Ahli Jiwa Soroti Psikis di Balik Konten 'Cukup Saya WNI, Anak Aku Jangan'
GH News February 22, 2026 03:10 PM
Jakarta -

Viral ungkapan 'cukup aku saja yang WNI, anak-anakku jangan' di media sosial, yang kemudian memicu pro-kontra. Video tersebut diunggah pemilik akun Instagram @sasetyaningtyas. Ia menunjukkan momen saat dirinya membuka surat dari Home Office Inggris yang menyatakan anak keduanya resmi menjadi warga negara Inggris.

Dalam video itu, DS memperlihatkan paspor Inggris si anak dan menyebut ingin mengupayakan anak-anaknya memiliki paspor kuat dari negara lain.

Pernyataan itu kemudian menuai respons luas, termasuk dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). LPDP memanggil AP, suami si pemilik akun yang ternyata merupakan alumni penerima beasiswa. Ia dimintai klarifikasi terkait dugaan kewajiban kontribusi yang belum dituntaskan.

"LPDP tengah melakukan pemanggilan kepada Saudara AP untuk meminta klarifikasi serta melakukan proses penindakan dan pengenaan sanksi sampai pengembalian seluruh dana beasiswa," tulis LPDP dalam keterangan resmi, Minggu (22/2/2026).

Di luar polemik administratif, psikiater menilai fenomena ini juga perlu dilihat dari sisi psikologis, mengapa seseorang kerap membagikan pilihan personal yang sensitif di ruang publik?

Psikiater dr Lahargo Kembaren menjelaskan, mengunggah pengalaman pribadi di media sosial kerap menjadi bentuk katarsis atau pelepasan emosi sementara.

"Ini bisa membantu seseorang merasa didengar. Ada sensasi lega setelah berbagi," ujarnya, saat dihubungi detikcom Minggu (22/2/2025).

Namun, ia mengingatkan media sosial bukan ruang pemulihan psikologis. Ia hanya ruang ekspresi sementara. Respons berupa like, komentar, atau share memang dapat memicu pelepasan dopamin di otak sehingga muncul rasa tervalidasi. Namun, efeknya jangka pendek.

"Kadang yang diposting bukan hanya tentang hidupnya, tapi kebutuhan untuk merasa dipahami," jelasnya.

Secara psikologis, ada beberapa faktor yang mendorong orang membagikan keputusan personal di ruang digital:

Pertama, kebutuhan akan validasi, respons sosial di media digital memberi penguatan emosional. Kedua, sinyal identitas diriPostingan sering menjadi cara menunjukkan nilai, posisi sosial, atau cara pandang terhadap dunia.

Ketiga, regulasi emosi. Sebagian orang memperlakukan media sosial seperti jurnal pribadi. Bedanya, ini dilakukan di ruang publik.

Masalahnya, isu seperti kewarganegaraan, keluarga, atau anak menyentuh nilai kolektif dan identitas nasional. Reaksi publik pun bisa menjadi jauh lebih emosional.

Psikiater menekankan, jika stres atau tekanan batin sudah mengganggu tidur, relasi, atau fungsi sehari-hari, langkah tepat adalah berkonsultasi ke psikolog atau psikiater.

"Datang ke profesional bukan hanya untuk ventilasi emosi, tapi untuk menguraikan stres secara terstruktur dan mendapatkan penanganan yang tepat," jelasnya.

Curhat di media sosial boleh saja sebagai bentuk ekspresi. Namun pemulihan mental tetap membutuhkan ruang aman yang tidak menghakimi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.