Injil Katolik Prapaskah I Minggu 22 Februari 2026 Lengkap Mazmur Tanggapan
Gordy Donovan February 21, 2026 08:47 AM

TRIBUNFLORES.COM,MAUMERE - Mari simak Injil Katolik Misa Prapaskah I Minggu 22 Februari 2026.

Injil katolik misa Prapaskah I lengkap mazmur tanggapan dan renungan harian Katolik.

Minggu 22 Februari 2026 merupakan hari Minggu Prapaskah I, Pesta Tahta Suci Santo Petrus, Santa Margaretha dari Cortona, Pengaku Iman, dengan warna liturgi ungu.

Adapun bacaan liturgi Katolik hari Minggu 22 Februari 2026 adalah sebagai berikut:

Baca juga: Teks Ibadah Sabda Minggu 22 Februari 2026 Lengkap Renungan Harian Katolik

Bacaan Pertama Kejadian 2:7-9.3:1-7

"Ciptaan pertama dan dosa asal."

Ketika Tuhan Allah menjadikan langit dan bumi, Ia membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya. Demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Selanjutnya Tuhan Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; di situlah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu.

Lalu Tuhan Allah menumbuhkan berbagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; di tengah-tengah taman itu Ia menumbuhkan pohon kehidupan, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh Tuhan Allah ular adalah binatang yang paling cerdik.

Ular itu berkata kepada perempuan yang telah diciptakan Tuhan, “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Sahut perempuan itu kepada ular, “Buah pohon-pohon dalam taman ini boleh kami makan.

Tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan atau pun kamu raba buah itu, nanti kamu mati.”

Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu, “Sekali-kali kamu tidak akan mati! Tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”

Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan, dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian.

Maka ia mengambil dari buahnya, lalu dimakan, dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia; dan suaminya pun memakannya. Maka terbukalah mata mereka berdua, dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan Mzm 51:3-4.5-6a.12-13.14-17
Ref. Kasihanilah, ya Tuhan, Kaulah pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga.

Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku.

Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau sendirilah aku berdosa yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.

Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari pada-Ku!

Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu dan teguhkanlah roh yang rela dalam diriku. Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan puji-pujian kepada-Mu.

Bacaan Kedua Roma 5:12-19

"Di mana pelanggaran bertambah banyak, di sana karunia menjadi berlimpah-limpah."

Saudara-saudara, dosa telah masuk ke dalam dunia lantaran satu orang, dan karena dosa itu, masuklah juga maut. Demikianlah maut telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.

Sebab sebelum hukum Taurat ada, di dunia ini telah ada dosa. Tetapi dosa itu tidak diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. Sungguhpun demikian dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa maut telah berkuasa juga atas mereka yang tidak berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang adalah gambaran dari Dia yang akan datang.

Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang itu semua orang telah jatuh dalam kuasa maut, jauh lebih besarlah kasih karunia dan anugerah Allah, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang lantaran satu orang, yaitu Yesus Kristus.

Kasih karunia Allah jauh lebih besar daripada dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, sedangkan pemberian kasih karunia atas banyak pelanggaran telah mengakibatkan pembenaran.

Jadi, jika oleh dosa satu orang maut telah berkuasa, lebih benarlah yang terjadi atas mereka yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan anugerah kebenaran; mereka akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.

Sebab itu, seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.

Jadi seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U. Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil Matius 4:4b
Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Manusia hidup bukan saja dari makanan, melainkan juga dari setiap sabda Allah.

Bacaan Injil Matius 4:1-11

"Yesus berpuasa selama empat puluh hari, dan dicobai Iblis."

Sekali peristiwa Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun supaya dicobai Iblis. Setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu itu menjadi roti.”

Tetapi Yesus menjawab, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Kemudian Iblis membawa Yesus ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah.

Lalu Iblis berkata kepada-Nya, “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya, dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk pada batu.”

Yesus berkata kepadanya, “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Lalu Iblis membawa Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya.

Iblis berkata kepada-Nya, “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Maka berkatalah Yesus kepadanya, “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau harus berbakti!”

