Penting! Hukum Berhubungan Intim Saat Puasa Ramadan, Tak Sekadar Membatalkan Puasa
muslimah February 22, 2026 12:55 AM

TRIBUNJATENG.COM - Bagaimana hukumnya bagi suami istri yang melakukan hubungan intim atau hubungan badan saat menjalankan ibadah puasa?

Apakah konsekuensinya?

Apakah hanya sebatas batalnya ibadah puasa yang tengah dijalankan?

Baca juga: Selain Berhubungan Intim, Berikut Beberapa Hal yang Mewajibkan Mandi Junub di Bulan Puasa

Baca juga: Sahur Dulu atau Mandi Junub Dulu? Penting Diketahui, Simak Penjelasan Ulama

Baca juga: Apakah Berkumur Membatalkan Puasa? Bagaimana saat Berwudhu? Berikut Hukumnya

Bulan suci Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menjaga diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa.

Salah satu pertanyaan yang kerap muncul di kalangan suami istri adalah bagaimana hukum berhubungan intim di siang hari saat menjalankan ibadah puasa?

Menjawab hal tersebut, pendakwah Buya Yahya menegaskan bahwa jimak atau hubungan suami istri di siang hari Ramadhan termasuk pelanggaran berat yang tidak hanya membatalkan puasa, tetapi juga mewajibkan kafarat.

Lantas, seperti apa ketentuan dan konsekuensinya menurut syariat Islam?

Pendiri Pondok Pesantren LPD Al Bahjah, Buya Yahya menjelaskan bahwa melakukan hubungan intim, atau jimak, di siang hari bulan Ramadhan adalah dilarang secara tegas.

Hal ini tidak hanya mencakup aktivitas tersebut dengan istri, tetapi juga dengan orang lain.

Dalam Islam, melakukan jimak di siang hari bulan puasa adalah dosa besar.

Dalam konteks ini, Buya Yahya menegaskan bahwa jika seseorang sengaja melakukan hubungan intim dengan istri di siang hari bulan Ramadhan, mereka berada dalam pelanggaran serius terhadap aturan agama.

"Aturan ini berlaku bagi setiap orang yang berpuasa dan berada dalam keadaan sehat," kata Buya Yahya dilansir dari laman Al Bahjah, Rabu (18/2/2026).

Kafarat dan Hukuman

Selanjutnya, Buya Yahya menyampaikan bahwa jika seseorang melakukan pelanggaran ini, mereka harus membayar kafarat (denda) yang ditentukan.

"Kafarat ini termasuk memerdekakan budak jika memungkinkan, atau berpuasa selama dua bulan berturut-turut.

Namun, jika seseorang tidak mampu melakukan kafarat tersebut, mereka harus memberi makan 60 fakir miskin sebagai gantinya," sambung Buya Yahya.

Pentingnya Taubat dan Istighfar

Namun, Buya Yahya menegaskan bahwa kafarat yang dikenakan oleh aturan agama ini tidak dapat dianggap enteng.

Bahkan jika seseorang membatalkan puasanya setelah melakukan pelanggaran tersebut, dosa besar tetap tercatat di hadapan Allah SWT.

Dalam penjelasannya, Buya Yahya menyoroti pentingnya taubat dan istighfar (memohon ampunan) bagi mereka yang melakukan pelanggaran tersebut.

Meskipun kafarat harus dilaksanakan sesuai ketentuan agama, penting untuk memperbaiki diri dan berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.

Menjaga Kehormatan Bulan Ramadan

Dalam konteks hukum agama Islam, Buya Yahya mengingatkan umat Islam untuk menjaga kehormatan bulan Ramadan dengan tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari segala bentuk perbuatan yang dapat merusak kesucian dan kekhususan bulan yang penuh berkah ini.

Lalu kapan waktu terbaik berhubungan intim bagi pasutri?

Seksolog dr Boyke Dian Nugraha, SpOG mengungkap waktu terbaik berhubungan suami istri saat bulan Ramadhan. 

Bagi pasangan suami istri atau pasutri yang sudah menikah, melakukan hubungan intim merupakan sebuah kebutuhan penting.

dr Boyke mengatakan, hubungan intim atau hubungan seksual merupakan suatu kebutuhan manusia bagi yang sudah menikah.

Dengan datangnya bulan Ramadhan justru tidak menghentikan pasutri untuk melakukan hubungan seksual, justru ada waktu terbaik yang dianjurkan dari sisi kesehatan. 

"Jika berpuasa itu hubungan dengan Tuhan yang berkaitan dengan amal ibadah kita, tapi hubungan seks juga sebenarnya ada nuansa-nuansa ibadah di dalamnya, ibadah antara suami dan istri," kata dr Boyke dikutip Serambinews.com dari tayangan Boykepedia di Vidio.com.

Menurut dokter berkacamata itu, hubungan suami istri bukan hanya melampiaskan hawa nafsu semata melainkan juga suatu bentuk ekspresi cinta yang paling tinggi.

Karena itu dengan datangnya bulan suci Ramadhan, bukan berarti pasutri juga harus puasa seksual, karena sebenarnya aktivitas tersebut juga merupakan ibadah bagi umat Muslim.

"Kita juga harus tahu bahwa hubungan seks bukan semata-mata melampiaskan hawa nafsu saja tetapi hubungan suami istri juga untuk memupuk cinta kasih dan untuk mengekspresikan cinta yang paling tinggi," tegasnya.

Lantas kapan waktu terbaik berhubungan suami istri saat Ramadhan?

Kita tahu di saat bulan puasa kita hanya mendapatkan sumber energi saat sahur dan berbuka puasa, maka kita harus banyak menghemat energi yang kita keluarkan untuk bekerja. 

Begitu pula selama rentang waktu puasa dari sahur hingga berbuka, pasutri tidak boleh berhubungan intim sama sekali.

Agar hubungan intim tetap bisa berjalan dengan seharusnya selama bulan Ramadhan, dr Boyke mengungkap kapan waktu terbaik bagi pasutri bisa melakukan hubungan intim.

"Hanya ada kesempatan (untuk berhubungan intim) itu sebelum sahur atau setelah buka," kata dr Boyke.

Namun, lanjut dia, kebanyakan orang lebih memilih mmaksimalkan waktu di bulan Ramadhan untuk beribadah wajib maupun sunnah setelah berbuka, seperti shalat maghrib, isya, tarawih, membaca Al-Quran hingga berzikir.

Inilah yang membuat dr Boyke berpikir jika sebelum sahur adalah waktu yang paling tepat untuk pasutri hubungan intim.

Terlebih, di jam-jam ini, hormon testosteron pada lelaki juga tengah mencapai puncaknya.

"Jadi waktu yang paling tepat menurut saya adalah waktu menjelang sahur dan secara medis pun di saat sebelum sahur terutama hormon laki-laki sedang mencapai peeknya (tinggi-tingginya dan si perempuan dan laki-lakinya juga sudah cukup beristirahat," sambung dr Boyke.

Selain itu ada keuntungan lain jika berhubungan intim sebelum sahur, dimana pasutri bisa melanjutkannya dengan mandi junub lalu menyiapkan makanan sahur yang bergizi dan disantap bersama.

"Saya kira pembagian waktu itu cukup baik, jadi menjelang sahur atau setelah kegiatan tarawih  sekirtar jam 10-an, silahkan! Tapi kalau mau yang terbaik dimana hormon-hormon mencapai puncaknya terutama hormon testosteron yaitu pada saat menjelang sahur," pungkas dr Boyke. 

(Serambinews.com/)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.