SURYA.CO.ID, PONOROGO - Aksi kejar-kejaran mewarnai razia petasan yang digelar aparat kepolisian di Jalan Batoro Katong, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur pada Sabtu (21/2/2026) pagi. Puluhan anak hingga remaja langsung kocar-kacir saat mengetahui kedatangan petugas.
Razia yang digelar usai waktu salat Subuh ini menyasar kawasan barat perempatan Pasar Pon. Operasi gabungan ini melibatkan personel dari Polsek Siman, Polsek Jenangan dan Polsek Babadan untuk menciptakan kondisi kondusif dan aman bagi pengguna jalan.
Kapolsek Siman, AKP Nanang Budianto, menjelaskan bahwa tindakan tegas ini diambil merespons keluhan masyarakat.
Warga melaporkan adanya aktivitas menyalakan petasan di pinggir jalan raya yang sangat mengganggu dan membahayakan pengendara yang melintas.
"Kami dapat laporan warga yang melintas merasa terganggu. Ketika melintas, ada yang menyalakan petasan di pinggir jalan," ungkap AKP Nanang, Sabtu (21/2/2026).
Berikut fakta-fakta terkait penggerebekan tersebut:
Saat petugas tiba di lokasi, puluhan bocah tersebut panik. Mereka langsung membuang petasan ke sembarang tempat sebelum melarikan diri. Namun, satu anak yang tidak menyadari kehadiran polisi tetap asyik menyalakan petasan hingga akhirnya diamankan.
"Tadi kami mengamankan seorang anak, menyalakan petasan, saya amankan. Kami mengamankan 6 buah bumbung," urai Nanang.
Fenomena menyalakan petasan atau 'mercon bumbung' usai salat Subuh kerap muncul sebagai tradisi musiman, khususnya saat bulan Ramadan atau hari besar lainnya. Di Ponorogo dan sekitarnya, aktivitas ini sering disebut sebagai bagian dari 'asmara subuh'.
Bumbung atau mercon rakitan ini biasanya terbuat dari kaleng bekas atau pipa yang diisi spirtus atau karbit. Meski terlihat sederhana, daya ledaknya bisa dimodifikasi menjadi sangat kuat.
AKP Nanang menegaskan, meskipun fisik petasannya kecil, jika diberi lilitan kertas dan dimodifikasi, efek ledaknya bisa fatal.
"Bisa membahayakan yang menyulut atau membahayakan masyarakat yang lewat Jalan Batoro Katong," tegasnya.
Menyikapi kejadian ini, pihak kepolisian mengimbau keras kepada para orang tua untuk lebih ketat mengawasi aktivitas anak-anaknya, terutama selepas waktu subuh.
"Untuk anak yang tertangkap basah tadi, kami panggil orang tua yang bersangkutan. Saya minta agar anaknya diawasi, supaya tidak bermain dengan sesuatu yang berbahaya," jelas Nanang.
Polisi memastikan akan terus melakukan patroli rutin hingga kegiatan berbahaya ini benar-benar hilang dari jalanan Ponorogo.