SURYA.CO.ID - Keterbatasan fisik tak mematahkan semangat Syamsun Ramli (48) untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya.
Sebenarnya Syamsun terlahir normal.
Nahas, saat semester 2 sebagai mahasiswa Teknik Sipil, Universitas Brawijaya (UB), ia mengalami kecelakaan.
Ketika mengikuti latihan panjat tebing untuk persiapan ekspedisi anggota organisasi mahasiswa (ormawa) pecinta alam, ia terjatuh dari ketinggian sekitar 17 meter.
Akibatnya, empat ruas tulang belakang Ramli di bagian torakal (T5–T8) terganggu.
Ia pun mengalami paraplegia atau kelumpuhan pada tubuh bagian bawah.
Di awal kondisi, Ramli enggan menggunakan kursi roda.
Seiring waktu, ia menyadari untuk bersyukur lantaran masih diberi hidup.
“Setelah dipikirkan lama, ini adalah anugerah Tuhan. Saya diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki diri,” ujar Ramli, dikutip SURYA.CO.ID dari situs ITB, Sabtu (21/2/2026).
Selama hampir 10 tahun, ia lumpuh. Ia mengandalkan bantuan orang lain untuk duduk, berpindah tempat, dan menjalani aktivitas sehari-hari.
Ibunya pun setiap hari melatihnya berjalan dengan harapan sang anak dapat kembali berjalan.
Baca juga: Sosok Dwi Sasetyaningtyas, Alumni Beasiswa LPDP yang Viral karena Sebut Tak Ingin Anaknya Jadi WNI
Ramli hampir memutuskan berhenti kuliah karena keterbatasan biaya.
Namun, Tjuk Risantoso yang mengoperasi tulang belakang Ramli menegurnya.
Dokter Tjuk kemudian membantu membiayai kuliah dengan satu syarat, Ramli harus menyelesaikan kuliah tepat waktu.
Ternyata, Ramli mampu menyelesaikan studinya hanya terpaut beberapa bulan dari target yang diberikan.
“Beliau bukan hanya menyelamatkan fisik saya, tapi juga masa depan saya,” kenang Ramli.
Lulus S1 bukan berarti ia mudah mendapatkan pekerjaan.
Ia selalu jujur dalam isi lamaran bahwa dirinya adalah pengguna kursi roda dan memastikan hal tersebut tidak akan mengganggu profesionalitas.
Nyatanya, butuh waktu delapan tahun bagi Ramli untuk mendapatkan pekerjaan.
Baca juga: Sosok Aryo Iwantoro, Penerima Beasiswa LPDP yang Terancam Sanksi Usai Istri Tak Mau Anaknya Jadi WNI
Ia belerja sebagai Site Engineer dan Desainer di CV. Tiga Pilar, Malang. Tugasnya memastikan rancangan benar-benar dapat terbangun.
Pengalaman kerja memperkaya pemahamannya tentang hubungan antara desain, struktur, dan kebutuhan manusia.
Ramli juga memulai karier sebagai dosen arsitektur di Universitas Ibrahimy, Situbondo.
Pada jenjang S2, Ramli mengambil Program Studi Arsitektur Lingkungan Binaan.
Kini, ia menempuh studi S3 jurusan Arsitektur di ITB.
Ia merupakan penerima Beasiswa Penyandang Disabilitas dari LPDP.
“Kalau tanpa Beasiswa dari LPDP mungkin akan sangat berat,” tutur Ramli.
Penelitiannya menuju gelar Doktor sekarang berfokus pada sistem struktur penahan gempa untuk bangunan bertingkat yang berkelanjutan.
Baginya pendidikan adalah jalan yang membantunya bangkit.
Dari proses belajar, ia menemukan kembali arah, harapan, dan keyakinan bahwa dirinya tetap mampu berkembang serta berkontribusi.
“Kalau saya tidak sekolah, mungkin saya tidak punya kehidupan seperti sekarang. Pendidikan itu ikhtiar utama,” tuturnya.
Ramli memetik pelajaran bahwa semua orang punya keterbatasan.
Ia menerima keterbatasan itu lebih dahulu, lalu menyesuaikan diri.
Dalam kehidupan pribadi, Ramli memiliki istri bernama Sri Nursiani yang menjadi kekuatannya.
Sejak masa kuliah, Sri setia mendampingi, membantu aktivitasnya dalam berbagai fase perjuangan sulit.
===
Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam Whatsapp Channel Harian Surya. Melalui Channel Whatsapp ini, Harian Surya akan mengirimkan rekomendasi bacaan menarik Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Persebaya dari seluruh daerah di Jawa Timur.
Klik di sini untuk untuk bergabung