Rekam Jejak Said Abdullah yang Bagikan Zakat Mal ke Ribuan Jamaah Salat Tarawih di Sumenep
Putra Dewangga Candra Seta February 21, 2026 09:32 PM

 

SURYA.co.id – Ribuan jemaah Salat Tarawih di Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur, merasakan kehangatan Ramadan sejak hari pertama. 

Mereka menerima zakat mal yang disalurkan langsung oleh politisi senior PDI Perjuangan sekaligus anggota DPR RI, Said Abdullah, Rabu (18/2/2026).

Pembagian zakat mal tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan tradisi kepedulian yang dijalankan secara konsisten setiap bulan suci Ramadan.

Zakat mal yang disalurkan berasal dari harta pribadi dan diberikan langsung kepada masyarakat tanpa simbol politik apa pun.

Kepedulian yang Konsisten, Kewajiban yang Dijaga

Ketua DPP PDI Perjuangan, Said Abdullah
Ketua DPP PDI Perjuangan, Said Abdullah (Istimewa/Dokumen PDI Perjuangan Jatim)

Tim distribusi zakat mal Said Abdullah di Sumenep, Moh Fauzi, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral dan keagamaan yang selalu dijaga setiap tahun.

"Pembagian zakat mal itu merupakan kewajiban yang ditunaikan oleh Bapak Said Abdullah dan rutin tiap tahun. Termasuk tahun 2026 ini," kata Moh Fauzi saat dikonfirmasi, Kamis (19/2/2026), dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.

Menurutnya, konsistensi ini menjadi bagian dari komitmen pribadi Said Abdullah untuk terus hadir membantu masyarakat, khususnya di bulan Ramadan yang penuh kebutuhan bagi banyak keluarga.

Serentak di Delapan Masjid, Menjangkau Lebih Banyak Jemaah

Pada Ramadan 1447 Hijriah, penyaluran zakat mal dilakukan secara serentak di delapan titik masjid dan musala di Kabupaten Sumenep.

Beberapa lokasi di antaranya Masjid Laju dan Wakaf Abdullah di Kecamatan Sumenep, serta Masjid Fathimah binti Said Gauzan di Kecamatan Manding.

Ribuan jemaah yang mengikuti salat tarawih perdana tampak tertib menerima zakat mal berupa uang tunai yang dibungkus amplop putih polos, tanpa logo, foto, maupun atribut tertentu.

Bantuan Tanpa Panggung, Doa Mengalir dari Jemaah

Said Abdullah, Ketua DPP PDI Perjuangan mengenang sosok Kwik Kian Gie
Said Abdullah, Ketua DPP PDI Perjuangan mengenang sosok Kwik Kian Gie (Foto Istimewa PDI Perjuangan)

Distribusi zakat berlangsung lancar dan khidmat, menyatu dengan suasana ibadah Ramadan.

Bagi banyak jemaah, bantuan tersebut menjadi penopang awal untuk memenuhi kebutuhan selama bulan puasa.

"Alhamdulillah, distribusi zakat mal Bapak Said Abdullah berjalan lancar. Semoga bermanfaat dan bisa membantu meringankan kebutuhan jemaah pada Ramadan ini," ujarnya.

Di tengah kesederhanaan pembagian tersebut, terselip doa-doa tulus dari masyarakat Madura, doa yang mengalir sebagai balasan atas kepedulian yang dilakukan tanpa sorotan, namun terasa nyata manfaatnya.

Rekam Jejak Said Abdullah

Dilansir laman resmi DPR RI, Said Abdullah lahir di Sumenep pada 22 Oktober 1962.

Said Abdullah merupakan lulusan Universitas Imam Saud Saudi Arabia.

Said merupakan anggota DPR RI periode 2019-2024.

Sebelumnya, Said juga sudah menjabat sebagai anggota DPR RI pada 2014-2019.

Politisi PDIP ini pernah menjadi Calon Wakil Gubernur Jawa Timur pada 2013 lalu.

Pada periode 2009-2014, Said Abdullah sempat menjadi anggota DPR/MPR RI.

Pada 2004-2009, dirinya juga menjabat sebagai anggota DPR RI.

