TRIBUNGORONTALO.COM - Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail melakukan groundbreaking embarkasi haji penuh di Bandara Djalaluddin Gorontalo, Jumat (20/2/2026).
Groundbreaking tersebut terakit perluasan apron dan pembangunan taxiway di Bandara Djalaluddin Gorontalo.
Acara berlangsung secara seremonial dengan prosesi pemecahan kendi oleh sejumlah pihak dan dihadiri Forkopimda Provinsi Gorontalo.
Kegiatan ini menjadi penanda keseriusan daerah dalam menyiapkan infrastruktur penerbangan untuk melayani pesawat berbadan lebar.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, tampil mencolok mengenakan pakaian serba biru, kemeja biru dipadukan dengan sarung.
Menurutnya, pilihan busana itu bukan tanpa alasan. Ia menyebutnya sebagai bentuk keseriusan sekaligus “kode” kepada pemerintah pusat.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail menegaskan bahwa pembangunan ini merupakan hasil komunikasi intensif dengan Kementerian Perhubungan.
Ia juga menjelaskan rencana pengembangan lanjutan yang akan memperkuat kesiapan bandara.
“Dan ini akan disambung lagi dengan lapisan run way sepanjang 2.500 x lebar 45 meter,” ujarnya.
Proyek tahap awal ini menelan anggaran Rp 40 miliar. Setelah apron dan taxiway dibangun, tahun depan direncanakan pelapisan runway agar dapat dilalui pesawat berbadan lebar.
Panjang runway sendiri tetap 2.500 x 45 meter karena telah memenuhi ketentuan.
Gusnar optimistis jika seluruh tahapan rampung, jalan menuju Embarkasi Haji penuh akan semakin mulus.
Dukungan dari Kementerian Haji dan Umrah juga disebut sudah siap dan Ia menyampaikan target penyelesaian proyek tersebut.
“Kita targetkan Insya Allah 2028,” jelasnya.
Tahun ini, kata Gusnar, terdapat dua calon Embarkasi Haji penuh, yakni Yogyakarta dan Gorontalo.
Perbedaannya, Yogyakarta telah memiliki bandara yang mendukung namun masih menggunakan hotel sementara, sedangkan Gorontalo telah memiliki Asrama Haji yang memenuhi syarat, tetapi bandaranya perlu dikembangkan.
Kepala Bandara Djalaluddin Gorontalo, Joko Harjani, memaparkan kesiapan teknis bandara dalam mendukung status Embarkasi Haji penuh. Ia menjelaskan bahwa keinginan Pemprov Gorontalo bukan tanpa dasar.
“Pemrov Gorontalo berkeinginan untuk menjadi Embarkasi Haji Penuh karena sudah 17 tahun melaksanakan Embarkasi Haji Antara,” ungkapnya.
Keinginan tersebut mendapa respons positif dari Kementerian Perhubungan.
“Oleh karenanya Bandara akan dilakukan pengembangan untuk mendukung pesawat berbadan lebar,” katanya.
Saat ini, pesawat terbesar yang dapat dilayani Bandara Djalaluddin adalah Boeing 737 dengan kapasitas sekitar 213 penumpang.
Nantinya, operasional ditargetkan dapat melayani Boeing 777 dengan kapasitas 415 penumpang, atau hampir dua kali lipat.
Namun, ia mengakui fasilitas yang ada saat ini belum memadai untuk pesawat berbadan lebar.
“Apron yang ada saat ini tidak bisa digunakan untuk parkir pesawat berbadan lebar,” tegasnya.
Karena itu, pembangunan apron menjadi kebutuhan mendesak dalam tahapan pengembangan bandara.
Bandara Djalaluddin (WAMG/GTO) berlokasi di Desa Tolotio, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Jaraknya sekitar 32 kilometer dari Kota Gorontalo, Ibu Kota Provinsi Gorontalo
Bandara ini berstatus Kelas I dan dikelola Direktorat Jenderal Perhubungan Udara.
Memiliki runway 2.500 x 45 meter (PCN 50/F/A/W/T) dengan arah 09–27, bandara ini berada pada elevasi ±37,79 mdpl.
Luas terminal penumpang mencapai 11.059,2 m⊃2; dengan kapasitas 1.571.798 penumpang per tahun.
Area parkir kendaraan seluas 32.000 m⊃2;, kategori PKP-PK VII, serta sistem keamanan kategori F. (*/Jian)