TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Inilah cerita Wil Hariyanto (50), pencari cacing sutra di Sungai Sail, sukses sekolahkan tiga anak dari pekerjaannya yang jarang diketahui orang kebanyakan.
Ia bekerja setengah hari, dengan pendapatan nyaris Rp 4 juta per bulan.
Senin 16 Februari 2026 sekira pukul 10.00 WIB. Matahari telah tinggi. Cahayanya menerobos jembatan Sungai Sail, Jalan H Imam Munadar.
Cahaya itu memantul pada permukaan air sungai yang warnanya sudah sepertj teh susu.
Mata telanjang memandang jelas tak tampak lagi dasar sungai.
Pria berbaju kaos dan bertopi tampak asik mengorek dasar sungai.
Baca juga: FOTO : Pencari Cacing Sutra di Sungai Sail Pekanbaru
Ia beranjak berjalan pelan di tepi sungai.
Sesekali bergerak agak ke tengah.
Di sampingnya ada tiga baskom berwarna hitam terapung.
Baskom itu terikat tali yang pada ujung satunya lagi ia ikatkan pada lubang sabuk atau lobang ikat pinggang.
Jadi kemanapun ia berjalan, maka baskom-baskom tersebut juga ikut terseret.
Tangannya kanannya liha mengeruk ke dasar sungai, lalu sebuah bongkahan tanah dari dasar sungai ia masukkan ke dalam tanggok atau serokan ikan yang ia pegang ditangan kiri.
Lalu tanah yang sudah dimasukkan tanggok, ia bias dengan air hingga menyisakan sedikit saja tanah yang berisi cacing kecil.
Panas ia pedulikan. Padahal sengat matahari begitu tajam.
Kulit coklatnya yang masah memantulkan sinar matahari. Tak ia rasakan sedikitpun perih atau panas dari konstrasi matahari jelang siang itu.
Ia adalah Wil Hariyanto, pencari cacing sutra.
Pekerjaan itu telah ia lakoni sehari-hari sejak tahun 2010 silam.
Menelusuri sepanjang Sungai Sail, ia hidupi keluarga dan menyekolahkan anak dari hasil mencari cacing.
Baginya, pekerjaan itu halal, dan tentu saja ada usaha yang dilakukan.
cacing sutra (Tubifex sp.) adalah cacing kecil berwarna merah yang hidup di dasar lumpur sungai, terutama di area hilir yang kaya bahan organik dan toleran terhadap polusi.
Cacing ini bernilai ekonomi tinggi sebagai pakan alami ikan hias karena nutrisinya yang tinggi.
"Cacingnya untuk bibit ikan lele serta ikan patin," ujar Hariyanto memulai percakapan dengan Tribunpekanbaru.com.
Hariyanto tinggal di Jalan Sumber Sari Kawasan Tanjung Datuk Kecamatan Lima Puluh.
Namun, sehari-hari lebih sering di area sepanjang Sungai Sail.
Karena memang, mencari cacing pekerjaan yang ia lakoni.
Kepada Tribunpekanbaru.com, Hariyanto mengaku keluar rumah sekira pukul 09.00 WIB.
Menggunakan sepeda motor, ia membawa baskom dan tanggok.
Kemudian ia masuk ke sungai mencari titik dimana ada bongkahan tanah di sasar sungai yang berisi cacing sutra.
"Saya sudah biasa. Jadi tahu dimana saja harus mengeruk tanahnya," ungkap Hariyanto.
Di atas jembatan sungai Sail Jalan H Imam Munadar, kendaraan roda empat dan roda dua hilir mudik.
Suara deru mesin jelas terdengar dari posisi Hariyanto tengah mencari cacing.
Ia masih konsentrasi. Mendapatkan lebih banyak cacing untuk segera ia bersihkan dan dimasukkan ke dalam kaleng.
Seharinya, Hariyanto mendapatkan 10 kaleng cacing.