Lalu Iblis meninggalkan Yesus, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Dia.

Demikianlah Injil Tuhan.

U. Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik

Mencoba Tuhan atau Percaya Sepenuhnya? Matius 4:1–11

Renungan Katolik Minggu 22 Februari 2026 mengajak kita memasuki salah satu peristiwa paling mendasar dalam Injil: pencobaan Yesus di padang gurun. Injil ini selalu dibacakan pada awal masa Prapaskah, seolah Gereja ingin mengingatkan kita bahwa perjalanan iman tidak pernah terlepas dari pergulatan batin, godaan, dan pilihan-pilihan mendasar yang menentukan arah hidup.

Yesus, setelah dibaptis dan dipenuhi Roh Kudus, dibawa oleh Roh ke padang gurun. Di sanalah Ia berpuasa empat puluh hari empat puluh malam. Dalam keadaan lapar dan lemah secara manusiawi, Ia justru berhadapan dengan si pencoba. Peristiwa ini bukan sekadar kisah dramatis masa lalu, melainkan cermin perjalanan iman setiap orang beriman.

Padang Gurun: Ruang Sunyi yang Membuka Kebenaran

Dalam Kitab Suci, padang gurun selalu memiliki makna rohani yang dalam. Padang gurun adalah tempat kesunyian, kekosongan, dan keterbatasan. Tidak ada hiburan, tidak ada pengalih perhatian, tidak ada topeng. Di sanalah manusia berjumpa dengan dirinya sendiri dan dengan Allah secara jujur.

Dalam renungan Katolik harian ini, kita diingatkan bahwa masa Prapaskah adalah “padang gurun rohani” yang diberikan Gereja kepada kita. Bukan untuk menyiksa, melainkan untuk memurnikan. Dalam kesunyian dan pengosongan diri, kita mulai mendengar suara hati yang selama ini tertutup oleh kebisingan dunia.

Yesus tidak menghindari padang gurun. Ia masuk ke sana dengan taat. Ini mengajarkan bahwa iman yang dewasa tidak lari dari keheningan, tetapi justru berani tinggal di dalamnya.

Katekismus Gereja Katolik (tentang pencobaan & keutamaan)

Pencobaan Pertama: Mengubah Batu Menjadi Roti
(Godaan Kenyamanan)

“Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”
Godaan pertama tampak sederhana dan logis. Yesus lapar. Ia punya kuasa. Mengapa tidak memakai kuasa itu untuk memenuhi kebutuhan diri?

Namun, di sinilah letak pencobaannya. Iblis tidak menggoda Yesus untuk berbuat jahat secara langsung, melainkan menggeser fokus hidup: dari percaya kepada Allah menjadi mengandalkan diri sendiri.

Yesus menjawab:

“Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Dalam renungan Injil Matius 4:1–11, kita belajar bahwa kebutuhan jasmani memang penting, tetapi bukan yang utama. Dunia modern sering membisikkan bahwa kebahagiaan ada pada kenyamanan, keamanan finansial, dan pemenuhan keinginan. Tanpa disadari, iman kita bisa berubah menjadi alat untuk “mendukung” gaya hidup, bukan menjadi pusat hidup itu sendiri.

Dalam Masa Prapaskah ini mengajak kita bertanya dengan jujur:

Apakah aku hidup dari roti saja, atau dari Firman Tuhan?

Pencobaan Kedua: Melompat dari Bubungan Bait Allah

(Godaan Sensasi dan Pamer Iman)

“Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Malaikat-malaikat-Nya akan melindungi Engkau.”
Godaan ini lebih halus dan berbahaya. Iblis bahkan mengutip Kitab Suci. Ia mendorong Yesus untuk membuktikan diri, mempertontonkan kuasa, dan memaksa Allah bertindak.

Yesus menjawab tegas:

“Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!”
Dalam konteks renungan Katolik Minggu ini, pencobaan ini sangat relevan. Kita hidup di zaman ketika iman mudah dijadikan tontonan: dipamerkan, diukur dari tampilan luar, atau digunakan untuk mencari pengakuan.

