TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kematian personel Direktorat Samapta Polda Sulsel, Bripda DP (19), menyisakan duka mendalam bagi keluarganya.
Putra kedua dari tiga bersaudara pasangan Aipda Muhammad Jabir dan Sumarni ini, meninggal dunia dalam kondisi masih mengenakan kaos polisi dan celana training.
Ia ditemukan tak sadarkan diri Asrama Ditsamapta Polda Sulsel, Jl Urip Sumoharjo, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, Minggu (22/2/2026) pagi.
Dan dinyatakan meninggal dunia di RSUD Daya Makassar, sekitar 4 kilometer dari Polda Sulsel, tempat Bripda DP berdinas dan tinggal dalam asrama.
Sebelum kabar duka tiba di ponsel ayahnya, Muhammad Jabir, Bripda DP rupanya berbalas pesan WhatsApp dengan sang ibu seusai sahur.
Dalam percakapan pesan WhatsApp itu, Bripda DP menanyakan itik yang rencananya dipotong untuk dibuat penganan Palekko.
Nasu Palekko adalah makanan khas suku Bugis, Sulawesi Selatan.
Bahannya berupa olahan daging bebek (itik) atau ayam yang dicincang kecil-kecil dan dimasak dengan bumbu pedas serta rempah-rempah kuat.
Andai ajal tak menjemput, Bripda DP rencananya akan menikmati suguhan Nasu Palekko bersama rekan-rekannya.
Sebab, hidangan Nasu Palekko ala sang ibu itu, rencananya akan dibawa langsung oleh Muhammad Jabir ke asrama Ditsamapta Polda Sulsel.
"Dia chat ibunya karena ini hari dia mau saya bawakan itik Nasu Palleko dari Pinrang," kata Aipda Muhammad Jabir ditemui depan ruang Autopsi RS Bhayangkara, Makassar, Minggu malam.
Mendapat pesan dari sang anak, Sunarni pun membalas dengan semangat bahwa ia akan membuatkan Nasu Palekko.
Namun, rupanya balasan pesan dari Sumarni pada pukul 05.00 Wita itu, sudah tak direspon lagi oleh Bripda DP.
Tak berselang lama, justru sang ayah Aipda Muhammad Jabir, mendapat kabar duka dari teman seangkatannya di Polda Sulsel.
Kabar itu berbunyi, "Bripda DP dinyatakan meninggal dunia"
Nasu Palekko itu kata Jabir, rencananya akan dinikmati Bripda DP dengan senior-seniornya.
"Cuman itu saja itik (Bripda DP tanyakan ke ibunya), dia mau makan itik sama seniornya," katanya lagi.
Dengan nada tegar dan pelan, Aipda Muhammad Jabir juga menceritakan permintaan Bripda DP lainnya sebelum meninggal.
Selain Nasu Palekko, rupanya Muhammad Jabir juga berencana akan membawakan motor Bripda DP ke Asrama Ditsamapta Polda Sulsel untuk digunakan keperluan sehari-hari.
Hari ini, rencananya motor itu akan dibawa sang ayah bersamaan dengan hidangan Nasu Palekko sang ibu.
Di mata Jabir, anaknya sosok yang baik dan tak pernah terlibat cekcok dan rekan sejawatnya.
Jabir tahu betul lantaran ia cukup intens berkomunikasi dengan generasi pelanjutnya ini sebagai insan Bhayangkara.
"Di mes, baik kepada semua temannya di sana. Saya kontak terus kemarin saya bicara baik, sehat, motornya mau saya kasi naikkan," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Sebagai polisi yang berdinas lebih kurang 20 tahun terakhir, Aipda Muhammad Jabir paham betul tanda-tanda kekerasan pada tubuh anaknya.
Ia mengaku menemukan beberapa luka memar di tubuh putra keduanya itu.
"Pemeriksaan awal ada luka memar di perut dan leher. Indikasi (kekerasan) karena masih sementara autopsi di dalam dan ada videonya luka memar di perut sebelah kanan," ungkap Jabir.
Jabir pun meminta kasus kematian Bripda DP yang diduga kuat dianiaya seniornya dapat diungkap secara terang benderang.
Ia ingin mendapatkan keadilan atas peristiwa memilukan di tempat Bripda DP ditempah sebagai Bintara remaja yang baru lulus anggota Polri pada 2025 lalu.
"Kami akan proses minta keadilan, apabila ada penganiayaan kami serahkan ke penyidik Polda untuk mengungkap tuntas siapa pelaku penganiaya kejadian tadi pagi," tegasnya.
Senada dengan desakan Aipda Muhammad Jabir sebagai orang tua Bripda DP, Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Pol Zulham Effendy juga berjanji akan mengusut tuntas kematian Bripda DP.
"Kita Bid Propam mendalami, makanya jenazah dibawa ke RS Bhayangkara untuk pemeriksaan lebih lanjut, baik visum luar maupun visum dalam," jelasnya.
Perwira tiga melati ini menegaskan, semua prosedur penyelidikan penyebab pasti meninggalnya almarhum akan dilaksanakan secara profesional dan terbuka.
Zulham mengaku akan mengungkap secara terang semua fakta penyelidikan yang nantinya ditemukan.
"InsyaAllah kita akan ungkap kalau memang ada kejadian di luar dari kejadian umum atau mencurigakan, atau kekerasan disitu kita akan luruskan," tegasnya.(*)