Jadi Tulang Punggung Keluarga, Ayu Ting Ting Sindir Hobi Belanja Ayah Rojak: Orang Rumah Suruh Bayar
Ika Putri Bramasti February 22, 2026 07:43 AM

 

TRIBUNSTYLE.COM - Kebiasaan belanja Abdul Rozak, yang akrab disapa Ayah Rojak ternyata cukup unik.

Hampir setiap hari ia berbelanja menggunakan sistem Cash on Delivery (COD) dengan uang yang tentu berasal dari penghasilan putrinya, Ayu Ting Ting.

Menariknya, suami Umi Kalsum itu kerap meminta anggota keluarga di rumah untuk membayar barang pesanannya ketika paket datang.

Kebiasaan tersebut diungkap Ayu sesaat sebelum berangkat syuting, ketika ia melihat sang ayah tengah mencoba sepatu boots baru yang dibelinya dari marketplace.

Momen sederhana itu pun membuat Ayu kembali menyinggung kebiasaan belanja sang ayah yang selalu bikin keluarga geleng-geleng kepala.

"Kemarin kan gue sempet bilang di Lapor Pak kalau bapak gue itu kerjaannya COD setiap hari ngeluarin duit engga orang rumah yang disuruh bayar, " kata Ayu Ting Ting dilansir Banjarmasinpost.co.id berdasarkan pantauan melalui postingan instagram stories @ayutingting92, Jumat (20/2/2026).

Mendapatkan perlakuan seperti demikian dari putri kesayangan yang jadi tulang punggung keluarga, Ayah Rojak pun tak bisa berkata banyak selain tersenyum.

Ayu Ting Ting menyinggung kebiasaan belanja sang ayah yang selalu bikin keluarga geleng-geleng kepala.
Ayu Ting Ting menyinggung kebiasaan belanja sang ayah yang selalu bikin keluarga geleng-geleng kepala. (TribunStyle.com)

Baca juga: Potret Ayu Ting Ting Disawer Crazy Rich Kalsel, Putri Ayah Ojak Gercep Bawa Tas Besar ke Panggung

Kala itu Ayu Ting Ting meminta Ayah Rojak memperlihatkan sepatu booth setinggi lutut yang sedang dicoba di dalam rumah.

"Sekarang dia pesen ape lagi tuh lihat sepatu booth nya baru dateng, " ujar ibu Bilqis itu.

Beberapa waktu lalu, ayahnya pernah membeli bibit tanaman secara online tetapi sampai sekarang benih tersebut tidak tumbuh. 

Hal itu pun dikulik oleh Ayu Ting Ting, ia menduga bibit yang dibeli palsu.

Kakek Bilqis itu diketahui sedang senang berkebun.

Bahkan Ayu berniat ingin menyidak kebun Ayah Rojak yang disebut-sebut sudah rapi dan bagus.

Awas Kecanduan

Siapa yang tak suka belanja? Hampir semua orang senang dan mungkin merasa bahagia berbelanja, termasuk belanja online. Apalagi di akhir tahun, di mana semua toko berlomba memberikan diskon.

Namun, untuk sebagian orang belanja online berubah jadi masalah karena mereka membeli barang setiap hari atau bahkan setiap beberapa jam.

Diperkirakan sekitar 5 persen remaja di negara maju berjuang untuk tidak berbelanja secara kompulsif dan obsesif.

Pakar kesehatan mendefinisikan ini sebagai buying-shopping disorder atau BSD. Sebagian pakar menyerukan agar gangguan tersebut secara resmi diklasifikasikan sebagai penyakit mental yang harus diperhatikan.

Kecanduan belanja terjadi karena saat ini banyak orang yang berbelanja hingga melampaui batas dan secara negatif mempengaruhi kehidupan mereka. Ini merupakan efek samping dari berkembangnya e-commerce.

Menurut sebuah penelitian berskala kecil yang diterbitkan dalam jurnal Comprehensive Psychiatry, BSD telah resmi berpindah ke ruang ritel online. Sekitar sepertiga pasien yang mencari pengobatan untuk BSD dalam penelitian ini melaporkan gejala mereka karena aktif berbelanja online.

"Tingginya angka buying-shopping disorder yang mengakibatkan gangguan fungsi di kehidupan sehari-hari harus diakui sebagai kondisi penyakit mental secara terpisah," kata Astrid Müller, peneliti utama dari studi tersebut sekaligus psikoterapis di Hannover Medical School Jerman.

Namun, penelitian ini hanya dilakukan pada 122 orang sehingga sulit untuk menarik kesimpulan yang pasti karena penelitian ini membutuhkan populasi yang lebih besar.

Daripada dianggap sebagai gangguan kesehatan mental tersendiri, dalam Klasifikasi Penyakit Internasional, BSD dikategorikan sebagai “gangguan kontrol impuls spesifik”.

Menjadi masalah kesehatan mental

BSD juga sering disebut belanja kompulsif pada dasarnya adalah campuran dari kecanduan dan gangguan kontrol impuls.

