TRIBUNJATIMTIMUR.COM, PROBOLINGGO - Dalam kasus pencurian 7 koper milik wisatawan asal Thailand yang hilang di Gunung Bromo pada Minggu (15/2/2026) lalu sudah menemukan titik terang. Polres Probolinggo sudah menetapkan satu orang sebagai tersangka.
Penetapan tersangka ini dibenarkan oleh jajaran Polres Probolinggo pada Sabtu (21/2/2026) malam setelah menghubungi salah seorang yang dipercaya mengurus kasus tersebut oleh korban.
Narahubung salah satu korban, Alvi Wardah, mengaku baru mengetahui kabar tersebut setelah dihubungi langsung oleh penyidik dari jajaran Satreskrim Polres Probolinggo.
"Iya, semalam saya ditelepon oleh tim penyidik. Kata penyidik saat menghubungi kami mengaku kalau sudah menetapkan satu orang sebagai tersangka," kata Alvi, Minggu (22/2/2026).
Saat dihubungi, lanjut Alvi, dirinya menanyakan identitas pelaku. Polisi kemudian memastikan bahwa tersangka adalah pemilik rumah di Jalan Bogowonto, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo.
"Rumah pelaku ini yang sebelumnya sempat digerebek oleh tim buser tak lama setelah laporan kehilangan mencuat. Tapi hasil penggerebekan tidak ditemui koper milik wisatawan atau korban," terang Alvi.
Baca juga: 7 Koper Turis Thailand Dicuri di Bromo, Ini Tanggapan Bupati Probolinggo
Baca juga: 104 Perumahan di Jember Rawan Bencana Banjir, Belasan Perumahan Berdiri di Bantaran Sungai
Tersangka ini, lanjut Alvi, ditangkap di kediamannya, setelah aparat berhasil mengumpulkan beberapa barang bukti yang cukup kuat. Salah satunya sinyal GPS yang berhenti di rumahnya.
"Selain itu juga adanya pengakuan dari istri pelaku yang bernama Edi yang mengatakan memang ada penurunan koper pada hari itu," ujar Alvi.
Kasat Reskrim Polres Probolinggo, I Made Kembar Mertadana membenarkan penetapan tersebut saat dikonfirmasi.
"Iya benar. Masih dalam proses penyelidikan dan pengembangan. Kami belum bisa memastikan apakah ada pelaku lain yang ikut andil. Mohon bersabar, untuk informasi selanjutnya akan disampaikan segera mungkin," tuturnya.
Sebelumnya, tujuh koper milik wisatawan asal Thailand di kawasan wisata Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, dicuri, di Desa Wonotoro, Kecamatan Sukapura, tepatnya di area turunan dekat Pendopo Pemberhentian Bus. Koper milik rombongan turis dilaporkan hilang saat kendaraan mereka diparkir, Minggu (15/2/2026).
Tujuh koper tersebut berisi sejumlah barang berharga, antara lain kamera, tablet, iPhone, pakaian, serta barang pribadi lainnya. Nilai total kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah.
Rombongan korban telah melaporkan kejadian tersebut ke Polres Probolinggo pada Minggu sore. Laporan itu langsung ditindaklanjuti oleh jajaran kepolisian.
Kapolres Probolinggo, M Wahyudin Latif, mengatakan memberi atensi penuh terhadap kasus ini.
“Kami akan melakukan pemanggilan saksi-saksi dan mengumpulkan alat bukti seperti rekaman CCTV serta keterangan para pelaku usaha jasa wisata di sekitar lokasi," kata Wahyudin, Senin (16/2/2026).
Ia menambahkan, para korban juga telah dimintai keterangan oleh penyidik setelah melapor.
“Dalam kasus ini juga, saya atensikan penuh kepada anggota opsnal Satreskrim untuk melakukan mapping dan penyelidikan agar kasus ini segera terungkap,” imbuhnya.
Salah satu korban, Kathuma Puk, mengaku sangat kecewa atas kejadian tersebut. Ia menyebut kehilangan barang-barangnya berdampak langsung terhadap rencana kepulangannya ke Thailand.
"Saya sangat kecewa dengan apa yang telah saya alami. Akibat kehilangan itu, saya menjadi kesulitan mengurus paspor untuk perjalanan kepulangan saya. Apakah pihak kepolisian bisa menemukan kembali barang-barang saya yang hilang itu," ujarnya dalam bahasa Thailand kepada penyidik.
Insiden ini turut mendapat perhatian dari Bupati Probolinggo, Mohammad Haris.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Probolinggo, saya menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas kejadian kehilangan barang yang dialami rombongan wisatawan asal Thailand di kawasan Bromo,” ujarnya, Senin (16/2/2026).
Menurut Haris, Gunung Bromo merupakan wajah pariwisata daerah. Setiap wisatawan, kata dia, bukan sekadar tamu, melainkan sahabat yang harus dijaga bersama.
“Saya mengajak seluruh masyarakat, pelaku wisata, aparat keamanan, dan seluruh stakeholder untuk memperkuat kebersamaan menjaga keamanan destinasi kita. Pariwisata hanya akan tumbuh jika wisatawan pulang dengan rasa aman, nyaman, dan cerita baik tentang Probolinggo,” ungkapnya.
Ia mengatakab peristiwa ini tidak boleh menjadi trauma, melainkan momentum untuk memperkuat sistem keamanan di destinasi wisata.
“Kami tidak ingin peristiwa ini menjadi trauma, melainkan menjadi momentum untuk berbenah dan memperkuat sistem keamanan wisata di Bromo dan seluruh destinasi unggulan lainnya,” tambahnya.
Haris juga menyebut area parkir resmi di Pendopo Agung sebenarnya telah dilengkapi kamera pengawas (CCTV) guna menjamin keamanan kendaraan dan barang milik wisatawan.
“Bromo tidak hanya harus indah dipandang, tetapi juga harus aman dirasakan. Karena keamanan wisata adalah kehormatan bagi daerah kita. Mari kita jaga bersama Bromo sebagai rumah yang hangat bagi siapa pun yang datang dari berbagai penjuru dunia,” tambahnya.
(Ahsan Faradisi/TribunJatimTimur.com)