TRIBUNTRENDS.COM - Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Nvidia, kembali mencetak sejarah. Pada Rabu (29/10/2025), perusahaan pembuat chip tersebut resmi menjadi emiten pertama di dunia yang menembus kapitalisasi pasar 5 triliun dollar AS setara sekitar Rp 83.000 triliun.
Lonjakan fantastis ini tak lepas dari meledaknya permintaan global terhadap chip kecerdasan buatan (AI). Di tengah gelombang revolusi AI yang melanda berbagai sektor industri, Nvidia berdiri di garis depan sebagai pemasok utama teknologi komputasi mutakhir. Ekspansi besar-besaran pun dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat dominasi perusahaan di pasar global.
Namun di balik angka triliunan dolar dan gemerlap Wall Street, ada kisah perjuangan yang jauh dari kata instan. Sosok di balik kesuksesan tersebut adalah Jensen Huang, pendiri sekaligus CEO Nvidia.
Baca juga: Sang Adik Meninggal di Tangan Oknum Aparat Brimob, Ayah Ungkap Kondisi Kakak AT: Lengannya Patah
Perjalanan hidup Jensen Huang bukanlah cerita yang dimulai dari ruang rapat mewah atau keluarga konglomerat. Ia pernah bekerja sebagai tukang cuci piring di restoran, menjalani masa muda dengan kerja keras dan tekad kuat untuk mengubah nasib. Dari titik itulah langkahnya perlahan menapaki dunia teknologi, hingga akhirnya mendirikan Nvidia pada 1993 sebuah perusahaan yang kelak menjelma menjadi pemain paling berpengaruh dalam era kecerdasan buatan.
Kini, di bawah kepemimpinannya, Nvidia bukan hanya perusahaan chip, melainkan simbol perubahan zaman. Dari dapur restoran ke panggung teknologi dunia, kisah Jensen Huang menjadi bukti bahwa visi besar dan keberanian mengambil risiko mampu mengubah sejarah.
Lantas, bagaimana detail perjalanan hidup dan karier Jensen Huang hingga mampu membawa Nvidia ke puncak tertinggi industri global?
Jensen Huang, pendiri sekaligus CEO Nvidia, kini dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia teknologi dan termasuk dalam jajaran 20 orang terkaya di dunia.
Berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index per Mei 2025, kekayaan Huang mencapai 91,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.464 triliun, meningkat tajam dari awal tahun yang masih di kisaran 77 miliar dolar AS.
Lonjakan kekayaannya tak lepas dari naiknya harga saham Nvidia seiring permintaan global terhadap chip kecerdasan buatan (AI).
Dengan kapitalisasi pasar mencapai lebih dari 2,5 triliun dolar AS, Nvidia kini menjadi perusahaan paling bernilai ketiga di dunia, berada tepat di bawah Microsoft dan Apple.
Perjalanan hidup Jensen Huang jauh dari kata instan. Pria kelahiran Tainan, Taiwan, tahun 1963 ini tumbuh dalam keluarga sederhana yang sering berpindah tempat tinggal. Saat berusia lima tahun, keluarganya pindah ke Thailand, sebelum akhirnya menetap di Amerika Serikat ketika ayahnya mengikuti program pelatihan kerja di perusahaan pendingin udara Carrier.
Meski hidup serba terbatas, keluarganya menanamkan nilai disiplin dan kerja keras. Ibunya bahkan belajar bahasa Inggris bersama anak-anaknya dan meminta mereka menghafal sepuluh kosakata baru setiap hari.
Di usia sembilan tahun, Huang dan kakaknya dikirim lebih dulu ke Amerika Serikat dan tinggal di Oneida Baptist Institute, sekolah berasrama di Kentucky yang dikenal dengan kedisiplinannya.
Setelah beberapa tahun, keluarganya kembali berkumpul dan menetap di Portland, Oregon, tempat Huang menamatkan sekolah menengah atas lebih cepat dari teman sebayanya, pada usia 16 tahun.
Setelah lulus SMA, Huang bekerja sebagai tukang cuci piring di restoran khas Amerika. Pekerjaan sederhana itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan baginya. Ia pernah mengatakan bahwa dari pekerjaan tersebut, ia belajar arti tanggung jawab, efisiensi, dan kerendahan hati.