Said Abdullah pernah bekerja di PT Bangun Arta (Trading, Handling Coal Batubara), sebagai Senior Marketing Manager pada 1996-2004.

Said juga sempat bekerja di PT Sinar Agung Pratama (bidang ekspor impor perikanan) sebagai Manager Operasional pada 1992-1996.

Pada 1990-1992, ia bekerja di PT Sapta Forta (bidang ekspor impor perikanan) sebagai Manager Operasional.

Riwayat Organisasi

1. Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Perekonomian (sekarang);

2. Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Timur Bidang Kemeritiman (2014-2019);

3. DPP Banteng Muda Indonesia, sebagai bendahara (2007-2012);

4. Bidang Dakwah Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia, sebagai ketua (2007-2012);

5. DPD PDI Perjuangan, sebagai wakil bendahara (2005-2010);

6. DPC PDI Kabupaten Sumenep, sebagai Balitbang (2001-2005);

7. DPC PDI Kabupaten Sumenep, sebagai wakil ketua (1988-1992);

8. MPP PDI, sebagai anggota (1988-1992);

9. Majelis Muslimin Indonesia Kab.Sumenep, sebagai ketua (1984-1987);

10. DPC Pemuda Demokrat Kab.Sumenep, sebagai ketua (1984-1988);

11. DPC PDI Kabupaten Sumenep, sebagai sekretaris (1983-1988);

12. DPC Banteng Muda Indonesia Kabupaten Sumenep, sebagai ketua (1982-1985).

Mencermati perolehan suara yang sangat tinggi, Surokim, pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Bangkalan menegaskan hasil ini membuktikan ketokohan Said Abdullah di bumi Madura ini.

“Pak Said itu tokoh politik senior, kiprah politiknya sejak 80-an dan setia dari era PDI hingga menjadi PDI Perjuangan. Ketokohan politiknya di Madura periode ini tiada duanya,” ujarnya, melansir dari Tribunnews.

“Saat ini boleh jadi Pak Said merupakan tokoh yang “dituakan” dalam hal kiprah politik di Madura. Apalagi kultur masyarakat di Madura sangat menjunjung tinggi tokoh tokoh senior,” terangnya

Surokim juga menambahkan Pak Said bukan hanya tokoh lama di Madura, tetapi memiliki jaringan akar rumput yang luas, mulai jaringan kepala desa hingga kepala daerah, guru ngaji dan guru guru ditingkat mad rasakan hingga aliyah selama ini di ramut aspirasinya dengan baik.

Relasi yang terjalin kuat inilah yang menggerakkan akar rumput, hingga mendulang suara begitu besar, bahkan juara nasional.

“Tantangan kedepan memang tidak mudah dan tetap terjal. Saya pikir ke depan beliau juga harus ada persiapan regenerasi untuk backup partai di dapil Madura mengingat faktor ketokohan beliau yang sesungguhnya tidak mudah ditransformasikan dengan mudah.

Namun, saya yakin beliau pasti sudah punya byk agenda dan rencana untuk memberi hal terbaik untuk dapil Madura. Itu sungguh nggak perlu diragukan lagi sudah teruji dan terbukti oleh waktu”, terang Surokim.

Sementara itu, Airlangga Pribadi, pengamat politik dari Universitas Airlangga menyatakan perolehan suara Pak Said dalam pileg 2024 ini mengukir sejarah baru, bukan saja mencatatkan perolehan suara tertinggi nasional namun memecahkan rekor dari perolehan suara caleg selama perhelatan pemilu.

“Hal ini didapatkan tentu tidak mudah, kuncinya beliau di pandang oleh rakyat di Madura sebagai politisi yang amanah, dan peduli terhadap basis wong cilik, termasuk jaringan pemerintah desa dan kabupaten se Madura yang beliau jalin dengan baik,” pungkasnya.

Delapan politikus yang akan mewakili masyarakat Madura di Senayan yaitu MH Said Abdullah, Achmad Baidowi, Syafiuddin, Hasani bin Zuber, Imron Amin, Eric Hermawan, Slamet Ariyadi, dan Willy Aditya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.