TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Tradisi Dugderan kembali digelar untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan, Senin (16/2/2026). Prosesi yang sarat nilai sejarah dan budaya ini merupakan rekonstruksi tradisi yang telah berlangsung sejak tahun 1881.
Sekretaris Ketakmiran Masjid Agung Semarang, Muhaimin menjelaskan, Dugderan merupakan upaya menghidupkan kembali tradisi penetapan awal Ramadan yang dahulu dilakukan berdasarkan hasil rukyatulhilal.
"(Dugderan) Diawali pada tahun 1881. Waktu itu pemerintahan Kabupaten Semarang dipimpin oleh Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat. Nah, mengapa terjadi Dugderan? Itu karena sering terjadi perbedaan penetapan awal Ramadan," kata Muhaimin di sela tradisi Dugderan, Senin (16/2/2026).
Baca juga: Hal Berbeda Dugderan 2026, Anak-anak Ikut Kirab Denga Rute Khusus
Ia menjelaskan, saat itu Bupati memiliki inisiatif mengutus petugas khusus untuk melakukan rukyatulhilal pada 29 Syaban.
"29 Syaban itu batas rukyah. Kalau saat rukyat hilal terlihat, ya langsung puasa (masuk bulan Ramadan). Kalau belum terlihat, maka dilakukan istikmal menjadi 30 hari Syaban," jelasnya.
Muhaimin menambahkan, jika saat ini perbedaan penetapan awal Ramadan umumnya terjadi antara metode hisab dan rukyah, pada masa pemerintahan Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat perbedaan justru terjadi di kalangan perukyah sendiri.
"Kalau sekarang penetapan awal Ramadan juga beda, tapi berbeda antara hisab dan rukyah. Tapi zaman dahulu ketika Raden Mas Tumenggung memerintah di Semarang ini perbedaannya sesama rukyah pun berbeda. Yang satu mengatakan sudah melihat, yang satu mengatakan belum melihat. Sehingga awal Ramadan sering terjadi perbedaan karena keyakinan yang satu sudah melihat, yang satu belum melihat," katanya.
Untuk menyatukan penetapan tersebut, lanjutnya, Raden Mas Tumenggung kemudian mengutus utusan khusus guna melakukan rukyah di sejumlah titik. Di antarantmya melalui menara di laut atau mercusuar yang dinilai paling efektif untuk melihat hilal.
Setelah melihat hilal, utusan tersebut melaporkan hasilnya kepada para kiai yang telah berkumpul di Masjid Agung Semarang, yang pada masa itu dikenal sebagai Masjid Besar Semarang.
"Kemudian dari situlah utusan tadi melalui proses menerangkan di mana letaknya lihat bulan, ada kemudian disumpah juga. Setelah itu semua proses dilakukan, kemudian ada yang melaporkan kepada Kanjeng Bupati," terangnya.
Muhaimin memaparkan, jika hilal terlihat, penetapan awal Ramadan diumumkan melalui bunyi beduk di Masjid Agung yang menghasilkan suara "dug" dan dentuman meriam di Kanjengan, kantor Bupati Semarang pada masa itu, yang berbunyi "der".
"Kalau zaman dulu itu dibunyikan dulu bunyi beduk dan bunyi meriam, supaya orang kumpul itu dibunyikan itu. Karena waktu itu kan belum ada medsos, belum ada televisi dan sebagainya. Paling mudah ya pakai suara. Jadi bagaimana supaya masyarakat kumpul? Dibunyikan bunyi beduk di masjid. 'Dug', 'dug', 'dug' 'dug', lalu di Kanjengan itu dibunyikan bunyi meriam. 'Duer', 'der', 'der'. Dari sini (terdengar) 'dug der', 'dug der' menjadi Dugderan," jelasnya.
Dia memaparkan, tradisi tersebut juga menjadi sarana mengumpulkan masyarakat di alun-alun untuk mendengarkan pengumuman resmi hasil rukyat yang disebut Suhuf Halaqah. Setelah diumumkan, masyarakat pun mengetahui secara resmi dimulainya bulan Ramadan.
"Karena ada suara itu, masyarakat kumpul. Masyarakat kumpul kemudian dibacakanlah Suhuf Halaqah," jelasnya.
Sementara itu, pada Dugderan yang digelar ini, setelah prosesi pemukulan beduk, panitia membagikan ribuan kue ganjel rel kepada warga. Muhaimin memaparkan, kue ganjel rel memiliki filosofi, di mana kata "ganjel" dan "rel" dimaknai sebagai pengingat agar saat memasuki bulan puasa, hati tidak ‘mengganjal’, melainkan rela dan menerima dengan baik.
Ribuan warga pun tampak antusias dan rela berdesakan demi mendapatkan kue Khas Semarang tersebut. Mereka datang sejak siang hingga bedug dipukul Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng pada pukul 17.00 WIB. (idy)