Bincang-Bincang Bersama Kepala OJK Sumsel, Bangun Ekosistem UMKM Agar Naik Kelas
tarso romli February 22, 2026 07:27 PM

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan berkomitmen membangun ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di wilayah Sumatera Selatan.

Langkah ini dilakukan mengingat besarnya potensi UMKM mencapai 2,6 juta pelaku dan tersebar di 17 kabupaten kota di Sumsel.

Kepala OJK Sumatera Selatan Arifin Susanto, mengatakan, meskipun jumlah UMKM cukup besar, sebagian besar masih stagnan dan belum mampu naik kelas.

Keberadaan UMKM saat ini dinilai hanya sebatas bertahan, tanpa pertumbuhan signifikan akibat belum terbentuknya ekosistem yang berjalan optimal.

Menurut Arifin, OJK tidak hanya memiliki fungsi pengawasan, perlindungan konsumen, dan pengendalian sektor jasa keuangan, tetapi juga berperan dalam mendorong pembangunan ekosistem UMKM.

Ia menegaskan bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Pengalaman saat pandemi COVID-19 menjadi pelajaran penting. Ketika UMKM tidak bergerak, ekonomi ikut terpuruk. Karena itu, ekosistem UMKM harus diperkuat agar mampu bertahan dan berkembang.

Ia mengakui masih ada sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan, salah satunya mendorong peningkatan pembiayaan ke sektor UMKM.

Secara nasional, porsi pembiayaan untuk UMKM dinilai masih relatif minim dibandingkan kebutuhan dan potensinya.

Untuk itu, OJK bersama lembaga jasa keuangan dan industri jasa keuangan akan berkolaborasi memfasilitasi pembentukan ekosistem UMKM yang terintegrasi.

Pembiayaan dapat bersumber dari perbankan maupun perusahaan financial technology (fintech).

Tak hanya akses permodalan, OJK juga mendorong agar pelaku UMKM mendapatkan perlindungan asuransi. Dengan adanya asuransi, risiko usaha dapat diminimalkan sehingga ketika terjadi kendala atau kegagalan bisnis, pelaku UMKM tetap memiliki perlindungan dan keberlanjutan usaha bisa terjaga.

Selain aspek pembiayaan dan perlindungan, penguatan UMKM juga harus didukung strategi pemasaran yang baik, mulai dari pengemasan produk, branding, hingga pemasaran yang efektif.

Dengan demikian, peningkatan kualitas tidak hanya terjadi pada sisi produksi dan modal, tetapi juga pada aspek pemasaran sehingga UMKM di Sumatera Selatan benar-benar mampu naik kelas.

"Jadi fungsi OJK bukan cuma mengatur, mengawasi dan melindungi saja tapi juga jadi orkestranya kebijakan-kebijakan yang tidak bergerak ini sehingga ekosistem UMKM ini ada dan berjalan dengan baik," katanya saat menjadi narasumber Tamu Tribun, Jumat (20/2/2026).

Upaya membangun ekosistem UMKM di Sumatera Selatan terus didorong secara terstruktur.

Menurut Arifin Susanto, langkah pertama yang akan dilakukan adalah mendata seluruh UMKM di Sumatera Selatan.

Pendataan ini penting untuk mengetahui potensi yang dimiliki setiap UMKM, sekaligus mengidentifikasi kendala yang dihadapi, baik dari sisi permodalan, pemasaran, produksi, hingga distribusi.

“UMKM harus didata dulu, apa potensinya dan apa kendalanya. Dari situ baru kita dampingi sesuai kebutuhan,” ujar Arifin.

Jika kendala utama adalah modal, maka pelaku UMKM akan diarahkan untuk mengakses pembiayaan melalui perbankan.

Mereka juga akan dibantu membuat rekening khusus usaha yang terpisah dari rekening pribadi.

Langkah ini bertujuan agar pencatatan keuangan lebih rapi, sehingga pelaku usaha dapat membedakan pengeluaran usaha dan kebutuhan konsumsi harian.

Dengan sistem pembukuan yang lebih tertib, UMKM diharapkan bisa lebih fokus mengembangkan bisnisnya.

