Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU – Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi menceritakan awal mula pembangunan Jembatan Air Cugung Patil di kawasan Kebun Tebeng.
Berawal dari melakukan pergeseran anggaran hingga riuh protes warga ketika terjadi penutupan akses jalan di Kebun Tebeng.
Hal itu diungkapkan Dedy saat Podcast bersama TribunBengkulu.com, Jumat (20/2/2026) pukul 15.01 WIB.
Dedy mengatakan, usai dilantik Presiden Prabowo Subianto, ia langsung mengecek anggaran setelah terbit Inpres Nomor 1 Tahun 2025 tentang efisiensi anggaran.
Alihkan Anggaran untuk Infrastruktur Prioritas
Beberapa anggaran terpaksa dialihkan untuk memfokuskan pembangunan infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat Kota Bengkulu.
Secara bertahap, infrastruktur di Kota Bengkulu mulai dari jalan hingga penerangan jalan mulai diperbaiki.
Dedy mengungkapkan, terdapat 77 link jalan selama tahun 2025 yang dibangun sebagai bagian dari percepatan pembangunan infrastruktur.
Meski demikian, mantan Wakil Wali Kota Bengkulu ini mengakui masih banyak warga yang menyampaikan aspirasi karena beberapa wilayah belum tersentuh perbaikan.
Tingginya tuntutan masyarakat mendorong pemerintah melakukan langkah penanganan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran.
"Ada 77 link jalan yang kita bangun selama tahun 2025. Jadi misalkan link di RT 24 Kandang Mas, saya tidak hafal satu per satu, kita memang banyak membangun, ada tujuh puluh tujuh. Namun masyarakat masih banyak yang berkata,'Pak, di tempat kami belum, Pak.' Memang banyak sekali tuntutan," ungkap Dedy saat Podcast bersama TribunBengkulu.com, Jumat (20/2/2026) pukul 15.01 WIB.
Kebun Tebeng dan Pembangunan Jembatan Air Cugung Patil
Dedy mengungkapkan, salah satu wilayah yang mendapatkan prioritas adalah Kebun Tebeng.
Kawasan tersebut sejak lama dikenal sebagai titik banjir setiap kali hujan deras turun.
Masyarakat awalnya meminta pelebaran gorong-gorong untuk mengurangi genangan.
Setelah melakukan pengecekan langsung di lapangan, pemerintah memutuskan solusi terbaik adalah pembangunan Jembatan Air Cugung Patil.
Dari perhitungan teknis, pembangunan jembatan tersebut memerlukan anggaran sekitar Rp3,5 miliar hingga Rp4 miliar.
Alokasi tersebut sebelumnya tidak tersedia dalam APBD 2025.
Pemerintah kemudian melakukan pergeseran anggaran dengan mencoret beberapa pos yang dapat ditunda dan mengalihkan dana untuk pembangunan jembatan tersebut.
"Kemudian juga soal Kebun Tebeng. Kalau orang lama tahu, Kebun Tebeng itu, Bang, setiap hujan pasti banjir. Apalagi kalau hujan sampai tiga hari, atau hujan sehari semalam dengan intensitas lebat, itu pasti banjir. Lalu apa masalah di sana? Masyarakat meminta gorong-gorongnya diperlebar. Saya datang ke sana, saya cek, kemudian saya ajak tim untuk menghitung risiko. 'PR ini bagaimana caranya? Bisa tidak dibikin dulu?' Mereka bilang, 'Pak, tanggung, Pak. Jembatan saja.'," kata Dedy.
"Oke, saya bilang, berapa kebutuhan untuk jembatan? Hitung-hitung, hasilnya Rp3,5 miliar hingga Rp4 miliar. Wah, uang kita tidak ada, kan? Saya lihat lagi APBD itu. Coret, coret, coret. Alihkan. Jadi, kemarin begitu prosesnya. Dalam APBD 2025 yang disusun sebelumnya memang tidak ada anggarannya. Tapi karena ada pergeseran anggaran, akhirnya saya alihkan. Rp 3,5 miliar itu kita gunakan untuk membangun jembatan," lanjut Dedy.
Sempat Picu Kemacetan dan Kritik
Keputusan pembangunan jembatan tersebut sempat memicu reaksi masyarakat.
Akses jalan harus ditutup cukup lama sehingga menyebabkan kemacetan.
Kritik pun bermunculan, terutama di media sosial.
Namun, penutupan jalan dinilai dibutuhkan demi percepatan penyelesaian proyek.
“Wah, itu juga pada ribut. Kenapa? Karena jalan lama ditutup, sehingga terjadi kemacetan. Itu termasuk akses yang padat, dan memang harus ditutup karena kita sedang membangun jembatan. Saya pun dibilang macam-macam, katanya tidak becus, lambat, dan sebagainya. Di media sosial juga sama saya harus menebalkan telinga, lalu mencoba untuk tetap bersabar. Singkat cerita, setelah selesai, kita resmikan. Alhamdulillah, atas izin Allah, hujan lebat apa pun sekarang tidak lagi menyebabkan banjir di sana," jelas Dedy.
Penanganan Banjir dan Penerangan Jalan
Selain Kebun Tebeng, pemerintah juga menangani titik banjir lain di Pekan Sabtu, terutama kawasan di belakang Asrama Haji yang selama puluhan tahun dilanda genangan.
Di wilayah tersebut, jembatan baru juga dibangun sebagai bagian dari janji kampanye.
Setelah rampung, kawasan itu tidak lagi mengalami banjir besar seperti sebelumnya.
Selain pembangunan jembatan dan jalan, pemerintah juga memasang ratusan titik lampu penerangan.
Pada tahun 2026, lebih dari seribu titik lampu tambahan direncanakan untuk dipasang guna meningkatkan keamanan dan kenyamanan masyarakat.
Dedy menegaskan seluruh program tidak bisa diselesaikan sekaligus karena keterbatasan anggaran.
Meski demikian, ia memastikan upaya pembangunan telah berada di jalur yang tepat.
“Tidak bisa langsung tuntas, tetapi langkah-langkahnya sudah on the track,” tutup Dedy.
Gabung grup Facebook TribunBengkulu.com untuk informasi terkini