BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Lampion merah menggantung, dekorasi khas Imlek menghiasi ruangan, sementara sebagian tamu tampak bersiap menanti waktu berbuka puasa. Suasana hangat dan penuh warna itu terasa dalam perayaan Imlek yang digelar Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kalimantan Selatan, Minggu (22/2/2026) malam.
Mengusung tema “Bersama dalam Keberagaman”, perayaan tersebut tak hanya dihadiri warga Tionghoa, tetapi juga berbagai elemen masyarakat lintas suku dan agama.
Sekitar 30 perkumpulan etnis di Kalimantan Selatan turut hadir, menjadikan malam itu bukan sekadar perayaan tahun baru Imlek, melainkan panggung kebersamaan.
Pertunjukan seni silih berganti memeriahkan acara. Tarian payung khas Tionghoa tampil anggun dengan balutan kostum bernuansa merah. Tak lama kemudian, tarian daerah Kalimantan ikut mengisi panggung, menghadirkan harmoni budaya yang menyatu dalam satu perayaan.
Ketua Harian PSMTI Kalsel, Arifin Suritiono, mengatakan perayaan tahun ini sengaja dirancang sebagai ruang kebersamaan lintas etnis.
Baca juga: Update Penusukan Penjaga Parkir di Pasar Lama Banjarmasin, Korban Akhirnya Tewas
Baca juga: Viral Penampakan Buaya Besar di Tepi Sungai Batulicin Tanahbumbu, Warga Diimbau Waspada
“Dari PSMTI Kalsel merayakan Imlek 2026 dengan tema bersama dalam keberagaman. Kali ini kami menghimpun semua, bukan hanya dari satu kelompok saja, tapi dari berbagai suku dan agama kita rayakan bersama,” ujarnya.
Ia menegaskan, perayaan tersebut bukan hanya untuk komunitas Tionghoa semata. Momentum Imlek yang berbarengan dengan Ramadan justru dimanfaatkan untuk memperkuat toleransi.
“Kami juga merayakan buka puasa bersama teman-teman. Ada sekitar 30 etnis hadir di sini, dari Gusdurian, LK3, FPK hampir semuanya datang,” katanya.
Arifin berharap kebersamaan ini terus dijaga demi kesejahteraan bersama masyarakat Banua.
“Kami mengharapkan warga Tionghoa mari sama-sama menyejahterakan, bekerja sama dengan baik dan meningkatkan toleransi untuk masyarakat Banua,” tambahnya.
Ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kalsel, Alimusa, menyebut momen tersebut sebagai peristiwa yang spesial.
“Ini momen sangat spesial, karena salah satu anggota Forum Pembauran Kebangsaan melaksanakan perayaan Imlek. Acara ini adalah kebersamaan dan keragaman suku budaya di Banjarmasin,” ujarnya.
Ia mengaku terkesan melihat banyaknya suku yang hadir malam itu.
“Saya perhatikan hampir 30 suku berhadir malam ini. Tentunya memberikan dukungan kepada teman-teman Tionghoa yang melaksanakan acara Imlek,” katanya.
Menurutnya, berdekatan dengan Ramadan bukanlah halangan, melainkan bukti nyata toleransi yang sudah lama terbangun.
“Kalau soal berdekatan dengan Ramadan, toleransi itu sudah lama kita jalankan. Apabila teman etnis kita melaksanakan event-eventnya, kita pasti ikut. Ini bentuk penghormatan kepada anak bangsa dalam Bhineka Tunggal Ika,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Ketua Ikatan Keluarga Antar-Suku Bangsa (IKASBA) Kalsel, Aliansyah. Ia menyebut perayaan yang beriringan dengan Ramadan justru menghadirkan rasa kebahagiaan tersendiri.
“Ini waktu yang sangat luar biasa. Kami dari IKASBA bersama-sama menyatukan dan membangun kekeluargaan antar etnis, termasuk etnis Tionghoa,” ujarnya.
Menurutnya, kebersamaan lintas suku menjadi kunci menjaga situasi tetap kondusif.
“Potensi memang selalu ada di mana-mana, tapi dengan kita menyatukan seluruh etnis suku yang ada di Kalsel ini, insyaallah pelaksanaan Ramadan dan Imlek berjalan lancar,” katanya.
(Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)