TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – PSMS Medan harus menelan kenyataan pahit saat melakoni laga tandang ke markas Persekat Tegal pada pekan ke-20 Pegadaian Championship musim 2025/2026.
Bertanding di Stadion Tri Sanja, Tegal, Sabtu (21/2/2026), tim berjuluk Ayam Kinantan itu takluk dengan skor 0-2 dari tuan rumah yang dikenal dengan sebutan Laskar Ki Gede Sebayu.
Secara permainan, PSMS sejatinya tidak tampil buruk.
Sejak menit awal, skuad asuhan Eko Purdjianto berupaya mengambil inisiatif serangan.
Aliran bola dari lini tengah berjalan cukup rapi, dan beberapa kali barisan depan PSMS mampu menembus pertahanan Persekat.
Namun, efektivitas menjadi persoalan utama.
Sejumlah peluang emas yang tercipta gagal dikonversikan menjadi gol.
Penyelesaian akhir yang kurang tenang serta disiplin lini belakang tuan rumah membuat setiap peluang terbuang sia-sia.
Sebaliknya, Persekat tampil lebih pragmatis. Meski tidak banyak menciptakan peluang, mereka mampu memaksimalkan setiap celah yang muncul dari kesalahan lini pertahanan PSMS.
Gol pertama lahir pada menit ke-25 melalui Atieda yang berhasil memanfaatkan kelengahan bek PSMS di luar kotak penalti.
Sepakan keras kaki kiri Atieda gagal diantisipasi sang penjaga gawang Reky Rahayu.
Tertinggal satu gol membuat PSMS meningkatkan intensitas serangan, tetapi hingga turun minum skor tetap 1-0 untuk tuan rumah.
Memasuki babak kedua, PSMS kembali mencoba menekan. Beberapa pergantian pemain dilakukan untuk menambah daya gedor.
Akan tetapi, ketika upaya menyamakan kedudukan belum membuahkan hasil, Persekat justru menggandakan keunggulan pada menit ke-76 lewat Arsyad.
Gol tersebut kembali berawal dari situasi yang mampu dimanfaatkan dengan baik oleh tuan rumah.
Kekalahan ini membuat PSMS tidak pernah meraih kemenangan atas Persekat di Pegadaian Championship musim ini. Dari tiga pertemuan, PSMS mencatatkan satu hasil imbang dan dua kekalahan.
Tambahan tiga poin membawa Persekat tetap berada di peringkat kesembilan dengan koleksi 22 poin.
Meski demikian, mereka kini semakin dekat dengan PSPS Pekanbaru yang hanya unggul selisih satu poin.
Sementara itu, PSMS masih tertahan di peringkat kelima dengan 29 poin.
Posisi tersebut berpotensi berubah apabila Persiraja Banda Aceh mampu meraih kemenangan atau setidaknya mencuri poin saat bertandang ke markas FC Bekasi City di Stadion Patriot, Minggu (22/2/2026).
Pelatih Kepala PSMS, Eko Purdjianto, mengakui timnya sebenarnya tampil cukup baik dalam membangun serangan dan menciptakan peluang sepanjang pertandingan.
Ia menilai para pemain sudah menjalankan skema permainan sesuai rencana, terutama dalam hal penguasaan bola dan distribusi dari lini tengah ke lini depan.
Namun demikian, Eko menyadari persoalan utama yang membuat PSMS gagal meraih hasil positif adalah penyelesaian akhir.
Sejumlah peluang bersih yang didapat di depan gawang lawan tidak mampu dikonversikan menjadi gol.
Menurutnya, ketenangan dan ketajaman dalam momen-momen krusial masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi.
Ia menegaskan bahwa dalam pertandingan dengan tensi tinggi seperti ini, efektivitas menjadi kunci.
Ketika peluang yang dimiliki tidak bisa dimaksimalkan, maka tim lawan akan mendapatkan ruang untuk menghukum lewat kesempatan yang lebih sedikit.
Karena itu, evaluasi ke depan akan difokuskan pada peningkatan kualitas finishing, pengambilan keputusan di sepertiga akhir lapangan, serta kepercayaan diri para pemain saat berada di depan gawang.
“Kita tadi punya beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan untuk terjadinya gol.
Tapi justru peluang dari Persekat yang bisa mereka maksimalkan.
Hanya dua gol, tapi itulah sepak bola. Saat mereka sudah unggul 2-0, mereka sangat disiplin sehingga kita kesulitan. Kita sebenarnya bisa mendapatkan peluang, tapi belum bisa menjadi gol,” ujarnya.
Ia juga menyinggung momen gol pada babak pertama yang, menurut penilaiannya, diawali dengan adanya sedikit senggolan terhadap pemain PSMS sebelum bola akhirnya berhasil dikuasai pemain Persekat Tegal.
Eko menilai insiden tersebut membuat pemainnya kehilangan keseimbangan saat mencoba mengamankan bola.
Situasi itu kemudian dimanfaatkan lawan untuk merebut penguasaan dan melanjutkan serangan hingga berujung gol ke gawang PSMS Medan.
Meski begitu, ia tidak ingin terlalu larut mempermasalahkan kejadian tersebut.
Menurutnya, kontak fisik dalam pertandingan merupakan hal yang lumrah terjadi dan menjadi bagian dari dinamika sepak bola.
Ia pun memilih untuk menghormati keputusan wasit serta menjadikannya sebagai bahan evaluasi agar para pemain bisa lebih siap dan fokus menghadapi situasi-situasi serupa di laga berikutnya.
“Tadi di babak pertama ada sedikit dorongan dari pemain lawan ke pemain kita. Tapi itulah sepak bola,” katanya.
Senada dengan sang pelatih, pemain PSMS, Nazar Nurzaidin, menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat kepada Persekat Tegal atas kemenangan yang mereka raih.
Ia mengakui hasil tersebut tentu mengecewakan bagi timnya, mengingat PSMS memiliki sejumlah peluang yang seharusnya bisa dimaksimalkan.
Menurut Nazar, kekalahan ini akan menjadi catatan penting sekaligus bahan evaluasi bagi tim untuk menghadapi pertandingan berikutnya.
Ia menegaskan seluruh pemain harus segera bangkit, memperbaiki kekurangan—terutama dalam hal penyelesaian akhir dan konsistensi permainan—agar bisa kembali ke jalur kemenangan pada laga selanjutnya.
“Saya mengucapkan selamat kepada Persekat Tegal yang sudah meraih kemenangan. Tentunya ini hasil yang cukup mengecewakan bagi kita. Tapi perjalanan belum selesai. Kita akan fokus kembali ke pertandingan selanjutnya. Yang pasti akan kita evaluasi adalah penyelesaian akhir dan semua aspek permainan,” ucapnya.
Hasil ini menjadi pekerjaan rumah bagi PSMS Medan, terutama dalam hal efektivitas serangan.
Dengan kompetisi yang semakin ketat di papan atas klasemen, setiap poin menjadi sangat berarti dalam upaya menjaga peluang bersaing hingga akhir musim.
(cr29/tribun-medan.com)