TRIBUNGORONTALO.COM - Aneka jajanan kue tradisional untuk berbuka puasa atau takjil di Kota Gorontalo ternyata masih ada harga Rp1.000.
Jualan ini pu menjadi primadona bagi warga Gorontalo yang berburu takjil saat Ramadan 1447 Hijriah.
Aneka jualan itu berada di samping simpang empat Ruang Terbuka Hijau (RTH) atau di Jalan Madura, Kelurahan Liluwo Kecamatan, Kota Tengah Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo
Pantauan Wartawan TribunGorontalo.com pada Sabtu sore (21/2/2206). belasan lapak takjil mulai di jajakan di pinggiran jalan trotoar.
Sejak awal Ramadan, lapak-lapak kue sederhana yang berjajar di kawasan ini selalu ramai diserbu pembeli menjelang waktu berbuka puasa.
Bahkan, tak jarang kue-kue tersebut ludes terjual sebelum azan magrib berkumandang.
Wahyuni Pahrun, penjual kue mengaku sudah mulai bersiap sejak siang hari untuk melayani pembeli.
Ia mengatakan, aktivitas berjualan dilakukan setiap hari selama bulan Ramadan.
“Kami mulai dari jam 12.00 siang sudah atur-atur barang. Biasanya ramai itu sore hari, dan sebelum magrib kue sudah habis,” ujar Wahyuni saat diwawancarai TribunGorontalo.com
Wahyuni menjelaskan, berbagai jenis kue tradisional disiapkan untuk memenuhi selera masyarakat.
Mulai dari lalampa atau lemper, cara isi, biapong goreng, lapis pisang dan aneka kue lainnya.
“Macam-macam kue ada. Banyak pilihan, jadi pembeli tinggal pilih,” katanya.
Dari sekian banyak jajanan yang dijual, Wahyuni menyebut kue lalampa menjadi salah satu yang paling diminati pembeli.
Selain rasanya yang gurih, harga yang terjangkau membuat masyarakat tak ragu membeli dalam jumlah banyak.
“Yang paling banyak diminati itu lalampa, itu yang selalu habis sebelum magrib," jelasnya.
Meski seluruh kue dijual dengan harga serba Rp1.000, Wahyuni menegaskan bahwa usahanya tetap memberikan keuntungan.
Menurutnya, harga tersebut sudah menjadi tradisi sejak lama, khususnya saat Ramadan.
“Dari dulu memang kami jual harga seribu. Tidak rugi, masih bisa jalan,” jelasnya.
Ia juga mengatakan, peningkatan jumlah pembeli sangat terasa saat bulan puasa.
Pembeli sendiri bukan hanya warga sekitar, tapi ada yang datang dari jauh.
“Kalau bulan puasa ini pembeli lebih banyak. Bukan cuma warga sekitar, ada juga yang datang dari jauh,” katanya.
Setiap hari, Wahyuni dibantu tujuh anggota keluarga untuk menyiapkan dan menjual kue.
Dalam satu hari, mereka bisa menghabiskan ratusan potong kue sebelum waktu berbuka. Antusiasme warga juga dirasakan oleh para pembeli.
Antusias Warga Gorontalo Beli Takjil
Rahmawati (32), pembeli mengaku sering membeli kue di lokasi tersebut untuk menu berbuka puasa bersama keluarga.
“Murah dan rasanya enak. Dengan Rp10.000 saja sudah bisa dapat banyak, cukup untuk sekeluarga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Andi Saputra (27), warga Kota Utara, yang mampir di area itu. Dia menilai keberadaan kue serba Rp1.000 sangat membantu masyarakat, terutama di tengah kebutuhan Ramadan yang meningkat.
“Kalau begini kan kita bisa beli banyak tanpa pikir mahal. Apalagi ini makanan tradisional, cocok untuk berbuka,” katanya.
Ia berharap dagangannya laku terjual sebab bagi mereka di bulan suci Ramadan bukan hanya untuk mencari nafkah tetapi juga sebagi khas Ramadan.
“Insya Allah ke depan kami tetap berjualan. Selama masih ada pembeli, kami akan terus buka,” tutup Wahyuni.
Tampak masyarakat mulai memadati sejumlah takjil sekiranya pukul 16.00 Wita. Baik roda dua dan tiga terlihat parkir di pinggiran jalan.
Pedagang dengan sigap melayani pembeli yang terus berdatangan. Mereka ada yang datang bersama keluarga, teman maupun pasangan. Suasana khas Ramadan sore itu tampak hidup hal itu terlihat dari antusias masyarakat berburu takjil.
Tips Kuat Puasa saat Bekerja ala Kasmat dan Sasmita, Pegawai Minimarket Gorontalo
Cerita lain Ramadan 2026, Puasa bagi Kasmat Damiti dan Sasmita Amrain bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Dua karyawan retail di Kota Gorontalo ini membuktikan bahwa puasa bisa dijalani tanpa mengurangi semangat bekerja.
Kasmat, karyawan Alfamart di Kota Gorontalo, mengaku aktivitas padat justru membuat puasanya terasa lebih ringan.
“Kalau cuma diam, rasa haus itu cepat sekali datang. Tapi kalau banyak aktivitas, biasanya lupa,” ujarnya kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (21/2/2026).
Rutinitas menata barang, melayani pembeli, hingga berpindah dari satu tugas ke tugas lain membuat waktu terasa cepat berlalu. Tanpa disadari, waktu berbuka pun semakin dekat.
Meski begitu, Kasmat tetap menjaga pola hidup agar fisiknya kuat. Ia menekankan pentingnya istirahat cukup dan sahur yang teratur.
Selama Ramadan, sistem sift di minimarket juga disesuaikan.
Karyawan bisa berbuka dengan nyaman, baik di rumah maupun di toko, sesuai kondisi pekerjaan.
“Kalau bisa, tetap di rumah sama keluarga. Itu yang diusahakan,” kata Kasmat.
Hal serupa dirasakan Sasmita Amrain. Bagi dia, bekerja saat puasa justru membantu mengalihkan pikiran dari rasa haus.
“Kalau diam saja, pasti kepikiran minum. Tapi kalau kerja, jadi lupa,” tuturnya.
Sasmita tidak memiliki kebiasaan khusus selama Ramadan. Ia menjalani pekerjaan seperti biasa, hanya menyesuaikan tenaga agar tetap fokus. (*/Jefri)