Filosofi Atap Rendah Masjid Merah Panjunan: Simbol Tawadhu di Balik Cagar Budaya Tertua Cirebon
Ravianto February 21, 2026 11:40 AM

TRIBUNJABAR.ID, CIREBON - Tampil mencolok dengan warna merah yang mendominasi hampir seluruh bangunan, Masjid Merah Panjunan berdiri kokoh sejak tahun 1480 dan menjadi saksi bisu penyebaran Islam di Kota Wali. 

Di balik susunan bata merahnya, tersimpan jejak dakwah Sunan Gunung Jati serta kuatnya akulturasi budaya Tiongkok yang masih terjaga hingga kini.

Berada di Jalan Panjunan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, masjid ini tampak berbeda dibandingkan tempat ibadah pada umumnya. 

Dinding hingga gapura sepenuhnya menggunakan bata merah ekspos, membuatnya dijuluki 'Masjid Merah'.

Tokoh masyarakat setempat, Isnain Kusharyanto menjelaskan, bahwa masjid ini merupakan salah satu yang tertua di Cirebon.

“Ya, Masjid Merah Panjunan ini memang termasuk masjid yang tertua, atau yang pertama ya, yang ada di Kota Cirebon ini."

Baca juga: Daftar Besaran Zakat Fitrah 2026 di Bandung Raya, Kota Bandung Rp42.500

"Dibangun di tahun 1480 atau di abad ke-15, dibangun oleh Pangeran Panjunan atau Syekh Syarif Abdurrahman bersama adik iparnya, Sunan Gunung Jati,” ujar Isnain, Sabtu (21/2/2026).

Masjid ini dibangun oleh Syekh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan, seorang ulama keturunan Arab yang menetap di kawasan tersebut.

Wilayah Panjunan sendiri dahulu dikenal sebagai kawasan para perantau Arab dan Tionghoa, yang kini populer dengan sebutan Kampung Arab.

masjid merah panjunan 3
MASJID BERSEJARAH - Masjid Merah Panjunan yang Berada di Jalan Panjunan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Sabtu 21 Februari 2026.

Menurut Isnain, kuatnya percampuran budaya sudah terlihat sejak awal berdiri.

“Memang masjid ini menunjukkan bahwa kita dari dulu ini kuat dengan akulturasi budayanya. Mulai dari gapura, terus ornamen-ornamen piring-piring Cinanya dan piring-piring Eropanya,” ucapnya.

Di bagian dinding, tampak piring-piring porselen yang ditanam langsung ke dalam susunan bata.

masjid merah panjunan cirebon 2
MASJID BERSEJARAH - Masjid Merah Panjunan yang Berada di Jalan Panjunan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Sabtu 21 Februari 2026.

Ornamen tersebut bukan sekadar hiasan, melainkan peninggalan bersejarah.

“Kalau untuk piring, itu kan ditanam di dalam bata. Piring ini memang kalau kita lihat sama dengan piring yang ada di keraton dan di Makam Sunan Gunung Jati; itu semuanya asli dari Tiongkok,” jelas dia.

Ciri khas lainnya adalah bentuk gapura tipe candi bentar yang mengingatkan pada arsitektur Jawa kuno. 

Interior masjid memperlihatkan tiang-tiang kayu penyangga yang kokoh tanpa plafon modern. 

Atapnya pun masih menggunakan sirap kayu tembesu yang telah bertahan selama berabad-abad.

“Materialnya pun masih berbahan kayu tembesu (kayu jati/keras). Ini biasa dibilang sirap. Ini sudah lama sekali. Dari awal berdiri, memang gapura dengan ornamen piring dan yang lainnya itu sudah ada,” katanya.

Tak hanya dari sisi arsitektur, masjid ini juga menyimpan filosofi mendalam. 

Atap bangunan yang relatif rendah memiliki makna simbolik.

“Kalau di Masjid Merah Panjunan ini, atapnya bisa dibilang rendah atau pendek. Tapi ini mempunyai suatu makna, bahwasanya di saat kita masuk ke dalam masjid ini, kita harus merunduk dan semuanya rata,” ujarnya.

Filosofi tersebut semakin terasa karena posisi masjid berada lebih rendah dibandingkan jalan raya di depannya, seakan mengingatkan setiap orang untuk tetap tawadhu dan rendah hati saat menghadap Sang Pencipta.

Keunikan lain yang masih terjaga adalah keberadaan Jam Matahari di sudut luar bangunan.

Alat tradisional ini memanfaatkan bayangan sinar matahari sebagai penanda waktu.

“Bahkan untuk masalah jam pun sama, umurnya sama dengan masjid ini, yaitu Jam Matahari. Itu menggunakan sinar matahari dan bayangan matahari,” ucap Isnain.

Dari pantauan di lokasi, papan informasi dari Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon menegaskan status masjid ini sebagai Bangunan Cagar Budaya.

Gerbang bata merah yang artistik berdiri tepat di tepi trotoar kota, seolah menjadi penghubung antara hiruk-pikuk modernitas dengan warisan abad ke-15.

Lebih dari sekadar tempat ibadah, Masjid Merah Panjunan adalah bukti nyata harmoni keberagaman yang telah terjalin ratusan tahun silam di Cirebon.

Di antara bata merah dan piring-piring Tiongkok yang tertanam rapi, sejarah panjang dakwah Islam dan akulturasi budaya terus hidup, mengajarkan tentang persatuan dalam perbedaan.(*)

Fakta Unik Masjid Merah Panjunan

  • Usia Bangunan: Didirikan pada tahun 1480 (abad ke-15) oleh Syekh Syarif Abdurrahman, menjadikannya salah satu masjid tertua di Kota Cirebon.
  • Ornamen Porselen: Memiliki hiasan piring asli Tiongkok dan Eropa yang tertanam langsung di dinding bata merah, simbol kuatnya akulturasi budaya.
  • Arsitektur Simbolis: Atap bangunan dibuat rendah agar setiap jamaah yang masuk merunduk, melambangkan kerendahan hati (tawadhu) di hadapan Tuhan.
  • Teknologi Kuno: Masih mempertahankan Jam Matahari sebagai penentu waktu salat tradisional yang telah digunakan sejak masjid pertama kali berdiri.
  • Material Abadi: Menggunakan kayu tembesu (jati keras) untuk sirap atap dan bata merah ekspos tanpa plester yang tetap kokoh selama ratusan tahun.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.