TRIBUNKALTARA.COM, NUNUKAN – Siapa sangka, delapan buku dan sebuah ruang terbuka di sudut desa menjadi awal lahirnya sebuah taman baca masyarakat (TBM) yang kini memberi dampak nyata bagi anak-anak di wilayah perbatasan, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara).
TBM tersebut didirikan Amran dan Nurul Afiqah sebagai founder, serta Abdul Wahid selaku pembina.
TBM Patok Dua (TBM Padu) terletak di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Kaltara, tak jauh dari patok perbatasan RI-Malaysia.
Inisiatif ini bermula dari pelatihan pemanfaatan buku bermutu yang diselenggarakan Inovasi dan Litara Foundation.
Baca juga: Taman Baca Masyarakat di Malinau Berkembang Pesat, Ada 91 Komunitas dan Didukung 700 Pegiat
Berbekal semangat literasi, keduanya mulai mengajak anak-anak belajar membaca dan bermain dengan buku di ruang terbuka sekitar desa, sambil menjalin kerja sama dengan komunitas literasi, sekolah dan PAUD terdekat.
"Buku bermodalkan dari pelatihan saja, jumlahnya ada 8 buku dan 2 buku besar dari Litara," kata Ketua TBM Padu, Amran kepada TribunKaltara.com, Senin (16/2/2026).
Tiga bulan pertama berjalan, kegiatan TBM Padu mendapat dukungan warga yang secara sukarela meminjamkan sebuah ruangan untuk aktivitas belajar.
Dukungan terus mengalir, hingga tujuh bulan kemudian TBM memperoleh bantuan Program Sosial Bank Indonesia berupa sarana pendukung pembelajaran, seperti meja belajar dan rak buku.
Seiring waktu, kolaborasi semakin luas.
TBM Padu aktif bekerja sama dengan berbagai instansi dan lembaga, mulai dari tingkat desa, sekolah, hingga universitas.
Sejumlah program literasi dan edukasi pun telah dijalankan, di antaranya pemanfaatan 1.000 buku bantuan Perpustakaan Nasional melalui program Goes to School, Kelas Ceria bersama Universitas Borneo Tarakan, Komunitas Penggerak Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBP) dari Bank Indonesia.
Pemanfaatan laman Penjaring milik Badan Bahasa, Sekolah Enuma dari Litara Foundation, hingga advokasi perubahan iklim bersama Inovasi.
Baca juga: TBM PADU Sebatik Jadi Inspirasi Nasional, Jawab Tantangan Literasi, Iklim dan Anak Tidak Sekolah
Namun perjalanan TBM Padu tidak selalu mulus. Dampak relokasi permukiman di wilayah perbatasan membuat TBM harus berpindah lokasi.
Kini sementara beraktivitas di kediaman Ketua RT setempat, Amran yang juga merupakan ketua TBM Padu.
Meski demikian, semangat para penggiat tak surut.
Saat ini, TBM tersebut digerakkan 13 anggota, terdiri dari pelajar SMA hingga ibu rumah tangga, yang secara sukarela terlibat dalam berbagai kegiatan literasi dan edukasi anak.
Anak-anak yang aktif belajar berkisar 40 hingga 60 anak.
"Anak-anak yang ikut belajar biasanya 40 sampai 60 orang," kata Amran.
Berbagai prestasi dan pencapaian pun berhasil diraih. TBM ini kerap mengisi kegiatan literasi di dalam maupun luar Kabupaten Nunukan.
Para pegiatnya pernah menjadi peserta pertemuan pemangku kepentingan tingkat nasional, Diseminasi Nasional Badan Bahasa, serta terlibat dalam Kampanye Book for All di Bogor dan kegiatan Kumbang yang diselenggarakan WWF Indonesia.
Baca juga: Nunukan Terima 117.460 Buku Hibah dari Kemendikbudristek, Dimanfaatkan Guru dan Pegiat TBM
Tak hanya itu, TBM Padu juga menorehkan prestasi dengan masuk sebagai finalis Duta Baca Kabupaten Nunukan dan finalis Komunitas Penggerak CBP Rupiah.
Para pegiat juga kerap diundang menjadi narasumber di RRI Nunukan dan Tarakan, serta dalam berbagai gelar wicara dan acara showcase bertema pemanfaatan buku bacaan anak.
Belum lama ini, TBM Padu juga mendapatkan bantuan berupa keramik untuk ruang belajar dari Ketua TP PKK Kabupaten Nunukan, Ny Andi Annisa Muthia Irwan Sabri.
Dari delapan buku sederhana, TBM Padu kini menjelma menjadi ruang belajar, ruang tumbuh, dan ruang harapan bagi anak-anak di perbatasan membuktikan literasi bisa lahir dan bertahan dari semangat gotong royong masyarakat.
(*)
Penulis: Fatimah Majid