Jelang Imlek 2026, Ini 3 Alasan Mengapa Tahun Baru Imlek Identik dengan Hujan
Siti M February 16, 2026 10:34 PM

Grid.ID - Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek 2026, banyak masyarakat kembali mempertanyakan satu hal yang hampir selalu terjadi setiap tahunnya. Yakni mengapa Imlek identik dengan turunnya hujan?

Fenomena ini bukan sekadar kebetulan. Ada faktor ilmiah, budaya, hingga sejarah agraris yang membuat perayaan Tahun Baru China kerap bertepatan dengan cuaca basah. Berikut penjelasannya.

1. Imlek Bertepatan dengan Puncak Musim Hujan

Secara klimatologis, jelang Tahun Baru Imlek 2026 yang biasanya jatuh pada akhir Januari hingga bulan Februari memang berada di periode puncak musim hujan di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal tahun merupakan masa dengan intensitas curah hujan yang relatif tinggi di berbagai wilayah Tanah Air. Tak heran jika suasana Imlek kerap diwarnai hujan, udara lembap, dan langit mendung.

Selain itu, faktor angin muson timur laut yang bergerak melalui Laut Cina Selatan turut memengaruhi kondisi cuaca. Angin ini membawa massa udara basah yang meningkatkan potensi hujan serta membuat suhu udara cenderung lebih sejuk, berkisar antara 22 hingga 30 derajat Celsius.

Kombinasi faktor tersebut menjadikan perayaan Imlek identik dengan atmosfer dingin dan hujan yang turun hampir setiap tahun.

2. Hujan Dipercaya sebagai Simbol Rezeki dan Keberuntungan

Di luar faktor cuaca, terdapat pula kepercayaan budaya yang berkembang di masyarakat Tionghoa. Dalam sejumlah tradisi, hujan diyakini sebagai pertanda baik.

Beberapa literatur budaya menyebutkan bahwa hujan yang turun menjelang atau saat rangkaian perayaan Imlek, termasuk Cap Go Meh, dipercaya membawa berkah dan kelimpahan rezeki.

Air hujan dimaknai sebagai simbol kehidupan, kesuburan, serta pembuka jalan bagi keberuntungan di tahun yang baru. Karena itu, sebagian masyarakat justru berharap turunnya hujan saat Imlek sebagai pertanda positif.

Makna simbolis ini membuat hujan tidak lagi dipandang sebagai gangguan perayaan, melainkan bagian dari harapan dan doa di awal tahun.

3. Berkaitan Erat dengan Tradisi Pertanian Kuno

Hubungan antara Imlek dan musim hujan juga tidak terlepas dari sejarah panjang masyarakat Tionghoa yang hidup dalam budaya agraris.

Pada masa lampau, mayoritas masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Kalender lunar Tiongkok, yang juga dikenal sebagai kalender pertanian, digunakan untuk menentukan waktu tanam, panen, serta berbagai aktivitas bercocok tanam.

Tahun Baru Imlek menandai dimulainya siklus baru dalam kalender tersebut. Periode ini kerap beriringan dengan turunnya hujan pertama di awal tahun, yang menjadi tanda dimulainya musim tanam.

Hujan dipandang sebagai simbol kesuburan tanah dan harapan akan panen melimpah. Inilah yang membuat Imlek secara historis selalu dikaitkan dengan air, hujan, dan awal kehidupan baru.

Hujan dan Imlek, Simbol Awal yang Penuh Harapan

Dari sisi ilmiah, budaya, hingga sejarah pertanian, ada benang merah yang menjelaskan mengapa Imlek identik dengan hujan. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan musiman, tetapi juga sarat makna filosofis.

Bagi sebagian masyarakat Tionghoa, hujan saat Imlek bukan hanya fenomena cuaca, melainkan simbol berkah, rezeki, serta pembuka lembaran baru yang penuh harapan di tahun yang akan datang. Itulah beberapa hal yang mungkin baru diketahui sebagian orang menjelang Imlek 2026 terkait mengapa tahun baru China itu selalu identik dengan hujan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.