguyur air ke seluruh badan.
“Tapi kalau tidak ada (WC-nya) baca (lafazkan) niat. Kalau ada, cukup di hati saja,” jelas UAS.
Adapun cara mandi sunah ini pengerjaannya sama seperti mandi wajib orang yang berhadas.
Mandi sunnah atau mandi wajib dapat dibagi menjadi dua.
Pertama, mandi biasa, yaitu meratakan air ke seluruh tubuhnya, termasuk berkumur dan membersihkan hidung.
Jika seseorang menyiramkan air secara merata ke seluruh tubuhnya maka sempurnalah kesuciannya.
Kedua, mandi yang sempurna, yaitu mandi seperti mandinya Rasulullah SAW.
Kendati demikian, cara mandi dengan meniatkannya dan mengguyurkan air keseluruh tubuh adalah benar dan sah.
Akan tetapi telah meninggalkan beberapa sunah yang tidak berpengaruh bagi keabsahan mandi.
Penjelasannya adalah bahwa mandi sunnah itu ada yang sempurna dan ada yang sekedar sah.
Adapun yang sekedar sah, maka cukup bagi seseorang melakukan yang wajib saja tanpa melakukan perkara-perkara sunah.
Cukup baginya niat bersuci, kemudian merataka air ke seluruh tubuh dengan berbagai cara, apakah di bawah shower atau berendam di sungai dan semacamnya, disertai dengan berkumur dan memasukkan air ke hidung.
Adapun mandi yang sempurna adalah dengan melakukan seperti yang dilakukan Rasulullah SAW, yaitu dengan melakukan seluruh sunah-sunah mandi.
Imam al-Ghazali dalam Bidayatul Hidayah menjelaskan tata cara mandi yang sempurna dan sah adalah:
1. Saat memasuki kamar mandi, mulailah membasuh kedua telapak tangan terlebih dahulu.
2. Membersihkan segala kotoran yang menempel di tubuh termasuk membasuh kemaluan
3. Berwudhu sebagaimana tata cara wudhu sebelum shalat
4. Membaca Niat lalu mengguyur seluruh badan dari kepala hingga kaki sebanyak 3 kali
5. Menggguyur bagian badan sebelah kanan hingga tiga kali, kemudian bagian badan sebelah kiri juga hingga tiga kali.
6. Menggosokkan tangan ke seluruh badan, dan dimulai dari bagian badan sebelah kanan lalu mengguyur air secara merata.
7. Pindah dari tempat berdiri, lalu kemudian membasuh kedua kaki dengan air. Hal ini dilakukan karena dikhawatirkan bagian dalam telapak kaki tidak terkena air. (*)
Baca juga: Pemerintah Tetapkan Libur Sekolah Idul Fitri 2026 Selama Dua Minggu
Baca juga: Niat Sahur Puasa Ramadhan 1447 H, Lengkap Arab Latin dan Terjemahan
Baca juga: Puasa Tetap Aman bagi Penderita Diabetes, Jaga Batas Gula Darah Diangka Ini