Simposium Internasional di IFTK Ledalero: Singgung AI, Algoritma hingga Laudato Si
Nofri Fuka February 20, 2026 03:47 PM

TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero (IFTK Ledalero) resmi membuka International Symposium on Religion, Media, and Culture in Southeast Asia pada 19 Februari 2026.

Simposium internasional ini berlangsung hingga 21 Februari 2026 di Auditorium Maximum Kampus 2 IFTK Ledalero, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur. 

Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama dengan Asian Research Center for Religion and Social Communication dari St. John’s University. 

Forum ini mempertemukan akademisi dan peneliti dari Indonesia, Filipina, Thailand, dan Australia untuk merefleksikan dinamika relasi agama, media, dan budaya di tengah percepatan transformasi digital di Asia Tenggara.

Bahas AI, Algoritma hingga Laudato Si’

Selama tiga hari pelaksanaan, simposium menghadirkan 14 presentasi makalah ilmiah yang membahas isu-isu aktual. Topik yang diangkat meliputi komodifikasi agama di media sosial, algoritma dan pembentukan identitas religius, pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam seni religius hingga kesadaran ekologis generasi muda dalam terang ensiklik Laudato si’ karya Paus Fransiskus.

Penyelenggaraan simposium ini menegaskan komitmen IFTK Ledalero sebagai institusi akademik di Indonesia Timur yang aktif dalam refleksi kritis terhadap perubahan sosial-budaya di era digital. 

Forum ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk memperkuat dialog lintas disiplin dan lintas negara demi membangun masa depan relasi agama, media dan masyarakat Asia Tenggara yang lebih bertanggung jawab dan berkeadaban.

Agama Digital: Arena Politik dan Etika Baru

Melansir akun Youtube Resmi IFTK Ledalero, @iftkledalero, 19 Februari 2026, Rektor IFTK Ledalero, Otto Gusti Ndegong Madung, menekankan bahwa teknologi digital bukan sekadar instrumen modernisasi tetapi arena politik dan etika di mana identitas keagamaan, norma moral dan kewarganegaraan terus dinegosiasikan.

“Platform digital dan mekanisme algoritmik tidak hanya mendistribusikan informasi, tetapi juga membentuk otoritas keagamaan serta memproduksi narasi kebenaran,” ujarnya.

Ia menambahkan, negara memperluas pengaruh melalui tata kelola digital untuk mengatur wacana keagamaan dan memantau konten daring. 

Lembaga keagamaan memanfaatkan media digital untuk menyebarkan ajaran dan memperkuat komunitas iman, sementara logika pasar melalui algoritma menentukan suara mana yang diperkuat dan mana yang terpinggirkan.

“Peserta diajak membangun refleksi kritis mengenai tata kelola digital yang menjamin kebebasan beragama, pluralisme, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia,” tegasnya.

Media dan Persepsi Publik tentang Agama

Anthony Le Duc dari Asian Research Center for Religion and Social Communication menekankan bahwa agama, budaya, dan media saling terkait.

Agama selalu hadir dalam bahasa, simbol, ritus, dan praktik hidup sehari-hari, namun kini ekspresinya semakin banyak berlangsung melalui media sosial dan platform daring.

“Media tidak hanya menyampaikan pesan keagamaan, tetapi juga membentuk cara agama direpresentasikan, ditafsirkan, dan dinilai di ruang publik,” jelasnya.

Di Asia Tenggara yang majemuk, media digital berperan besar dalam membentuk persepsi publik—apakah agama dipandang sebagai sumber makna dan solidaritas atau sebagai sesuatu yang kontroversial. Oleh karena itu, dialog akademik lintas negara sangat penting untuk merespons tantangan zaman secara bijaksana.

Menghadirkan yang Sakral di Era Digital

Pada hari pertama, simposium menghadirkan pidato kunci dari Benjamina Paula G. Flor (Filipina) bertajuk “Embodying the Sacred in the Digital Age: A Communication Approach.”

Ia menjelaskan bahwa komunikasi digital telah mengubah praktik kehidupan, termasuk pengalaman beribadah. Praktik keagamaan daring bukan sekadar pengganti pertemuan fisik, tetapi bentuk rekonfigurasi kehidupan sakral.

“Yang sakral tidak hilang di ruang digital. Ia terus dihadirkan melalui praktik komunikasi, tubuh, dan teknologi,” ujarnya. Dimensi kehadiran sakral secara daring antara lain devosi pribadi, integritas, ketekunan, rasa syukur, keterlibatan aktif, dan partisipasi tulus.

Diskusi juga mengangkat perbedaan konsep “yang sakral” dan “sakramen” dalam teologi Katolik. Para peserta sepakat bahwa sakramen tetap menuntut kehadiran fisik sesuai ajaran Gereja, tetapi media digital memiliki peran penting dalam katekese, evangelisasi dan pendampingan rohani, terutama bagi umat yang terkendala jarak atau kondisi kesehatan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.