Penulis: Putri Salsabilah, Mahasiswa Magang UNG
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Senja baru saja turun di kawasan Jalan Prof. Dr. H. B Jassin, tepatnya di wilayah Limba U I, Kecamatan Kota Selatan.
Di depan gerai Coffee Toffee, seorang pria paruh baya tampak berdiri menjaga gerobak kayunya.
Menjelang waktu berbuka, ia bersiap menutup lapak sejenak sebelum berpindah ke titik lain di sekitar Apotek Kiddy, Limba B, yang kerap ramai pada malam hari.
Pria itu adalah Ridwan Baat (64), warga Kelurahan Ipilo, Kota Gorontalo.
Sejak 1985, ia menggantungkan hidup dari berjualan balon udara karakter buatan tangannya sendiri.
Baca juga: Masuk Hari ke-3 Ramadan, Ini Amalan dan Keutamaan yang Sayang Dilewatkan
Di saat Gorontalo belum seramai sekarang, Ridwan sudah lebih dulu berdiri di trotoar, meniup balon satu per satu, lalu menjajakannya kepada anak-anak dan orang tua yang melintas.
Berbeda dengan pedagang mainan pada umumnya, Ridwan tidak sekadar mengambil barang dari pemasok.
Balon karakter warna-warni yang menjadi andalannya ia rakit sendiri.
Bahkan gerobak kayu tempat ia menyusun dagangan juga hasil buatannya.
Meski sebagian mainan lain ia ambil dari toko, balon karakter buatannya tetap menjadi produk paling diminati pembeli.
Baca juga: Harga Daging Mulai Naik di Pasar Sentral Kota Gorontalo saat Ramadan
Harga yang ia tawarkan bervariasi, mulai dari Rp15.000 hingga Rp50.000 per buah.
Namun pendapatannya tidak selalu stabil. Pada hari yang ramai, ia bisa membawa pulang Rp100.000 sampai Rp200.000.
Di hari biasa, penghasilannya kerap berada di bawah Rp50.000. Meski begitu, ia tetap bertahan dengan perhitungan modal dan keuntungan yang sangat terbatas.
Dari hasil berjualan itulah Ridwan membiayai pendidikan tiga anaknya hingga lulus Sekolah Menengah Atas (SMA).
Dua di antaranya kini telah berkeluarga, sementara anak bungsunya masih tinggal bersamanya.
Ia mengaku sempat berharap dapat menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi, namun kondisi ekonomi membuat keinginan itu belum terwujud.
Memasuki Ramadan, jadwal berjualannya menyesuaikan suasana kota.
Ia mulai membuka lapak pada sore hari menjelang Magrib, menutup sementara saat berbuka, lalu kembali berjualan selepas salat Tarawih.
Pada momen tertentu, ia pernah menerima pesanan dalam jumlah besar dari kegiatan di sejumlah perguruan tinggi di Gorontalo, mencapai 400 balon karakter dengan harga Rp8.000 per buah.(*)