Ramadan: Momentum Menata Hati, Menyatukan Solidaritas
Sri Widya Rahma February 20, 2026 08:54 PM

Oleh: Ahmad Syafiq Sidqi *)

Ramadan selalu hadir sebagai bulan penuh makna, bukan sekadar ritual tahunan yang datang dan pergi.

Ia adalah ruang refleksi, kesempatan untuk menata hati, sekaligus momentum memperkuat solidaritas sosial.

Di tengah kehidupan yang semakin individualistis, Ramadan mengingatkan kita bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri. Ada dimensi spiritual yang harus dirawat dan ada ikatan sosial yang mesti dijaga.

Puasa mengajarkan kita untuk menahan diri.

Lapar dan dahaga yang dirasakan sepanjang hari bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk melatih kesabaran, kejujuran dan keikhlasan.

Dari rasa lapar itu, kita belajar empati.

Kita diingatkan bahwa di luar sana ada banyak orang yang setiap hari bergulat dengan kekurangan, bukan hanya di bulan Ramadan.

Maka, ibadah puasa sejatinya adalah jembatan menuju kepedulian sosial.

Solidaritas menjadi wajah lain dari Ramadan.

Tradisi berbagi takjil, zakat fitrah, hingga gerakan sosial di masjid dan kampung adalah bukti bahwa Ramadan melahirkan energi kebersamaan.

Di kota-kota besar, anak rantau yang jauh dari keluarga menemukan makna baru dalam kebersamaan sederhana: berbuka bersama teman, saling menguatkan, dan merasakan bahwa solidaritas adalah bagian dari iman.

Ramadan menjadikan kita lebih peka terhadap sesama, lebih peduli terhadap mereka yang lemah dan lebih sadar bahwa kebahagiaan sejati lahir dari memberi.

Namun, Ramadan juga menantang kita untuk tidak berhenti pada ritual.

Ia mengajak kita menata ulang arah hidup. Hati yang bersih akan melahirkan tindakan yang jujur, sementara solidaritas yang kuat akan melahirkan masyarakat yang tangguh.

Dalam konteks bangsa yang kerap dilanda krisis sosial, bencana alam, dan ketidakadilan, Ramadan seharusnya menjadi energi kolektif untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan peduli.

Kita bisa melihat bagaimana Ramadan menjadi momentum kebangkitan sosial.

Gerakan filantropi tumbuh, komunitas anak muda menggalang donasi, dan masjid menjadi pusat solidaritas.

Semua ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan hanya milik individu, tetapi milik masyarakat.

Ia adalah ruang bersama untuk menumbuhkan empati, memperkuat persaudaraan dan meneguhkan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Pada akhirnya, Ramadan adalah undangan untuk kembali ke nilai dasar: kejujuran, empati dan kebersamaan.

Ia mengingatkan bahwa ibadah tidak berhenti di sajadah, tetapi harus menjelma menjadi tindakan nyata.

Menyambut Ramadan berarti menyambut kesempatan untuk memperbaiki diri sekaligus memperkuat ikatan sosial.

Momentum ini seharusnya tidak berhenti di bulan suci, tetapi menjadi fondasi bagi kehidupan sehari-hari.

Menata hati dan menyatukan solidaritas adalah jalan menuju masyarakat yang lebih damai, adil dan penuh kasih.

Ramadan memberi kita kesempatan untuk melangkah ke arah itu.

Ramadan bukan sekadar bulan ritual, melainkan ruang refleksi yang mengajarkan manusia untuk menata hati dan memperkuat solidaritas.

Di tengah kehidupan modern yang kian individualistis, Ramadan hadir sebagai pengingat bahwa manusia tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk sesama

Al-Quran menegaskan tujuan puasa dalam firman Allah :


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ۝١

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sarana untuk menumbuhkan takwa.

Takwa itu sendiri berwujud dalam kejujuran, kesabaran dan kepedulian sosial

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ، فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

Apabila datang bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan dibelenggulah setan-setan.” (HR Bukhari No 3277, Muslim No 1079)

Hadis ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah musim kebaikan, saat manusia diberi kesempatan besar untuk mendekat kepada Allah tanpa banyak gangguan.

Momentum ini seharusnya dimanfaatkan untuk memperbaiki diri sekaligus memperkuat ikatan sosial.

Puasa melatih empati. Lapar yang kita rasakan sepanjang hari mengingatkan bahwa ada saudara-saudara yang setiap hari bergulat dengan kekurangan.

Dari sinilah lahir solidaritas: berbagi takjil, zakat fitrah, hingga gerakan sosial yang menguatkan ikatan antarwarga.

Ramadan menegaskan bahwa ibadah tidak berhenti di sajadah, tetapi harus menjelma menjadi kepedulian nyata.

Di tengah krisis sosial dan bencana yang kerap melanda negeri, Ramadan seharusnya menjadi energi kolektif untuk menumbuhkan rasa kebersamaan.

Anak rantau yang jauh dari kampung halaman, misalnya, menemukan makna baru dalam kebersamaan sederhana: berbuka bersama,
saling menguatkan dan mengingatkan bahwa solidaritas adalah bagian dari iman.

Ramadan juga menantang kita untuk tidak berhenti pada ritual. Ia mengajak kita menata ulang arah hidup.

Hati yang bersih akan melahirkan tindakan yang jujur, sementara solidaritas yang kuat akan melahirkan masyarakat yang tangguh.

Dalam konteks bangsa yang kerap dilanda ketidakadilan, Ramadan seharusnya menjadi energi kolektif untuk membangun masyarakat
yang lebih adil dan peduli.

Pada akhirnya, Ramadan adalah undangan untuk kembali ke nilai dasar: kejujuran, empati dan kebersamaan.

Momentum ini seharusnya tidak berhenti di bulan suci, tetapi menjadi fondasi bagi kehidupan sehari-hari.

Menata hati dan menyatukan solidaritas adalah jalan menuju masyarakat yang lebih damai, adil, dan penuh kasih.

Solidaritas adalah salah satu nilai inti dalam ajaran Islam. Ia bukan sekadar hubungan sosial, tetapi juga bagian dari iman dan ibadah.

Islam menekankan bahwa umat harus saling mendukung, menolong dan menjaga satu sama lain dalam bingkai ukhuwah (persaudaraan).

Solidaritas dalam Islam bukan hanya konsep, melainkan praktik nyata yang membentuk masyarakat penuh kasih, adil dan harmonis.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.