Wisata Religi Selama Ramadan di Makassar, Masjid Al Markaz Al Islami Jadi Pilihan Favorit
Alfian February 17, 2026 12:22 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Bulan Ramadan, bulan keberkahan, sebentar lagi menyapa umat muslim.

Momentum bulan ramadan tentu tak ingin dilewatkan dalam beribadah dan mencari keberkahan.

Selain itu, momentum Ramadan juga bisa dimanfaatkan bagi umat muslim untuk berwisata religi.

Di kota Makassar, Sulawesi Selatan, sejumlah destinasi bisa menjadi pilihan.

Salah satunya masjid Al Markaz Al Islami.

Masjid terbesar di kota Makassar ini terletak di Jl Masjid Raya, Kecamatan Bontoala.

Masjid Al Markaz Al Islami dikenal sebagai salah satu simbol kebanggaan masyarakat Muslim di kota Makassar.

Bangunan masjid ini terletak di Jl Masjid Raya, Timungan Lompoa, Kecamatan Bontoala, Makassar, Sulsel.

Masjid Al-Markaz sebuah masjid monumental yang lahir dari gagasan Jenderal (Purn) Muhammad Jusuf pada tahun 1989.

Muhammad Jusuf adalah Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) ke-7, Masa jabatan 29 Maret 1978 – 19 Maret 1983.

"Beliaulah yang menginisiasi lahirnya masjid ini. Atas dasar itu, Masjid ini diberi nama Al-Markaz Al-Islami," kata Sekretaris Umum Pengurus Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar, Arman Arfah.

Baca juga: Penjual Songkok Menjamur di Kawasan Masjid Al Markaz Makassar Jelang Ramadan

Arman mengisahkan, gagasan pendirian Masjid Al-Markaz berawal saat Jenderal M Jusuf diamanahkan sebagai Amirul Hajj pada tahun 1989. 

Amirul Hajj adalah sebuah tugas yang diberikan kepada tokoh nasional untuk memimpin jemaah haji Indonesia di Tanah Suci. 

Dalam perjalanan haji tersebut, ia menyampaikan ide kepada sejumlah tokoh nasional yang juga sedang menunaikan ibadah haji.

Di antaranya Munawir Sjadzali, Edi Sudradjat, M Jusuf Kalla, dan beberapa lainnya. 

Ia mengusulkan pembangunan sebuah masjid yang tidak tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pengembangan peradaban Islam di Makassar.

Gagasan ini mendapat sambutan positif dan dukungan luas. 

Jenderal M Jusuf tidak sekadar ingin membangun masjid besar, tetapi juga ingin menjadikannya sebagai pusat kajian Islam di Kawasan Timur Indonesia. 

Makassar dipilih bukan hanya karena merupakan kampung halamannya, tetapi juga karena letaknya yang strategis serta masyarakatnya yang dikenal religius.

Pada 3 Maret 1994, bertepatan dengan bulan Ramadhan 1414 H, Jenderal M Jusuf mengundang sejumlah menteri dan pengusaha untuk membahas realisasi pembangunan masjid ini. 

Dalam pertemuan tersebut, dana terkumpul secara spontan, tidak hanya dari pengusaha Muslim tetapi juga dari pengusaha non-Muslim seperti Prayogo Pangestu, James T Riadi, dan Harry Darmawan.

Dukungan besar ini menunjukkan bahwa Masjid Al-Markaz bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga simbol kebersamaan dan persatuan antarumat beragama di Indonesia. Jumlah dana yang terkumpul saat itu cukup untuk membangun masjid beserta fasilitas pendukungnya.

Sebagai bentuk legalitas, pada tanggal 3 Maret 1994, Yayasan Islamic Center (YIC) Al-Markaz resmi didirikan. 

Akta pendirian dibuat oleh Notaris Mestariany Habie di Ujung Pandang dengan nomor akta 18 tahun 1994. 

Yayasan ini bertugas mengelola pembangunan serta operasional masjid yang akan berdiri megah di pusat Kota Makassar.

Jenderal M Jusuf kemudian mempercayakan Jusuf Kalla sebagai Ketua Harian Yayasan Islamic Center.

