TRIBUNNEWS.COM – Kekacauan internal yang melanda Olympique de Marseille dalam sepekan terakhir kini menimbulkan tanda tanya besar terhadap masa depan Mason Greenwood di klub raksasa Liga Prancis tersebut.
Situasi di Marseille berubah drastis setelah pelatih kepala Roberto De Zerbi memutuskan angkat kaki, menyusul kekalahan telak 0-5 dari Paris Saint-Germain (PSG) beberapa pekan lalu.
Kepergian De Zerbi menandai awal dari gejolak yang semakin membesar di internal klub.
Masalah Marseille tidak berhenti pada kepergian De Zerbi. Beberapa hari berselang, direktur olahraga klub, Mehdi Benatia, juga mengundurkan diri dari jabatannya.
Dalam pernyataan resminya, Benatia mengakui bahwa pengunduran dirinya dipicu oleh kegagalan komunikasi dan ketegangan internal yang terus meningkat.
“Sejak tiba di klub ini, saya selalu bertindak dengan sepenuh hati dan satu obsesi: mengembalikan Olympique de Marseille ke tempat yang seharusnya,” ujar Benatia, dikutip dari Mirror.
Ia menegaskan bahwa Marseille masih memiliki peluang besar untuk lolos ke Liga Champions dan meraih trofi Coupe de France, namun situasi internal yang tidak kondusif membuatnya memilih mundur.
“Saya merasakan ketidakpuasan yang semakin meningkat dan kegagalan komunikasi yang sangat saya sesalkan. Di Marseille, hasil adalah satu-satunya ukuran yang sesungguhnya,” tambahnya.
“Oleh karena itu, saya mengajukan pengunduran diri karena klub akan selalu lebih penting daripada individu. Saya tidak ingin kehadiran saya menjadi beban bagi organisasi dan perkembangan klub," jelasnya.
Baca juga: MU Cari Duplikat McTominay, INEOS Siapkan Dana Rp919 Miliar demi Tebus Marcos Llorente
Menurut laporan L’Equipe, hubungan antara Benatia dan Greenwood dikabarkan memburuk sejak lama.
Keduanya disebut saling mengabaikan, dengan Benatia menjadi salah satu kritikus paling vokal terhadap Greenwood, baik terkait performa maupun sikap sang pemain di luar lapangan.
Laporan tersebut juga mengklaim bahwa Greenwood dianggap kurang menjalankan tanggung jawab komersial klub pada musim panas lalu, sebuah hal yang membuat mantan bek Bayern Munich dan Juventus itu geram.
Ironisnya, konflik tersebut terjadi di tengah performa Greenwood yang sangat impresif. Penyerang berusia 24 tahun itu telah mencetak 23 gol di semua kompetisi musim ini, menjadikannya salah satu aset paling berharga Marseille.
Namun, atmosfer klub yang memanas dan ketidakpastian arah proyek pasca kepergian De Zerbi serta Benatia berpotensi mendorong Greenwood untuk mencari tantangan baru di luar Prancis.
Jika Greenwood benar-benar meninggalkan Marseille, Manchester United berpeluang meraup keuntungan besar.
Saat menjual Greenwood ke Marseille pada tahun 2024, Setan Merah menyertakan klausul penjualan kembali dalam kesepakatan tersebut.
Marseille disebut telah mematok harga £60 juta (sekitar Rp1,3 triliun) untuk Greenwood, dua tahun setelah membelinya dengan biaya sekitar £26,7 juta (sekitar Rp612 miliar).
Minat terhadap sang pemain pun terus mengalir, dengan Barcelona dilaporkan menjadi salah satu peminat serius selama setahun terakhir.
Jika klausul tersebut dihitung berdasarkan keuntungan bersih penjualan, Manchester United berhak atas 40 persen dari laba Marseille, setelah dikurangi 20 persen untuk Getafe.
Dengan skenario tersebut, United berpotensi mengantongi sekitar £10,66 juta (sekitar Rp244 miliar).
Dengan dua figur kunci manajemen telah pergi dan ketidakjelasan proyek jangka pendek Marseille, masa depan Mason Greenwood kini menjadi salah satu isu terbesar di Ligue 1.
Apakah Marseille akan mempertahankan aset berharganya di tengah kekacauan, atau justru melepas Greenwood demi menstabilkan kondisi klub.
Sementara Manchester United menunggu keuntungan di balik layar dan akan menjadi salah satu cerita transfer paling panas pada musim panas mendatang.
(Tribunnews.com/Ali)