Pigai Labeli Ketua BEM UGM Sebagai Penentang HAM Gegara Kritik MBG, Menolaknya Berarti Melawan PBB!
jonisetiawan February 21, 2026 04:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, menegaskan bahwa upaya untuk meniadakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Merah Putih merupakan sikap yang bertentangan dengan prinsip hak asasi manusia.

Pernyataan itu disampaikan Pigai saat menjawab pertanyaan wartawan terkait teror yang dialami Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto.

Ia berbicara di Gedung Kementerian HAM, Jakarta, Jumat (20/2/2026).

Program Sosial Disebut Sejalan dengan HAM

Pigai menyebut berbagai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, pendidikan gratis, sekolah rakyat, cek kesehatan gratis, pembangunan perumahan, kampung nelayan, hingga swasembada pangan sebagai kebijakan yang sejalan dengan prinsip HAM.

Baca juga: Bantah Teror Ketua BEM UGM, Natalius Pigai Sebut Penentang MBG Musuh Rakyat Miskin: Orang Jahat!

“Dalam konteks HAM, pemerintah melakukan makan bergizi gratis, pendidikan gratis, sekolah rakyat, cek kesehatan gratis, perumahan, kampung nelayan, kemudian swasembada pangan, adalah sejalan, seirama, sesuai dengan HAM,” kata Pigai.

Ia kemudian menegaskan bahwa pihak yang ingin menghapus program-program tersebut berarti menentang hak asasi manusia.

“Maka orang yang mau meniadakan Makan Bergizi Gratis, Cek Kesehatan Gratis, pendidikan gratis, Sekolah Rakyat, Koperasi Merah Putih, adalah orang yang menentang HAM. Orang yang menentang,” tambahnya.

Menurut Pigai, kritik untuk perbaikan layanan tetap diperbolehkan.

Namun, upaya untuk menghapus program yang menyangkut hak dasar masyarakat dinilai tidak dapat dibenarkan.

Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM diteror usai kritik MBG.
Tiyo Ardianto, Ketua BEM UGM diteror usai kritik MBG. (Instagram/@tiyoardianto_)

Dikaitkan dengan Agenda PBB

Pigai juga menyebut program MBG selaras dengan dorongan komunitas internasional, termasuk harapan UNICEF terkait pemenuhan gizi, pendidikan, dan kesehatan anak.

Ia menilai tidak tepat jika ada pihak yang meminta penghentian program yang disebutnya sejalan dengan agenda Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut.

Pigai menambahkan bahwa pelaksanaan program oleh Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka merupakan amanat rakyat sekaligus bagian dari komitmen internasional.

“Maaf ya, ketika program-program yang baik ini diarahkan dengan Pemilu, maka menurut saya itu menentang orang kecil. Itu orang jahat.

Orang yang tidak punya nurani. Orang yang tidak punya hati bagi orang kecil yang di depan mata orang miskin,” ujar Pigai.

Latar Belakang Kritik dan Teror

Program MBG sebelumnya sempat dikritik oleh BEM UGM dalam aksi simbolik di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 24 September 2025.

Dalam aksi tersebut, BEM menghadirkan seekor sapi dengan kepala ditempeli foto Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk kritik satir terhadap program MBG.

BEM UGM menilai program tersebut menimbulkan ribuan kasus keracunan serta mempersoalkan aspek anggaran pendidikan.

Baca juga: Diksi Keras Guncang Istana! Ketua BEM UGM Akhirnya Meminta Maaf ke Prabowo Soal Sebutan Bodoh

Belakangan, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto mengalami serangkaian teror setelah menyuarakan persoalan tewasnya seorang siswa di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ia menerima ancaman, mengalami penguntitan, hingga pemotretan oleh pihak tak dikenal pada 9–11 Februari 2026.

Salah satu ancaman yang diterimanya berupa pesan penculikan dari nomor tak dikenal. Tiyo juga menyebut ibundanya menerima pesan tengah malam yang menuduh dirinya menggelapkan uang.

Pernyataan Pigai muncul di tengah polemik tersebut, sekaligus mempertegas posisi pemerintah bahwa program-program sosial yang dijalankan saat ini dianggap sebagai bagian dari pemenuhan hak dasar masyarakat.

***

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.