Satu kaleng, dihargai Rp 13 ribu.
Baginya, uang segitu cukup untuk hidup sehari-hari.
Hariyanto punya tiga anak. Anak pertamanya sekarang duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
Anak kedua sudah tingkat Sekolah Menengah Pertama, serta anak ketiga sekarang di Sekolah Dasar.
"Kalau istri saya ada di rumah. Bukan kedai kecil-kecilan," ujarnya.
Bagi orang kebanyakan tak tahu jenis pekerjaan Hariyanto dan uang yang ia dapatkan.
Padahal, dengan aktifitas setengah harinya itu, menghasilkan 130 ribu dan jika dikalikan sebulan (30 hari) bisa mencapai Rp 3,9 juta.
Setara dengan Upah Minimum Kota (UMK) Kota Pekanbaru tahun 2026.
Lewat penghasilan yang lumayan itu pula, Hariyanto mampu sekolahkan tiga anaknya.
Meski istrinya juga memberi asupan tambahan penghasilan lewat jualan.
"Ya, dari hasil mencari cacing ini saya hidupi anak dan istri. Alhamdulillah sampai sekarang masih saya jalani," beber Hariyanto.
Menurut Hariyanto, untuk mendapatkan uang Rp 13 ribu itu, ia harus mendapatkan 10 kaleng yang dijual ke pengepul.
Kemudian cacing itu akan dibawa ke daerah Teratak Buluh.
"Di sana ada lokasi pembibitan ikan lele dan ikan patin. Biasanya untuk bibit ikan yang baru menetas," ungkapnya.
Hari beranjak siang sekira pukul 11.00 WIB.
Hariyanto masih sibuk dengan aktifitas mengorek dasar sungai.
Sama sekali tidak ada rasa geli atau takut ketika ia memasukkan tangannya ke dasar sungai.
Hariyanto juga tidak khawatir dengan penyakit karena cacing-cacing kecil tersebut bisa saja menerobos celah kulitnya.
"Nanti dicuci bersih. Alhamdulillah sampai sekarang tidak pernah sakit karena cacing," ungkapnya.
Karena badan yang sehat itulah Hariyanto terus melakoni pekerjaannya.
Pekerjaan yang menurutnya halal dan bukan memalukan.
Bagi Hariyanto, itu pekerjaan halal. Bisa menghidupi keluarga.
"Penjahat saja tidak malu dengan pekerjaannya. Masa kita malu dengan pekerjaan halal ini," selorohnya pada Tribunpekanbaru.com.
Pemikiran yang bijak itu juga ada pada istri dan tiga anaknya.
Menurut Hariyanto, anak dan istrinya tidak mempermasalahkan pekerjannya mencari cacing.
Terkhusus pada anak-anak tidak pernah malu jika bapaknya hanya seorang pencari cacing.
Menurut Hariyanto, bagi anak-anak yang penting orangtuanya bertanggungjawab.
"Dengan uang menjual cacing ini anak-anak bisa sekolah. Jadi mereka tidak mengatakan malu," ujar Hariyanto
Karena mencari cacing hanya menghabiskan waktu setengah hari, Hariyanto mengaku ia juga nyambi bertukang.
Haryanto mengaku sudah lihai juga bertukang.
Jadi jabatannya sudah tukang bukan lagi kernet (pembantu tukang).
"Kalau tukang, bekerjanya lama. Sistem proyek. Dapat uangnya juga harus sabar. Kalau ini (menjual cacing) uangnya dapat tiap hari," ungkapnya.
Ya, semangat positif Hariyanto memang patuh dicontoh.
Pekerjaan halal (dari usaha yang baik) akan menghasilkan yang baik pula.
Meski dengan mencari cacing didasar sungai, setidaknya ia mampu menyekolahkan anak dan mencukupi makan sehari-hari. (Tribun Pekanbaru/Budi Rahmat)