Tak lama kemudian, ia dipromosikan menjadi pelayan, sebuah momen kecil yang selalu ia kenang sebagai simbol dari usaha dan ketekunan.
Huang melanjutkan pendidikan tinggi di Oregon State University, mengambil jurusan teknik elektro. Di kampus inilah ia bertemu calon istrinya, Lori, yang saat itu menjadi rekan satu laboratorium.
Setelah lulus pada tahun 1984, Huang bekerja di beberapa perusahaan besar di bidang semikonduktor seperti AMD dan LSI Logic, dua nama yang kelak menjadi kompetitor Nvidia di industri chip global.
Di sela kesibukan bekerja, Huang tetap melanjutkan pendidikannya dengan mengambil program magister teknik elektro di Stanford University, dan berhasil lulus pada tahun 1992. Setahun kemudian, bersama Chris Malachowsky dan Curtis Priem, ia mendirikan Nvidia.
Ide pendirian perusahaan ini muncul dari obrolan di restoran Denny’s di San Jose, California, tempat yang ironisnya mengingatkannya pada masa-masa bekerja sebagai pelayan restoran dulu.
Dengan modal awal hanya 40.000 dolar AS, mereka bertekad membangun chip grafis yang mampu mengubah arah industri komputasi.
Seiring waktu, Nvidia tumbuh menjadi pemimpin pasar di bidang grafis komputer dan kecerdasan buatan. Produk GPU-nya tidak hanya digunakan untuk gim, tetapi juga menjadi tulang punggung dalam pengembangan AI, data center, hingga superkomputer modern.
Kini, Nvidia telah menjadi raksasa teknologi global dengan valuasi mencapai 5 triliun dolar AS (sekitar Rp 83.000 triliun). Jensen Huang pun dikenal sebagai sosok visioner yang memadukan kecerdasan teknis, kepemimpinan kuat, dan keberanian mengambil risiko.
Dari seorang tukang cuci piring hingga menjadi CEO salah satu perusahaan paling bernilai di dunia, kisah Huang adalah bukti bahwa kerja keras dan visi jangka panjang dapat mengubah nasib seseorang secara luar biasa.
Pada Rabu (29/10/2025), Nvidia menorehkan sejarah baru dengan menjadi perusahaan pertama di dunia yang menembus kapitalisasi pasar 5 triliun dolar AS, atau sekitar Rp 83.000 triliun.
Pencapaian ini didorong oleh meningkatnya permintaan global terhadap chip AI dan rencana ekspansi besar-besaran untuk memperkuat kapasitas produksi. Keberhasilan ini menempatkan Nvidia di atas Apple dan Microsoft, yang sebelumnya sempat mendekati valuasi 4 triliun dolar AS namun belum menembus level baru dalam beberapa bulan terakhir.
Optimisme pasar terhadap Nvidia semakin kuat setelah muncul kabar bahwa perusahaan tersebut tengah menyiapkan pesanan chip senilai 500 miliar dolar AS dan berencana membangun tujuh superkomputer baru untuk pemerintah Amerika Serikat. Langkah ini dipandang sebagai upaya strategis untuk memperkuat posisi Nvidia di pusat ekosistem AI global.
Analis menilai, pencapaian ini bukan sekadar soal angka, melainkan juga simbol pergeseran kekuatan industri teknologi. “Nvidia kini bukan sekadar produsen chip, melainkan pemain yang membentuk arah industri,” ujar Matt Britzman dari Hargreaves Lansdown.
Meski begitu, sejumlah pihak tetap mengingatkan bahwa valuasi tinggi juga membawa risiko. CEO Tuttle Capital Management, Matthew Tuttle, menyebut bahwa pada akhirnya pasar akan menuntut kinerja keuangan yang nyata, bukan hanya janji ekspansi dan pertumbuhan.
Kesepakatan strategis dengan pemerintah AS untuk membangun infrastruktur AI senilai hingga 500 miliar dolar AS menjadi bukti nyata bahwa Nvidia kini berada di garis depan dalam membangun masa depan komputasi modern, dari superkomputer, keamanan siber, hingga riset pertahanan.
Semua ini mengukuhkan Jensen Huang bukan hanya sebagai CEO sukses, tetapi juga sebagai arsitek utama era baru kecerdasan buatan dunia.
***
(Kompas.com/TribunTrends.com)