Wakil Presiden Republik Indonesia ke-10 dan ke-12 itu dipercayakan untuk memastikan bahwa pembangunan berjalan lancar dan sesuai dengan tujuan awal perencanaan.

Pembangunan fisik Masjid Al-Markaz dimulai dengan peletakan batu pertama pada 8 Mei 1994.

Adapun perusahaan PT Adhi Karya ditunjuk sebagai kontraktor utama, dengan PT Birano Bandung sebagai konsultan perencana dan pengawas yang dipimpin oleh Ir Achmad Nu’man.

Dengan kerja keras semua pihak, pembangunan masjid ini rampung dalam waktu yang relatif singkat. 

Pada 12 Januari 1996, Masjid Al-Markaz resmi berdiri sebagai salah satu masjid terbesar dan termegah di Indonesia Timur.

"Jadi Masjid Al-Markaz didirikan tidak cukup satu tahun dan melibatkan seluruh komponen anak bangsa," ujar Arman.

Arman Arfah menerangkan Masjid Al-Markaz Al-Islami bukan hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, kajian Islam, dan berbagai kegiatan sosial. 

Warisan yang ditinggalkan oleh Jenderal M Jusuf ini terus menjadi kebanggaan masyarakat Makassar dan umat Islam di Indonesia Timur.

Dari Aula hingga Baitul Maal, Inilah Fasilitas Lengkap di Masjid Al-Markaz Makassar 

Berdiri megah di atas lahan seluas 10 hektar, Masjid Al-Markaz memiliki berbagai fasilitas yang mendukung fungsinya sebagai pusat peradaban Islam di Kawasan Timur Indonesia.

Masjid ini memiliki tiga lantai utama dengan total luas bangunan mencapai 6.932 meter persegi. 

Ruang salat utama berada di lantai dua dan tiga, mampu menampung hingga 10.000 jamaah. 

Saat pelaksanaan salat Idulfitri dan Iduladha, area halaman dan plaza masjid dapat menampung hingga 50.000 jamaah.

Menara masjid setinggi 84 meter berdiri kokoh, menjadi salah satu ikon arsitektur Islam di Makassar. 

Suara azan dari 16 loudspeaker di menara bisa terdengar hingga radius 5 kilometer.

Sementara total 70 speaker tersebar di seluruh area masjid untuk memastikan suara tetap jelas saat ibadah dan pengajian.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Al-Markaz juga memiliki aula luas yang sering digunakan untuk acara keagamaan, seminar, dan pertemuan komunitas Muslim. 

Perpustakaan Islam di dalamnya menyimpan berbagai literatur keislaman yang dapat diakses oleh masyarakat.

Lantai pertama masjid ini difungsikan sebagai pusat pendidikan, dengan beberapa ruang yang digunakan untuk kegiatan belajar mengajar, termasuk madrasah, kajian rutin, dan kelas tahfidz Quran.

Sebagai pusat ekonomi berbasis Islam, Masjid Al-Markaz memiliki Baitul Maal (BMT) yang mengelola dana zakat, infak, dan sedekah untuk membantu masyarakat yang membutuhkan. 

"Tak hanya itu, ada pula koperasi umat yang menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari dengan sistem ekonomi syariah," kata Arman Arfah.

Kenyamanan jamaah menjadi prioritas, dengan 178 keran wudhu, 18 kamar mandi/WC, serta area wudhu terpisah untuk pria dan wanita. 

Penerangan masjid ditopang oleh listrik PLN 100 KVA, dengan tambahan empat lampu kristal Ceko seberat 4 ton yang menggantung di lantai dua, memberikan suasana megah di dalam masjid.

Sejak diresmikan pada 1996, Masjid Al-Markaz terus dirawat dan direnovasi secara bertahap. 

Saat ini, renovasi sedang difokuskan pada lantai dan atap masjid. 

Tak heran, masjid ini menjadi salah satu destinasi wajib bagi tokoh nasional yang berkunjung ke Makassar. 

Beberapa di antaranya adalah Jusuf Kalla, Presiden Joko Widodo, Prabowo Subianto, serta Menteri Agama Prof Dr Nasaruddin Umar.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.