Silaturahmi ke Ponpes Asshiddiqiyah, Ketua MPR Dorong Santri Perdalam Ilmu Sampai Perguruan Tinggi
Muhammad Zulfikar February 22, 2026 10:16 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua MPR RI Ahmad Muzani, berpesan agar para santri memanfaatkan kesempatan belajar di pondok pesantren secara maksimal.

Dia menilai, kehidupan nyantri yang mengharuskan tinggal dan menginap di lingkungan pesantren merupakan peluang besar untuk memperdalam ilmu secara lebih intensif.

Baca juga: Muzani Ungkap Sejumlah Parpol Lakukan Pendekatan Usung Prabowo Dua Periode

Hal itu disampaikannya saat bersilaturahmi sekaligus buka puasa bersama para santri di Pondok Pesantren  Asshiddiqiyah Jakarta Barat, Minggu (22/2/2026).

“Santri harus menggunakan kesempatan ini dengan baik karena dia sebenarnya secara semangat memiliki kesempatan belajar. Dia nyantri, menginap, tinggal di pondok pesantren sehingga memiliki kesempatan belajar lebih intens, belajar agama, belajar ilmu-ilmu lain,” kata Muzani.

Baca juga: Aceh Minta Penghapusan Barcode BBM Subsidi saat Ramadan-Idul Fitri, Ini Kata Ketua MPR

Muzani menegaskan, para santri perlu memaksimalkan waktu yang dimiliki dengan aktif membaca, mendengarkan, bertanya, serta menggali berbagai ilmu yang dipelajari.

“Sehingga gunakanlah kesempatannya dengan baik untuk membaca, mendengarkan, bertanya, menggali tentang berbagai macam ilmu yang dia dalami,” katanya.

Muzani menjelaskan, proses belajar di pondok pesantren pada dasarnya memberikan fondasi atau ilmu-ilmu dasar, baik dalam bidang agama maupun ilmu umum.

Dia menyebut, pemahaman yang diberikan para ustaz, guru, kiai, dan nyai di pesantren lebih menitikberatkan pada metodologi dalam memahami suatu disiplin ilmu.

“Ngaji atau belajar di pondok pesantren itu kan sesungguhnya kita belajar ilmu-ilmu dasar. Kalau mau ingin dalam lagi dia harus berpindah dari pondok pesantren itu mendalami tempat yang lebih dalam,” ucapnya.

Menurutnya, yang diajarkan di pesantren bukan hanya materi pelajaran, melainkan metode atau cara memahami ilmu tersebut.

“Karena sesungguhnya yang diajarkan oleh ustaz, guru, kiai, nyai di pondok pesantren itu adalah metodologi tentang pemahaman sebuah ilmu, apakah itu ilmu agama ataupun ilmu non-agama,” katanya.

Muzani menambahkan, untuk memperdalam bidang keilmuan tertentu, para santri perlu melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi atau ke lembaga pendidikan lain, baik di dalam maupun luar negeri.

“Tapi untuk memahami atau mendalami ilmu-ilmu berikutnya, maka dia harus belajar di tempat lain dengan metodologi yang sudah diajarkan oleh kiainya, nyainya, gurunya, dosennya, kira-kira seperti itu,” ucapnya.

Baca juga: Datangi Jembatan Ekoproyo Tegal Putus, Ketua MPR Minta Tanggul Diperkuat agar Warga Tak Terisolasi

Lebih lanjut, Muzani menilai hal inilah yang membuat banyak alumni pesantren kemudian melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau pesantren yang memiliki spesialisasi lebih mendalam.

“Dengan begitu maka biasanya alumni pondok pesantren itu kemudian berhijrah, berpindah ke perguruan tinggi ataupun perguruan atau pondok pesantren yang lebih dalam, entah di dalam negeri atau luar negeri untuk mendalami ilmu itu,” katanya.

Muzani mencontohkan berbagai bidang yang dapat diperdalam, mulai dari tafsir, hadis, sejarah, hingga ilmu-ilmu umum seperti matematika, fisika, dan ilmu bumi.

“Sehingga ilmu-ilmu dasar yang dipahamkan oleh para guru tentang metodologi tafsir, hadis, termasuk sejarah, bahkan matematika, ilmu fisika, ilmu bumi, atau ilmu apa pun lainnya, itu semua metodologi yang harus diperdalam. Kalau mau memperdalam itu harus di luar dari sekolah atau perguruan tinggi itu,” jelasnya.

Muzani mengakui bahwa tantangan utama dalam pendalaman ilmu sering kali berkaitan dengan keterbatasan waktu, kesempatan, dan biaya.

“Itulah sebabnya perguruan-perguruan tinggi kita itu atau teman-teman pondok kita itu banyak memahami tentang metodologi, tapi kadang-kadang kesempatan untuk mendalaminya kurang ada, baik waktu, kesempatan ataupun biaya,” tandasnya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.