TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Delegasi mahasiswa Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS) mendapat kesempatan berharga dengan kepercayaan sebagai penampil pembuka dalam acara "Odyssey: A Culmination of Cultures" yang diselenggarakan oleh Office of International Relations VIT Chennai dalam rangka VIBRANCE VIT 2026.
Acara yang berlangsung di Netaji Auditorium, Chennai, tersebut menghadirkan delegasi seni dan budaya dari lima benua, sepuluh negara, serta lebih dari lima puluh partisipan internasional.
Di tengah kemeriahan dan keberagaman budaya yang ditampilkan, penampilan UPGRIS sebagai pembuka menjadi perhatian khusus.
Kepercayaan ini menjadi kehormatan tersendiri sekaligus pengakuan atas kualitas artistik dan kontribusi budaya Indonesia di panggung global.
Delegasi UPGRIS Mega Novita, Ph.D., Kepala Bagian Kerjasama Internasional UPGRIS, menyampaikan pihaknya berkepentingan untuk memperluas jejaring global serta memperkuat diplomasi budaya universitas di tingkat internasional.
"Kehadiran UPGRIS sebagai pembuka acara ini menjadi wujud nyata komitmen kampus dalam memperluas kemitraan global, meningkatkan reputasi akademik, serta membawa kearifan lokal Indonesia ke panggung dunia," ungkapnya.
Baca juga: Dipenuhi Lampion, Jadwal Ramadan Light Festival Purbalingga Sampai Kapan
Budaya khas Semarang
Dalam kesempatan tersebut, UPGRIS membawakan karya tari orisinal berjudul Harmoni Warak.
Pertunjukan ini terinspirasi dari kekayaan budaya Kota Semarang, khususnya figur Warak yang dikenal luas dalam tradisi Festival Dugderan.
Dugderan merupakan perayaan tahunan masyarakat Semarang dalam menyambut bulan suci Ramadan.
Warak adalah simbol budaya khas Semarang yang sarat makna.
Figur mitologis ini memadukan unsur berbagai hewan dan mencerminkan pertemuan tiga budaya besar yang berkembang di Semarang, yakni Jawa, Tionghoa, dan Arab.
Lebih dari sekadar ikon tradisi, Warak merepresentasikan nilai persatuan, toleransi, dan kehidupan harmonis dalam keberagaman.
Melalui Harmoni Warak, UPGRIS menyampaikan pesan universal yang relevan dengan kondisi dunia saat ini.
Keberagaman bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan.
Harmoni bukan berarti keseragaman, tetapi persatuan dalam perbedaan.
Pesan tersebut diwujudkan melalui gerak tari yang dinamis, komposisi artistik yang kuat, serta ekspresi para penampil yang penuh energi.
Sebagai penampil pembuka, karya ini secara simbolis menempatkan Indonesia di barisan terdepan dalam perayaan seni dan persahabatan lintas bangsa.
Baca juga: Jadwal Imsak dan Buka Puasa Banyumas, Minggu 22 Februari 2026
Sambutan hangat dan tepuk tangan meriah dari para penonton menunjukkan bahwa pesan yang dibawa mampu diterima dengan baik oleh audiens internasional.
Pertunjukan ini dibawakan oleh empat mahasiswi UPGRIS, yakni Primadona, Siti Qomariyah, dan Ririn Sandita dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, serta Nafisa Arum Pramesti dari Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah, Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni.
Keempatnya tampil percaya diri dan menunjukkan dedikasi tinggi dalam membawakan karya tersebut.
Seluruh pertunjukan merupakan ciptaan orisinal Universitas PGRI Semarang dan ditampilkan dengan dukungan penuh dari institusi.
Partisipasi UPGRIS dalam ajang internasional ini berada di bawah dukungan Wakil Rektor I Bidang Kerjasama Akademik, Dr. Muniroh Munawar, S.Pi., M.Pd., sebagai bagian dari penguatan program internasionalisasi universitas. (arl)