BANJARMASINPOST.CO.ID - Artis Celine Evangelista menjalani puasa pertamanya semenjak menjadi mualaf.
Menariknya, dua putra Stefan William yakni Eadred Koa Lewis Miguel dan Lucio Otthild William ikut berpuasa dengan ibunya.
Terlihat Celine dan dua anaknya, makan bersama di rumah dengan berbagai menu tambahan lain terhidang di meja.
Celine dan Koa serta Cio kompak melafazkan doa buka puasa meskipun anak-anak Stefan itu masih cukup terbata-bata saat membaca.
Di sisi lain, Celine berbagi tips agar puasa lancar seharian meskipun mengidap penyakit asam lambung.
Lantas bagaimana tips menjalankan puasa selama bulan Ramadan agar lancar khususnya bagi mereka yang memiliki penyakit asam lambung?
Berdasarkan pantauan Banjarmasinpost.co.id melalui postingan TikTok @celineevangelista, Jumat (20/2/2026) sang artis memberikan tips lancar puasa seharian apalagi ia mempunyai riwayat penyakit asam lambung.
Baca juga: Ayah Rojak Hanya Nyengir Disentil Ayu Ting Ting Soal Habiskan Uangnya: Orang Rumah Disuruh Bayar
Baca juga: Kena Tipu, Ria Ricis Terpaksa Batal Umrah Saat Ramadhan, Adik Okie Setiana Dewi: Kita Tahan Dulu
“Waktu pertama-tama aku memutuskan untuk mualaf pastinya banyak yang aku pelajarin terutama di bulan Ramadan aku harus berpuasa, “ kata Celine Evangelista.
Penyakit tersebut cukup mengganggu jalannya berpuasa karena saat asam lambung naik ia bisa mengalami perut begah, kembung, mual bahkan muntah-muntah.
Sedangkan di satu sisi, ia melihat kerabat lain yang juga berpuasa namun tidak mengalami hal yang sama demikian.
“Aku ada asam lambung dan sempat asam lambungku tuh naik
Perut aku begah, kembung, mual-mual, muntah-muntah langsung mikir kok yang lain pada gak kenapa-kenapa kok aku doang yang kaya gini apa mungkin aku salah ya, “ ungkapnya.
Akhirnya ia berkonsultasi dengan temannya yang merupakan seorang dokter lalu disarankan untuk mengonsumsi sereal yang mengandung umbi, daun kelor dan susu kambing etawa berfungsi meredakan asam lambung.
Celine mencontohkan salah satu sereal yang seperti demikian ialah nutriflakes, sereal sehat berbasis pati umbi garut, daun kelor, dan susu kambing etawa yang dirancang sebagai makanan terapi pendamping untuk meredakan asam lambung tinggi, maag kronis, dan GERD.
Selain mengatasi asam lambung, serela seperti demikian juga dapat membantu memperbaiki sistem pencernaan, memberikan efek kenyang lebih lama (cocok untuk diet), dan meningkatkan imunitas.
Ia menyarankan mengonsumsi makanan tersebut saat berbuka puasa dan sahur untuk melapisi dinding lambung.
Puasa pertama akan bisa menjadi pengalaman baru yang menantang, baik bagi anak maupun orang tua.
Mengajarkan anak berpuasa bukan sekadar membiasakan mereka menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membantu mereka memahami makna ibadah itu sendiri.
Psikolog sekaligus Dosen Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo, menjelaskan orang tua bisa mulai mengenalkan puasa Ramadhan kepada anak pada usia 7–10 tahun.
“Pada usia ini, anak sudah memiliki kemampuan kognitif dan fisik yang cukup untuk memahami konsep puasa,” ujar Nita saat dihubungi Kompas.com, Selasa (17/2/2026).
Ia mengaitkan hal tersebut dengan teori perkembangan kognitif Jean Piaget.
Dalam teori tersebut, anak usia 7–10 tahun berada pada tahap operasional konkret, sehingga mulai mampu memahami konsep yang lebih abstrak, termasuk makna puasa sebagai bentuk ibadah.
Agar anak mau menjalani puasa dengan lebih siap, orang tua perlu memberi dorongan yang tepat.
Nita menyebutkan beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Memberikan motivasi intrinsik: Dalam hal ini, misalnya orang tua bisa menerangkan apa sih pentingnya puasa bagi diri anak sendiri.
Memberikan dukungan emosional: Caranya beragam, bisa dengan mendengarkan keluhan anak
Membuat anak merasa memiliki kontrol atas proses puasa: Misalnya dengan membiarkan anak memilih makanan berbuka.
Langkah-langkah ini penting agar dorongan untuk berpuasa tumbuh dari dalam diri anak, bukan semata karena paksaan.
Selama mengajari anak berpuasa, pendekatan positif juga menjadi langkah krusial yang perlu dilakukan oleh orang tua.
Dengan pendekatan positif, Nita bilang, orang tua dapat membantu sang anak untuk memahami arti puasa dan membangun sebuah konsistensi.
"Orang tua harus menggunakan pendekatan yang positif dan mendukung ya agar pembentukan pola ini dapat dipertahankan anak," jelasnya.
Menurut Nita, pendekatan positif yang bisa diterapkan oleh orang tua saat mengajari anaknya berpuasa adalah:
Menjelaskan konsep puasa dengan cara yang sederhana dan jelas.
Memberikan contoh yang baik dengan berpuasa sendiri.
Membuat puasa menjadi pengalaman yang menyenangkan (misalnya, dengan membuat makanan spesial saat berbuka).
Memberikan pujian dan penghargaan atas usaha anak.
Pendekatan positif oleh orang tua supaya anak terdorong untuk berpuasa tersebut bisa didukung dengan adanya strategi konkret.
Nita menyebutkan, strategi terbaik adalah bagaimana membuat anak merasakan pengalaman berpuasa yang menyenangkan.
"Menurut saya strategi terbaiknya adalah membuat puasa menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna," tuturnya.
Dari sini, Nita mengatakan orang tua bisa menyusun target puasa yang realistis bisa dicapai oleh sang anak.
"Bisa pula memberikan hadiah atau penghargaan atas usaha anak. Bisa juga dengan membuat puasa menjadi sebuah kegiatan keluarga yang (dilakukan) bersama-sama," sebutnya.
Tapi yang perlu diingat, ini adalah masa pembelajaran anak untuk melaksanakan ibadah puasa.
Tak jarang anak mengeluh kepada orang tua saat menjalani puasa, apalagi puasa pertama. Bisa jadi, mereka merengek kelaparan, kehausan, hingga kelelahan.
Cukup wajar mengingat tubuh mereka sedang menyesuaikan diri dengan ibadah puasa, tanpa makan dan minum hingga matahari terbenam.
Saat anak mulai tampak lemas atau mengeluh, Nita menjelaskan beberapa respons untuk menanggapi sang anak.
"Ketika anak merasa lemas atau mengeluh, orang tua harus mendengarkan keluhan anak dan memberikan empati," ucapnya.
Selain itu, dukungan emosional dan motivasi yang tak kalah penting ketika anak sudah mulai merasa lemah selama jam puasa.
"Orang tua juga harus bisa membantu anak memenuhi kebutuhan fisik, misalnya memberikan air atau makanan ringan setelah berbuka," katanya.
Lebih lanjut, Nita menambahkan dalam masa-masa ini orang tua perlu mengingatkan anak tentang tujuan puasa dan manfaatnya. Dari sana, anak bisa jadi termotivasi kembali untuk berpuasa.
(Banjarmasinpost.co.id/Kristin Juli Saputri)