TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI - Tragedi kematian NS (12) dengan kondisi tubuh penuh luka bakar di Jampang Kulon, Sukabumi, ternyata merupakan "puncak gunung es".
Sang ayah, Anwar Satibi (38), mengungkap bahwa setahun lalu sang istri nyaris mendekam di penjara akibat menyiksa NS, namun selamat berkat aksi bersimpuh mohon ampun.
Fakta ini memicu kemarahan publik karena menunjukkan adanya siklus kekerasan yang gagal dihentikan meski sudah masuk ranah kepolisian setahun silam.
Di Instalasi Gawat Darurat (IGD), menurut Anwar, anaknya sempat memberikan keterangan saat ditanya mengenai penyebab luka yang dialaminya.
“Jawabnya di IGD. Katanya disuruh minum air panas,” ujar Anwar.
Baca juga: TERUNGKAP, Pemicu Ibu Tiri di Sukabumi Paksa Anak Minum Air Panas sampai Tewas: Bela Anak Angkat
NS kemudian menjalani perawatan intensif dan dipindahkan ke ruang ICU. Namun tak lama setelah itu, nyawanya tidak tertolong.
“Dari IGD masuk ICU, habis dari ICU meninggal,” katanya lirih.
Sekitar satu tahun lalu, Anwar sempat melaporkan istrinya ke Polres Sukabumi.
Saat itu, ia sudah tidak tahan melihat penderitaan NS yang badannya penuh luka lebam akibat dipukul benda tumpul oleh sang ibu tiri.
"Sebetulnya laporan di Polres pun belum saya cabut. Saksi waktu itu Kanit Riki."
"Kita buka baju anak saya, saya sampai nangis lihatnya," ujar Anwar pedih, Sabtu (21/2/2026).
Laporan polisi tersebut nyaris membuat sang ibu tiri masuk penjara.
Namun, perkara terhenti setelah muncul mediasi yang difasilitasi tokoh masyarakat.
Saat itulah, sang istri mengeluarkan jurus sandiwara untuk meluluhkan hati Anwar.
"Dia sampai sujud ke saya, minta jangan dilaporkan. Katanya Mama mau tobat dan berperilaku baik."
"Akhirnya terjadi perdamaian," kenangnya.
Kesepakatan damai itu kini disesali Anwar karena ternyata sang istri hanya melakukan "tobat sambal".
Anwar menyebut kekerasan setahun lalu dipicu oleh perselisihan antara NS dan anak angkat sang istri.
Setiap kali ada konflik antar-saudara, sang ibu tiri selalu memposisikan NS sebagai sasaran amuk demi membela anak angkatnya.
"Istri saya punya dua anak angkat. Kalau berantem antara anak saya (NS) dengan anak itu, yang dihantam selalu anak saya," tegas Anwar.
Kini, setelah NS meninggal dunia dengan kondisi melepuh yang mengerikan, Anwar tidak ingin lagi tertipu oleh air mata sang istri.
Ia meminta polisi menggunakan laporan lama yang belum dicabut sebagai dasar untuk memberatkan hukuman pelaku.
"Kalau memang terbukti, saya ingin ini jadi efek jera. Kita ini negara hukum, jangan semena-mena!" pungkasnya.
(*)