PMII Pinrang Desak Pengusutan Tuntas Kematian Bripda DP
Ansar February 23, 2026 05:19 AM

TRIBUN-TIMUR.COM, PINRANG — Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pinrang menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya Bripda DP.

Bripda DP personel Samapta Polda Sulawesi Selatan (Sulsel), diduga menjadi korban kekerasan di lingkungan institusi tersebut.

Bagi PMII, peristiwa ini bukan hanya menjadi duka bagi keluarga korban, tetapi juga menimbulkan keprihatinan serius di tengah masyarakat.

Ketua Cabang PMII Pinrang, Al Fikri, menegaskan bahwa dugaan kekerasan internal di tubuh institusi negara merupakan persoalan serius yang tidak boleh ditutup-tutupi.

“Kasus meninggalnya Bripda DP harus diusut secara tuntas, transparan, dan tanpa intervensi. Tidak boleh ada upaya melindungi siapa pun yang terlibat. Hukum harus ditegakkan seadil-adilnya,” tegas Al Fikri kepada Tribun-Timur.com, Senin (23/2/2026).

Menurutnya, jika benar terjadi praktik kekerasan senior terhadap junior, hal tersebut mencerminkan kegagalan sistem pembinaan dan pengawasan di lingkungan Kepolisian Negara Republik Indonesia.

PMII menilai, penyelesaian perkara ini harus dilakukan secara terbuka untuk mencegah munculnya kecurigaan publik serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.

“Kami tidak ingin kasus ini berlalu begitu saja. Ini menyangkut nyawa manusia, masa depan generasi muda, dan wajah keadilan di negeri ini,” lanjutnya.

PMII menyatakan akan terus mengawal proses hukum hingga tuntas.

Mereka juga meminta agar hak-hak keluarga korban dipenuhi secara adil.

Serta dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola pembinaan anggota kepolisian agar kejadian serupa tidak terulang.

Sebagai organisasi gerakan mahasiswa, PMII menegaskan komitmennya untuk berdiri di barisan keadilan, kemanusiaan, dan kebenaran.

Dugaan Penganiayaan Menguat

Sebelumnya, Bripda DP meninggal dunia di Kota Makassar, Minggu (22/2/2026).

Ia merupakan bintara muda yang baru sekitar satu tahun berdinas di Polda Sulsel.

Dugaan penganiayaan mencuat setelah ayah korban, Aipda Muhammad Jabir, menemukan sejumlah luka di tubuh putranya.

Hal itu disampaikan Jabir saat ditemui di depan Ruang Forensik Dokpol Biddokkes Polda Sulsel, tempat jenazah Bripda DP diautopsi.

“Ada luka memar di perut, di sini (dada dekat leher) hitam, sama mulut keluar darah terus,” ujarnya.

Sebagai anggota Polri, Jabir mengaku memahami karakter luka tersebut dan menduga kuat adanya pukulan.

“Kalau benda tumpul mungkin tidak ada, tapi kalau bekas pukulan mungkin ada,” jelasnya.

Personel Polres Pinrang itu berharap penyelidikan dilakukan secara transparan dan profesional.

“Kabid Propam sudah datang dan kami sebagai orang tua meminta agar diusut tuntas sampai jelas siapa yang melakukan penganiayaan kalau memang ada,” tegasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.