TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kasus penyiksaan brutal terhadap seorang asisten rumah tangga (ART) yatim piatu di Bogor akhirnya terbongkar dan menggemparkan publik.
Pelaku merupakan oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di Badan Pemeriksa Keuangan RI, dengan aksi kekerasan yang disebut telah berlangsung selama enam bulan.
Korban mengalami perlakuan tidak manusiawi di rumah pelaku di Bogor, memicu kecaman luas dan desakan penegakan hukum tegas.
Baca juga: Tak Hanya Aniaya ART Yatim Piatu, ASN BPK di Bogor Juga Pernah Siksa Brutal Suami hingga Warga Syok
Kasus kekerasan terhadap Asisten Rumah Tangga (ART) di Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat menambah panjang angka kekerasan terhadap perempuan.
Komnas Perempuan mencatat, pada tahun 2025, ada 4.472 laporan terkait kekerasan terhadap perempuan.
Angka tersebut naik tujuh persen dari tahun sebelumnya.
Kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi penyumbang terbanyak laporan.
Angka tersebut dianggap fenomena gunung es, kasus riil di masyarakat diduga lebih tinggi dari laporan yang diterima Komnas Perempuan.
Terbaru ini, seorang ART berinisial FH (21) jadi korban penganiayaan oleh majikannya sendiri di Kecamatan Gunungputri, Kabupaten Bogor.
Yang menjadi sorotan, pelaku berinisial OAP (37) yang kini jadi tersangka adalah juga seorang perempuan.
Terlebih, ia merupakan seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK).
Mengutip Kompas.com, korban mengaku telah mengalami kekerasan sekitar enam bulan sejak 2025 lalu.
Namun, yang terparah terjadi pada Kamis (22/1/2026), sehari sebelum, FH melaporkan apa yang dialaminya ke polisi.
FH pun mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya.
Kasatres Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) serta Pemberantasan Perdagangan Orang (PPO) Polres Bogor, AKP Silfi Adi Putri mengonfirmasi hal tersebut.
Pada Kamis (22/1/2026) lalu, FH dianiaya setelah tak sengaja mematikan kompor saat tersangka tengah memasak.
"Jadi pelaku ini sedang memasak di dapur lalu tidak sengaja kompornya dimatikan oleh korban dan mengakibatkan pelaku marah sehingga melakukan kekerasan terhadap korban. Itu berdasarkan keterangan korban," ujarnya, Kamis (19/2/2026).
Mengutip TribunnewsBogor.com, korban melaporkan bahwa ia menerima kekerasan berupa cubitan, pukulan, hingga tendangan.
Akibatnya, korban mengalami luka-luka di seluruh bagian tubuhnya.
"Kalau untuk luka yang kemarin sudah divisum itu ada di bagian kepala, ada di bagian telinga, tangan dan juga punggung korban," katanya.
Sosok ART bernama Fitri Hutagalung mencuat ke publik setelah terungkap menjadi korban penipuan dan penganiayaan oleh Olfit Ariani Purba, oknum ASN di Badan Pemeriksa Keuangan RI.
Fitri Hutagalung bekerja di Bogor dengan janji kehidupan lebih layak, namun justru mengalami perlakuan kejam dan tidak manusiawi.
Tragisnya, Fitri Hutagalung merupakan anak yatim piatu yang merantau seorang diri demi bertahan hidup, hingga kisah pilunya menggugah amarah dan empati publik.
Baca juga: Tak Hanya Aniaya ART Yatim Piatu, ASN BPK di Bogor Juga Pernah Siksa Brutal Suami hingga Warga Syok
Inilah sosok Fitri Hutagalung, asisten rumah tangga (ART) di Gunungputri, Bogor yang viral karena jadi korban penganiayaan majikannya, Olfit Ariani Purba.
Kasus penganiayaan yang dialami Fitri belakangan jadi sorotan lantaran korban memperlihatkan kondisi tubuhnya yang penuh luka.
Ternyata selama dua tahun bekerja dengan Olfit, Fitri kerap mengalami penyiksaan.
Hal itu membuat sekujur tubuhnya mengalami luka memar, lebam, hingga rusak.
Kasus yang viral di media sosial itu turut ditanggapi oleh Auditor Kepolisian Madya TK II Inspektorat Pengawasan Umum Polri, Kombes Pol Dr Manang Soebeti.
Dalam akun media sosialnya, anggota Polri yang karib disapa Pak Bray itu menceritakan sosok Fitri.
Ternyata korban adalah seorang yatim piatu yang berasal dari Medan, Sumatera Utara.
Setelah lulus dari SMA, Fitri merantau ke Jakarta dengan harapan kehidupannya bisa jauh lebih baik.
Namun malang, Fitri justru jadi samsak hidup majikannya yang juga sama-sama berasal dari Medan.
"Fitriani mengatakan, setelah tamat dari Sekolah Menengah Atas (SMA) di Medan dirinya diiming-imingi kerja ke Jakarta dan ia pun menerimanya karena kebetulan Fitri seorang anak yatim piatu.
Ternyata dia dipekerjakan jadi pembantu rumah tangga sdri, Olfit Ariani Purba dan sering dijadikan sararan tindak dugaan KDRT," tulis Pak Bray.
(TribunNewsmaker.com/TribunnewsBogor.com)