Kadang kita berkata:

“Kalau Tuhan benar-benar mengasihi aku, Ia pasti melakukan ini…”
“Kalau doaku tidak dikabulkan, berarti Tuhan tidak peduli.”
Tanpa sadar, kita sedang mencobai Tuhan, bukan mempercayai-Nya. Iman sejati tidak menuntut bukti spektakuler. Iman sejati percaya bahkan ketika Allah diam.

Pencobaan Ketiga: Kekuasaan dan Kemuliaan Dunia (Godaan Jalan Pintas)

“Semua itu akan Kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.”
Inilah puncak pencobaan: kekuasaan, kemuliaan, dan pengaruh. Iblis menawarkan jalan pintas menuju kejayaan tanpa salib.

Yesus menolak dengan tegas:

“Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti.”
Dalam refleksi Katolik hari ini, kita diajak menyadari bahwa godaan terbesar sering kali bukan dosa kasar, melainkan kompromi kecil: mengorbankan nilai demi hasil, menghalalkan cara demi tujuan baik, atau memilih aman daripada setia.

Yesus mengajarkan bahwa kerajaan Allah tidak dibangun dengan jalan pintas, melainkan dengan ketaatan, kesetiaan, dan pengorbanan.

Dalam terang Injil hari ini, kita diajak melanjutkan permenungan yang telah dimulai pada renungan Injil hari Jumat , di mana Yesus mengajak murid-murid-Nya memahami makna kehadiran-Nya di tengah hidup manusia.

Makna Injil Matius 4:1–11 bagi Hidup Kita

Yesus Menang, Bukan dengan Kuasa, tetapi dengan Ketaatan

Menarik bahwa Yesus tidak melawan iblis dengan mukjizat atau kekuatan luar biasa. Ia melawan dengan:

Firman Allah
Ketaatan
Kepercayaan penuh kepada Bapa
Inilah pesan kuat bagi kita dalam renungan Katolik masa Prapaskah: kemenangan iman tidak selalu terlihat spektakuler. Sering kali ia terjadi dalam keputusan kecil yang setia, dalam penolakan diam-diam terhadap godaan, dalam kesabaran yang tidak disorot siapa pun.

Relevansi bagi Hidup Kita Hari Ini

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga menghadapi tiga jenis pencobaan yang sama:

Kenyamanan - ketika iman terasa mengganggu gaya hidup
Pengakuan - ketika iman ingin dipamerkan atau diukur dari pujian
Kekuasaan - ketika kita tergoda mengendalikan segalanya sendiri
Renungan Katolik hari ini mengajak kita belajar dari Yesus:

Iman bukan tentang menghindari pencobaan, tetapi setia di tengah pencobaan.

Prapaskah sebagai Kesempatan Bertumbuh
Matius 4:1–11 mengingatkan kita bahwa pencobaan bukan tanda kegagalan iman. Justru sebaliknya, pencobaan sering datang ketika iman sedang bertumbuh.

Masa Prapaskah adalah undangan untuk:

berani masuk ke “padang gurun” batin
belajar berkata “tidak” pada godaan halus
mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Allah
Penutup: Bersama Yesus di Padang Gurun
Setelah pencobaan itu, iblis meninggalkan Yesus, dan malaikat-malaikat datang melayani-Nya. Ini adalah janji pengharapan bagi kita semua. Allah tidak pernah meninggalkan orang yang setia, bahkan ketika jalan terasa sunyi dan berat.

Semoga Renungan Katolik Minggu 22 Februari 2026 ini menolong kita menjalani Prapaskah bukan sebagai beban, tetapi sebagai jalan pemurnian menuju kebebasan sejati.

Doa dan Refleksi Penutup

Tuhan Yesus, Engkau telah mengalahkan pencobaan dengan ketaatan dan kasih. Ajarlah kami setia di tengah godaan, percaya kepada Bapa dalam kesunyian, dan berjalan bersama-Mu menuju hidup yang sejati. Amin.(Sumber the katolik.com/kgg).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.