TRIBUN-MEDAN.com – Viral kisah seorang pria menyesal setelah mengetahui bahwa mantan istrinya telah menikah kembali dengan seorang pria penyandang disabilitas.
Pria tersebut awalnya diam-diam mengikuti kabar pernikahan sang mantan istri dengan maksud meremehkan dan mengejek.
Namun kenyataan yang ia lihat justru membuatnya terdiam dan terpukul, karena pada akhirnya ia menyadari telah kehilangan istri sekaligus anak-anaknya.
Dikutip dari Sanook.com, Sabtu (21/2/2026), pria itu harus membayar mahal atas kesalahan yang ia lakukan, yakni kehilangan keluarga dan kebahagiaan yang pernah ia miliki.
Bahkan ketika menoleh ke masa lalu, ia sendiri mengakui bahwa semua konsekuensi tersebut pantas ia terima.
Pria tersebut, yang disebut dengan nama samaran Wang, menceritakan bahwa ia menikah pada usia 17 tahun. Istrinya dikenal sebagai sosok perempuan yang pekerja keras, penuh perhatian, dan selalu berkorban demi keluarga.
Selama bertahun-tahun, sang istri menjalani perannya dengan penuh tanggung jawab. Namun seiring berjalannya waktu dan kehidupan bersama yang panjang, Wang mulai merasakan kebosanan dalam rumah tangganya.
Setelah kelahiran anak kedua, Wang semakin merasakan adanya jarak dan perbedaan dalam hubungannya dengan sang istri. Setiap hari ia pulang dari tempat kerja dalam kondisi lelah, ditambah tekanan dari anak-anak dan keluarga, membuat emosinya kerap tidak stabil.
Perasaan jengkel dan kesal pun semakin sering muncul, sehingga hubungan suami istri itu perlahan memburuk.
Dalam kondisi tersebut, Wang mulai mengenal perempuan-perempuan lain di luar rumah. Ia menjalin hubungan gelap yang baginya hanyalah hiburan semata, tanpa niat untuk mengakhiri pernikahannya.
Namun, rahasia tidak dapat disembunyikan selamanya. Ketika sang istri mengetahui perselingkuhan itu, ia memutuskan untuk mengakhiri pernikahan dan membesarkan kedua anak mereka seorang diri. Ia menilai Wang tidak memiliki kelayakan untuk menjadi seorang ayah.
Keputusan itu memicu kemarahan Wang. Dalam luapan emosi, ia menunjuk mantan istrinya dan mengatakan bahwa ia ingin melihat bagaimana perempuan itu membesarkan dua anak tanpa kehadirannya.
Meski demikian, setelah perpisahan, Wang masih mengirimkan uang nafkah untuk anak-anaknya, meskipun tidak selalu rutin.
Di sisi lain, Wang menjalani kehidupan bebas tanpa ikatan. Ia menikmati gaya hidup layaknya pria lajang, makan dan minum tanpa batas, serta terbebas dari tanggung jawab keluarga.
Perlahan, ia bahkan mulai melupakan bahwa dirinya memiliki dua orang anak. Kebebasan itu ia rasakan sebagai sesuatu yang menyenangkan, terutama karena ia menikah di usia yang sangat muda dan hampir tidak pernah menikmati masa muda sebagai pria lajang.
Dua tahun kemudian, ketika mengunjungi anak-anaknya, Wang melihat seorang pria asing yang tampak sangat dekat dengan mantan istrinya. Dari anak-anaknya, ia mengetahui bahwa pria tersebut adalah atasan ibunya.
Saat itu, Wang menganggap hubungan tersebut tidak serius, karena ia berkeyakinan tidak ada pria yang benar-benar ingin menjalin hubungan dengan seorang ibu tunggal yang memiliki dua anak.
Namun, masalah pekerjaan dan utang membuat Wang harus pindah ke daerah pinggiran kota. Sejak saat itu, ia semakin jarang bertemu dengan anak-anak dan mantan istrinya.
Ia juga diblokir dari seluruh akun media sosial mantan istrinya, sehingga hampir tidak mengetahui perkembangan kehidupan mereka.
Hingga suatu hari, Wang mendapat kabar dari seorang teman bahwa mantan istrinya akan menikah dengan seorang pria yang menggunakan kaki palsu. Mendengar kabar tersebut, ia hanya tersenyum sinis.
Didorong rasa penasaran, ia diam-diam mendatangi pernikahan itu. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa pengantin pria tersebut adalah atasan mantan istrinya yang pernah ia temui sebelumnya.
Dari informasi orang-orang di sekitarnya, Wang kemudian mengetahui bahwa pria tersebut memiliki pekerjaan yang stabil dan bersikap sangat baik terhadap istrinya serta anak-anaknya.
Pada saat itulah Wang menyadari kegagalan terbesarnya dalam hidup, yakni membiarkan anak-anaknya memanggil orang lain sebagai ayah, kehilangan keluarga, dan melepaskan kebahagiaan tanpa pernah menyadarinya.
(cr31/tribun-medan.com)