TRIBUNJABAR.ID, SUMEDANG - Suasana berbeda terasa di Geoteater Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Sabtu (21/2/2026) sore.
Menjelang waktu berbuka puasa, panggung terbuka itu dipenuhi warga yang datang untuk menikmati pertunjukan “Cepot Ngabuburit”, sebuah sajian seni yang memadukan hiburan, dakwah, dan penguatan budaya lokal.
Kegiatan bertajuk Ngabuburit di Bulan Puasa tersebut menjadi bagian dari pengembangan Ekosistem Budaya Kasumedangan yang kini memasuki pekan ke-15. Program ini secara konsisten digelar setiap Sabtu sebagai ruang ekspresi bagi para seniman dan budayawan Sumedang.
Dalam gelaran kali ini, tokoh wayang Cepot tampil menghidupkan suasana Ramadan lewat lakon yang sarat pesan moral. Dalang Ajang Rozikin dari Sanggar Hanjuang Sukma Nagara berkolaborasi dengan Dian Sukmara, menghadirkan pertunjukan yang ringan namun penuh makna.
Tak sekadar hiburan, pertunjukan tersebut juga mengandung unsur dakwah. Materi yang disampaikan menekankan pentingnya budaya dan Islam yang saling menguatkan dan melengkapi, sebuah pesan yang dikemas secara komunikatif melalui dialog khas wayang golek.
Bupati Dony Ahmad Munir turut hadir menyaksikan langsung pertunjukan. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan ruang-ruang budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Apresiasi untuk pengelola Geoteater Rancakalong yang terus konsisten menyelenggarakan ekosistem budaya Sumedang yang saat ini disesuaikan dengan momentum bulan puasa,” kata Bupati Dony.
Menurutnya, Ramadan seharusnya diisi dengan kegiatan positif yang memberi nilai tambah, bukan sekadar mengisi waktu menjelang berbuka. Kegiatan seperti ini dinilai mampu menjadi alternatif ngabuburit yang edukatif sekaligus menghibur.
“Ngabuburit dengan lebih bermakna, bermanfaat dan berdampak tentunya. Ekosistem budaya Kasumedangan setiap hari Sabtu terus menjalankan kegiatannya dengan menampilkan potensi-potensi kreatif yang ada di Sumedang ini. Bagaimana seniman budayawan terus mengaktualisasikan potensi kreatif yang dimilikinya,” katanya.
Geoteater Rancakalong sendiri dalam beberapa bulan terakhir aktif menjadi ruang kolaborasi lintas generasi. Selain wayang golek, berbagai kesenian tradisional dan kreasi baru turut ditampilkan sebagai bagian dari penguatan identitas budaya Kasumedangan.