BANGKAPOS.COM - Memasuki hari kelima di bulan suci Ramadhan 1447 H / 2026, menjaga kualitas ibadah menjadi kunci utama untuk meraih pahala yang dilipatgandakan hingga 700 kali lipat.
Puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan juga "mempuasakan" seluruh anggota tubuh, termasuk telinga.
Berikut adalah naskah ceramah atau kultum singkat yang dapat Anda gunakan sebagai referensi untuk mengisi jadwal tausiyah di masjid, musala, atau instansi Anda:
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Telinga adalah salah satu gerbang utama informasi dan ilmu pengetahuan. Dalam Islam, pendengaran memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Hal ini terbukti dalam Al-Qur'an, di mana Allah SWT sering menyebutkan "pendengaran" sebelum "penglihatan".
Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Isra' ayat 36:
"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya."
Ayat ini secara tegas memperingatkan kita bahwa apa yang kita dengar setiap hari akan dihisab. Tidak semua informasi layak didengar, terutama bagi seorang mukmin yang sedang menjalankan ibadah puasa.
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia,
Puasa telinga bukan berarti menutup telinga dari segala suara, melainkan mencegahnya dari mendengarkan hal-hal yang tidak diridhai Allah. Jâbir bin Abdillah pernah berpesan:
"Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu, dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa."
Seringkali kita menyia-nyiakan pendengaran untuk hal-hal yang batil seperti gosip (ghibah), gunjingan, hingga informasi penuh fitnah di media sosial. Allah memberikan sindiran keras bagi orang yang tidak memfungsikan pendengarannya untuk kebenaran dalam Surah Al-Furqan ayat 44, yang menyamakan mereka layaknya binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Lalu, bagaimana cara kita menjaga telinga selama Ramadhan?
Allah berfirman dalam Surah Al-Qashash ayat 55:
"Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya..."
Hukum mendengarkan kebatilan adalah sama dengan orang yang mengucapkannya.
Jika kita tetap duduk bersama mereka yang sedang berbuat maksiat lidah, maka kita pun dianggap serupa dengan mereka.
Baca juga: 15 Kultum Ramadan Singkat 7 Menit tentang Puasa, Sabar, Menjaga Lisan dan Bersyukur
Baca juga: 5 Contoh Teks Ceramah Singkat Ramadhan 1447 H / 2026 dan Judulnya
Sebagai kesimpulan, mari kita jadikan momentum hari ke-5 Ramadhan ini untuk lebih selektif dalam menggunakan indra pendengaran.
Mari kita puasakan telinga kita dari suara yang batil agar hati tetap jernih dan pahala puasa kita terjaga dengan sempurna.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
(Tribun Priangan/ Bangkapos.com)