Kampung Budaya Polowijen Malang Gelar Tradisi Megengan Sambut Ramadan 2026
Dwi Prastika February 17, 2026 12:22 AM

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Benni Indo

TRIBUNMADURA.COM, MALANG - Sambut Bulan Ramadan 2026, warga Kampung Budaya Polowijen Malang, Jawa Timur, menggelar Tradisi Megengan, Senin (16/2/2026).

Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian Festival Kampung Budaya Polowijen #9.

Penggagas Kampung Budaya Polowijen, Isa Wahyudi yang akrab disapa Ki Demang mengatakan, Megengan 2026 di Kampung Budaya Polowijen menghadirkan pemaknaan mendalam bahwa tradisi bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupkan bersama.

Acara tersebut tak hanya dihadiri oleh generasi tua, namun juga generasi muda.

Di tangan generasi muda yang berkolaborasi dengan masyarakat, warisan budaya tidak berhenti sebagai nostalgia.

"Melainkan bergerak sebagai energi sosial yang memperkuat identitas, solidaritas, dan keberlanjutan budaya Malangan di tengah arus zaman," katanya, Senin (16/2/2026).

Kegiatan itu juga berkolaborasi dengan mahasiswa KKN Tematik Kelompok 14 Universitas Muhammadiyah Malang. 

Ki Demang menyebut, Megengan tahun ini juga bagian dari menyambut Bulan Ramadan. Sekaligus ruang pertemuan nilai spiritual, budaya, dan gerakan generasi muda dalam menjaga warisan leluhur. 

"Ubo rampe, cok bakal dan sesajen lainnya disiapkan serta tiga jenis nasi tumpeng dan tumpeng apem dan pisang menjadi sajian khas tradisi di Kampung Budaya Polowijen," terangnya.

Baca juga: Mengenal Tradisi Padusan di Gresik, Warga Berdoa di Makam Sambut Ramadan 2026

Rangkaian acara diawali dengan Tari Beskalan sebagai simbol penyambutan dan penghormatan kepada para tamu.

Gerakannya yang tegas namun anggun menghadirkan karakter khas Malangan, menegaskan bahwa setiap prosesi adat selalu diawali dengan rasa hormat dan tata krama budaya.

Tari Beskalan Putri Malang memberikan tanda bahwa acara Megengan segera digelar

Suasana kemudian menjadi khidmat saat lantunan mocopatan oleh Suryono menggema di tengah kampung. Tembang Jawa yang sarat filosofi itu menjadi jembatan menuju sesi seremonial dan sambutan dari berbagai pihak. 

Momentum istimewa Megengan 2026 disisipi dengan peluncuran Kampung Budaya Polowijen Digital yang isinya e-Book. Secara simbolis, dibagikan kepada tamu yang datang.

"e-book ini memuat sejarah, potensi, dan aktivitas budaya Kampung Polowijen sebagai bentuk dokumentasi digital. Langkah ini menjadi bukti bahwa pelestarian tradisi dapat berjalan seiring dengan penguatan literasi dan digitalisasi budaya," terangnya.

Baca juga: Ponpes di Jember Mulai Laksanakan Salat Tarawih, Tetapkan Awal Ramadan 1447 H dari Ajaran Kiai Sepuh

Prof Sutawi dari UMM mengatakan, kontribusi mahasiswa dalam menyusun dokumentasi budaya merupakan bagian penting dari pengabdian akademik. 

Kolaborasi ini memperlihatkan bagaimana kampus hadir di tengah masyarakat untuk memperkuat identitas lokal melalui pendekatan ilmiah dan teknologi. 

"Semoga KBP Digital yang diluncurkan di tengah acara Megengan dan syukuran KBP menjadi berkah budaya kita semua," harapnya.

Sebagai ungkapan syukur dan permohonan keberkahan menjelang Ramadan sekaligus tasyakuran KBP yang ke-9, pemotongan tumpeng juga dilakukan.

Dilanjutkan makan bersama yang mempererat keakraban lintas generasi dan komunitas.

Momentum Sakral yang Sarat Makna harus Terus Dijaga

Camat Blimbing, I Ketut Widi Eka Wirawan, mengapresiasi konsistensi pelestarian tradisi di Polowijen.

Ia menegaskan, momentum sakral yang sarat makna ini harus terus dijaga karena adat istiadat sesungguhnya menjadi perekat kehidupan bermasyarakat.

Baca juga: Persiapan Megengan, Permintaan Cabai Rawit dan Daging Ayam di Trenggalek Naik, Harga Melonjak

"Semoga Megengan di Kampung Budaya Polowijen dapat menjadi contoh bagi komunitas lain di Kota Malang," ujarnya.

Sebagai penutup, digelar Nyadran dan arak-arakan Topeng Malang menuju makam leluhur Empu Topeng Malang, Mbah Reni.

Kirab ini menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar perayaan simbolik, melainkan ikatan nilai yang dijaga lintas generasi sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu.

Sebelum prosesi Megengan, sejak pagi hingga sore telah dilaksanakan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari Nandur Karang Kitri (penanaman KRPL dan toga), Workshop Busana Khas Malang, hingga pementasan seni budaya yang menampilkan tari tradisional Malang, Tari Topeng, tari kreasi, pembacaan cerita rakyat, dan tembang dolanan.

Megengan sebagai rangkaian dari Festival Kampung Budaya Polowijen#9 ini juga dihadiri dari perwakilan komunitas lain yang hadir antar lain Pokdarwis seluruh Kota Malang, Perempuan Bersanggul Nusantara, Komunitas Kain Kebaya Indonesia Kabupaten Malang, Perempuan Kebaya Konde Malangan, Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Komunitas Budaya Jowo Line Dance, Asosiasi Pedagang Kaki Lima Kota Malang, Duta Budaya Kota Malang, dan Miben Voice Kota Malang.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.