Sosok Dwi Sasetyaningtyas, Alumni Penerima LPDP Klarifikasi Usai Viral Sebut Lelah Jadi WNI
M Zulkodri February 21, 2026 06:03 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Sosok Dwi Sasetyaningtyas mendadak menjadi sorotan publik setelah videonya di media sosial viral dan memicu polemik.

Ia merupakan alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), lembaga di bawah Kementerian Keuangan yang mengelola dana pendidikan nasional dan dikenal melalui program beasiswa magister serta doktor di dalam maupun luar negeri.

Kontroversi bermula ketika Dwi mengunggah video yang memperlihatkan paspor Inggris milik anaknya.

Baca juga: Jadwal Puasa Ramadan 2026 21 Februari Kota Jambi, Bengkulu, Lampung dan Banten, Serta Batas Imsak

Dalam video tersebut, ia mengungkapkan kebahagiaannya dan menyebut ingin anak-anaknya memiliki “paspor kuat WNA”.

Pernyataan itu kemudian menuai reaksi keras dari warganet yang menilai ucapannya terkesan merendahkan paspor Indonesia, terlebih ia merupakan alumni beasiswa yang dibiayai dari dana publik.

Video tersebut akhirnya dihapus.

Namun, rekamannya telanjur beredar luas dan memicu perdebatan di media sosial.

Kritik pun bermunculan, mempertanyakan komitmen nasionalisme seorang penerima beasiswa negara.

Menanggapi polemik tersebut, Dwi menyampaikan permintaan maaf terbuka.

Ia mengaku pernyataannya dilatarbelakangi rasa lelah dan kecewa terhadap kondisi yang ia rasakan sebagai WNI, namun menyadari penyampaiannya tidak tepat.

“Saya meminta maaf atas pernyataan saya yang menimbulkan kegaduhan dan melukai perasaan banyak pihak. Tidak ada sedikit pun niat saya untuk merendahkan bangsa sendiri. Saya bangga menjadi WNI,” tulisnya.

Dalam klarifikasi lengkapnya, Dwi juga menyampaikan:

"Sehubungan dengan unggahan saya sebelumnya yang memuat kalimat “cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan”, dengan ini saya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat yang merasa tersakiti, tersinggung, maupun tidak nyaman atas pernyataan tersebut.

Pernyataan tersebut lahir sepenuhnya dari rasa kecewa, lelah, dan frustrasi pribadi saya sebagai Warga Negara Indonesia terhadap berbagai kondisi yang saya rasakan.

Namun, saya menyadari bahwa kekecewaan tersebut tidak seharusnya disampaikan dengan cara yang berpotensi melukai perasaan banyak orang, terlebih berkaitan dengan identitas kebangsaan yang kita junjung bersama.

Saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai Warga Negara Indonesia.

Untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik. Apa pun latar belakang emosi yang melatarinya, dampak dari pernyataan tersebut tetap menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya.

Melalui pernyataan ini, saya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tersakiti serta atas kegaduhan yang terjadi.

Saya sangat menghargai setiap kritik dan masukan yang telah disampaikan secara baik dan konstruktif, sebagai pembelajaran untuk terus memperbaiki diri, termasuk belajar berkomunikasi dengan lebih bijaksana, lebih jernih, dan lebih berempati dalam menyampaikan pandangan di ruang publik.

Saya mencintai Indonesia, dengan segala harapan dan tantangannya, dan semoga saya tetap bisa terus berkontribusi untuk Indonesia hari ini dan di masa depan.

Semoga di bulan suci Ramadan ini, kita bisa saling menata hati, memperbaiki diri, dan fokus menjalankan ibadah sepenuh hati"

Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak LPDP terkait polemik tersebut.

Sosok Dwi Sasetyaningtyas

Dwi Sasetyaningtyas, yang akrab disapa Tyas, merupakan lulusan Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung (2009–2013).

Ia kemudian melanjutkan studi S2 Sustainable Energy Technology di Delft University of Technology melalui beasiswa LPDP pada 2015–2017.

Kariernya dimulai di Procter & Gamble (P&G) sebagai Customer Business Development Manager (2013–2015).

Pada 2018, ia mendirikan Sustaination sebagai social enterprise yang berfokus pada produk ramah lingkungan dan dukungan UMKM, serta Sustaination Institute pada 2020 untuk riset dan edukasi keberlanjutan.

Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan lingkungan, termasuk pengelolaan sampah, energi surya, penanaman mangrove, hingga pemberdayaan ibu rumah tangga.

Dwi menyatakan telah memenuhi kewajiban sebagai alumni LPDP dengan berkontribusi di Indonesia pada periode 2017–2023.

(Bangkapos.com/Tribun Medan/Surya.co.id)
 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.