Tatapan Terakhir Sang Ayah: Serda Hamdani Gugur di Papua, Kirim Uang untuk Ramadan Sebelum Wafat
Ansar February 23, 2026 04:04 AM

TRIBUNMAROS.COM, MAROS — Foto itu masih tergantung rapi di dinding rumah sederhana di Desa Pucak, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Di bawahnya, seorang ayah berdiri terpaku, menatap lama wajah putra sulungnya.

Tak pernah ia sangka, tatapan panjang itu menjadi firasat terakhir sebelum kabar duka benar-benar datang.

Serda Hamdani (36), prajurit TNI yang bertugas di Papua Tengah, gugur dalam aksi penyerangan di Pos Palang/Jaga 1 PT Kristalin Eka Lestari, Kampung Legari, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire, Sabtu (21/2/2026).

Anggota Deninteldam XVII/Cenderawasih itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama sang ayah, Hamka.

“Saya lihat tanggal lahirnya, 30 Agustus 1990. Langsung saya tahu itu anak saya,” ujar Hamka lirih mengenang malam Sabtu sekitar pukul 23.00 Wita saat pertama menerima kabar tersebut.

Tak ada mimpi atau pertanda jelas sebelumnya.

Namun sehari sebelum kabar itu datang, sepulang salat Dzuhur, Hamka mengaku merasakan sesuatu yang berbeda.

“Baru kali itu saya tatap fotonya lama sekali,” katanya pelan.

Beberapa jam setelah tatapan itu, kabar duka benar-benar mengetuk pintu rumah mereka.

Uang Terakhir untuk Ramadan

Komunikasi terakhir ayah dan anak itu terjadi pada 15 Februari 2026.

Melalui pesan singkat, Serda Hamdani mengirimkan sejumlah uang untuk persiapan Ramadan.

“Saya bilang terima kasih. Dia bilang itu untuk persiapan Ramadan,” tutur Hamka.

Sementara sang istri, Marwah, terakhir berbicara dengan almarhum pada hari kejadian sekitar pukul 13.00 Wita.

Saat itu Hamdani berpamitan untuk beristirahat.

Beberapa jam kemudian, bukan suara suaminya yang kembali terdengar, melainkan kabar duka dari rekan-rekan satuannya.

Kini, halaman rumah duka dipenuhi sanak keluarga dan tetangga yang datang silih berganti. Mereka menanti kepulangan jenazah sang prajurit.

Dari Keterbatasan Menuju Seragam Loreng

Perjalanan hidup Serda Hamdani tak mudah. Setelah lulus SMA, ia sempat menganggur selama dua tahun karena keterbatasan ekonomi keluarga.

Kuliah tak bisa ditempuhnya.

Namun keinginan untuk mengubah nasib membuatnya nekat mendaftar TNI pada 2010.

“Dia bilang mau daftar tentara. Saya bilang terserah kemauannya. Alhamdulillah sekali daftar langsung lulus,” kenang Hamka.

Meski bertubuh kecil, Hamdani justru keluar sebagai lulusan terbaik saat pendidikan dasar.

“Medalinya masih saya pajang di rumah,” ujar sang ayah dengan mata berkaca-kaca.

Kariernya berlanjut. Ia pernah berdinas di Batalyon 726 Bone, menjadi Babinsa di Kabupaten Soppeng, mengikuti pendidikan Secaba.

Lalu ditempatkan di Kodam Cenderawasih.

Sejak pertengahan 2024, ia bertugas di Nabire, Papua Tengah.

Anak, Suami, dan Sosok yang Taat

Serda Hamdani adalah anak pertama dari dua bersaudara.

Ia meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak.

Di mata keluarga, Hamdani dikenal sebagai pribadi yang baik dan taat beribadah.

“Kalau pulang kampung selalu salat berjemaah di masjid dan rajin mengaji. Ramadan bisa khatam Al-Qur’an sampai tiga kali,” tutur Hamka.

Terakhir kali ayah dan anak itu bertemu sekitar enam bulan lalu saat Hamdani pulang cuti.

Momen itu menjadi pertemuan terakhir mereka.

Kini keluarga hanya berharap satu hal: jenazah dapat dimakamkan di pemakaman keluarga di Desa Pucak.

“Kami sudah ikhlas. Semoga dia mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan,” ucap Hamka.

Di dinding rumah itu, foto sang prajurit tetap tergantung.

Dan seorang ayah masih berdiri di bawahnya, menunggu kepulangan yang tak lagi sama. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.