Menurut Müller, kondisi ini ditandai dengan hasrat yang tak tertahankan untuk berbelanja. Sebagian besar barang yang dibeli oleh orang BSD tidak diperlukan atau digunakan. Pada akhirnya mereka menggunakan uang untuk berbelanja dari yang mereka mampu.

Meski dorongan untuk berbelanja itu menyenangkan, bahkan euforia, namun efek setelahnya dapat melemahkan.

Setelah melakukan pembelian, seringkali diikuti oleh konsekuensi negatif, termasuk perasaan bersalah, penyesalan, atau rasa malu.

Dalam jangka panjang, itu dapat membuat pertentangan besar dengan pasangan, selain tentunya merusak keuangan.

BSD sebenarnya berbeda dengan belanja berlebihan overshopping yang kadangkala juga kita alami. Menurut direktur Klinik Kelainan Kontrol Impuls Elias Aboujaoude, perbedaannya adalah efek kesehatan mental dari kebiasaan berbelanja dan bagaimana hal itu memengaruhi hidup untuk jangka panjang.

Situs belanja memperburuk

Belanja kompulsif bukanlah masalah baru. Masalah ini sudah ada lebih dari 100 tahun yang lalu ketika psikiater Jerman, Emil Kraepelin pertama kali mendefinisikan ini sebagai “membeli mania”.

Sejak itu jutaan orang, termasuk selebriti seperti Jackie Kennedy dan William Randolph Hearst dilaporkan telah terjangkit belanja kompulsif.

Menurut Aboujaoude, ketika internet pertama kali muncul, orang berpikir itu akan membantu pasien BSD karena menganggap membeli secara online akan melindungi pasien dari semua gimik pemasaran di dalam toko dan peluang berburu barang murah.

“Pemasaran online jauh lebih canggih dan ditargetkan secara mikro. Dengan adanya belanja online, Anda dapat berbelanja sepanjang waktu sehingga hal ini membuatnya lebih sulit untuk dikendalikan,” kata Aboujaoude.

Selain kenyamanan karena dapat belanja dengan satu klik, penelitian menunjukkan bahwa jauh lebih mudah untuk menghabiskan uang virtual daripada uang tunai secara fisik.

Satu studi menemukan, orang membuat pengeluaran 100 persen lebih banyak ketika menggunakan kredit daripada uang tunai.

Beberapa peneliti menghubungkan ini dengan konsep yang disebut coupling atau seberapa banyak pembelian secara langsung terkait dengan pembayaran.

Ketika kita membayar dengan uang tunai, kita segera tahu berapa biaya sesuatu dan langsung menggabungkan lembaran uangnya. Sedangkan dengan kartu kredit, ada waktu terputus antara pembelian Anda dan pembayaran itu sendiri.

"Kapan pun Anda ketika membeli sesuatu dengan satu klik, jarak antara Anda dan uang Anda jauh lebih besar sehingga Anda tidak sadar," kata April Benson, seorang psikolog yang berbasis di New York yang berspesialisasi dalam overshopping.

Menurut Müller, semua faktor pemasaran ini, mulai dari kecepatan belanja online, pilihan luas, penargetan yang besar, hingga sistem pembayaran yang mudah; membuat kecanduan otak dan menghasilkan gangguan BSD yang lebih parah.

Cara mengatasi BSD

Donald Black, seorang profesor psikiatri di University of Iowa yang telah banyak meneliti perilaku belanja kompulsif merekomendasikan beberapa tips untuk orang-orang yang ingin mengetahui kebiasaan belanja mereka.

Pertama, singkirkan kartu kredit atau buku cek karena menjadi pemicu belanja kompulsif.

Dalam fenomena ini, penggunaan uang tunai akan lebih mudah untuk menjaga pengeluaran Anda sehingga dapat terkendali.

Selanjutnya, hindari berbelanja sendirian. Kebanyakan orang cenderung tidak akan berbelanja secara kompulsif ketika mereka bersama orang lain, kata Black.

Ia juga merekomendasikan untuk mengganti kegiatan belanja menjadi hiburan yang dapat menghabiskan waktu atau aktivitas lain yang lebih bermakna dan lebih murah.

Cobalah jalan-jalan, bergabung dengan komunitas kebugaran, menjadi volunteer, atau mencoba membuat kerajinan kreatif baru. Semua kegiatan ini telah terbukti dapat meningkatkan kesehatan mental.

Benson, penasihat orang-orang dengan masalah kecanduan belanja, memberi tahu pasiennya untuk menuliskan semua yang mereka habiskan setiap hari dan menilai setiap item berdasarkan seberapa penting mereka menganggapnya.

Tujuan dari kegiatan ini adalah mengajari orang-orang berapa banyak uang yang bisa mereka tabung jika mereka hanya membeli barang-barang yang diperlukan.

"Desakan untuk berbelanja pada akhirnya akan menghilang, terutama jika Anda tidak terus memberinya peluang", kata Benson.

Dia menambahkan bahwa Anda perlu mengambil beberapa langkah nyata untuk membuat kemajuan dan mengatasi apa yang bisa menjadi gangguan sehingga mudah untuk melumpuhkan kebiasaan tersebut.

(Banjarmasinpost.co.id/Kristin Juli Saputri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.