Dorong Digital Marketing
Selain permodalan, aspek pemasaran juga menjadi perhatian utama. Arifin menilai pemasaran konvensional memang tetap berjalan, namun pertumbuhannya cenderung lebih lambat.

Karena itu, pemanfaatan digital marketing menjadi solusi untuk memperluas jangkauan pasar.

Sebagai contoh, promosi melalui Instagram dinilai mampu menjangkau sekitar 10 persen dari total audiens yang melihat konten. Dari jumlah tersebut, sebagian berpotensi melakukan pembelian dan bahkan repeat order.

“Jangkauan digital itu jauh lebih luas, dan peluang keberhasilannya juga lebih besar,” katanya.

Ia juga menegaskan, pelaku UMKM tidak perlu takut bersaing satu sama lain. Setiap usaha memiliki segmentasi pasar, karakter produk, dan pelanggan yang berbeda.

“Setiap UMKM punya konsumennya sendiri. Orang yang sudah cocok dengan satu produk biasanya akan konsisten memesan di tempat langganannya. Jadi jangan takut rezeki tertukar,” jelasnya.

UMKM Fokus Produksi dan Kualitas
Dalam skema ekosistem yang dibangun, setiap mata rantai usaha akan saling mendukung.

Sektor permodalan dibantu perbankan, pemasaran diperkuat dengan digitalisasi, sementara untuk kebutuhan ekspor seperti pengemasan vakum, freezer, hingga transportasi dan distribusi akan ditangani oleh pihak yang kompeten.

Dengan pola ini, pelaku UMKM tidak lagi harus mengerjakan semuanya sendiri, mulai dari produksi, mencari modal, promosi, pengemasan, hingga ekspor.

“Kalau ekosistem ini sudah terbentuk, UMKM cukup fokus pada produksi dan menjaga kualitas produknya,” ujar Arifin.

Ia optimistis, jika ekosistem UMKM di Sumatera Selatan berjalan optimal, maka pergerakan ekonomi daerah akan semakin kuat dan berkelanjutan.

Selama ini, banyak pelaku UMKM harus mengelola seluruh aspek usaha secara mandiri, mulai dari produksi, distribusi, pemasaran, hingga ekspor.

Pola seperti ini tentu tidak mudah, terutama bagi pelaku usaha yang sudah memasuki usia senior.

Kondisi semakin menantang ketika regenerasi tidak berjalan. Tidak sedikit usaha keluarga yang berhenti beroperasi karena anak tidak terlibat langsung dalam pengelolaan bisnis dan tidak memahami pola usaha yang dijalankan orang tuanya.

Akibatnya, ketika generasi pertama tidak lagi menjalankan usaha, bisnis berpotensi terhenti karena tidak ada penerus yang memahami sistem produksi, jaringan distribusi, hingga strategi pemasaran yang telah dibangun.

Karena itu, pembentukan ekosistem UMKM di Sumatera Selatan dinilai menjadi solusi jangka panjang. Dengan ekosistem yang terstruktur, setiap sektor akan berjalan sesuai perannya.

Permodalan didukung perbankan, pemasaran diperkuat melalui digitalisasi, pengemasan dan distribusi ditangani secara profesional, termasuk untuk kebutuhan ekspor. Dengan demikian, pelaku UMKM tidak lagi terbebani mengurus semua lini usaha sendirian.

Jika ekosistem ini sudah terbentuk dan berjalan optimal, pelaku UMKM dapat lebih fokus pada peningkatan kualitas produk dan kapasitas produksi. Regenerasi usaha pun menjadi lebih mudah karena sistem sudah tertata, terdokumentasi, dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu individu.

"Melalui ekosistem ini, diharapkan UMKM di Sumatera Selatan dapat tumbuh berkelanjutan dan menjadi penggerak utama perekonomian daerah," tutup Arifin.

Baca juga: Mulai Besok 23 Februari 2026 MBG Sekolah Didistribusikan Kembali Selama Ramadan

Baca juga: Kisah Nenek Asal Sumsel Terlantar di Jakarta Karena Tertipu Umnrah, Terlena Koper Bos Travel

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.