TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Di tengah padatnya arus kendaraan jalur Pantura Semarang–Kendal, berdiri sebuah pesantren tua yang tetap menjaga kesunyian di sebuah gang.
Terletak di Kelurahan Wonosari, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, kompleks ini tampak sederhana dari luar.
Namun, jejak sejarahnya menembus waktu lebih dari empat abad lamanya.
Pesantren tersebut yakni Pondok Pesantren Salafi Luhur Dondong, lembaga pendidikan Islam yang berdiri pada 1600-an M.
Hingga kini, fungsi bangunan-bangunan lamanya tidak berubah, yakni menjadi ruang ibadah, pengajian, dan tempat santri menimba ilmu.
Seorang santri muda, Muhammad Afif Ilyas, menjadi saksi hidup keberlanjutan tradisi tersebut. Dia memilih mondok di Dondong karena nilai sejarah dan sanad keilmuan yang dijaga turun-temurun.
“Pesantren ini umurnya 400 tahun lebih atau empat abad. Saya baru Desember 2025 lalu menjadi santri di sini,” kata Afif, ditemui TribunJateng.com, Rabu (18/02/2026).
Di dalam area pesantren, terdapat satu bangunan yang menonjol karena usia dan keasliannya.
Bangunan itu dikenal sebagai Kompleks A, bagian tertua pesantren yang hingga kini masih digunakan untuk kegiatan mengaji.
Struktur bangunannya masih mempertahankan bentuk awal, meliputi tembok tebal bercat putih, jendela kayu, serta rangka atap kayu tanpa plafon modern.
Lantai ubin lama dengan penanda shaf salat menunjukkan fungsi utamanya sebagai ruang ibadah sejak ratusan tahun lalu.
Bangunan tua itu bukan sekadar peninggalan, melainkan ruang hidup yang terus dipakai santri setiap hari.
“Ini termasuk bangunan tertuanya, di dalam ada delapan kamar, yang ruang utamanya digunakan mengaji,” ujar Afif.
Di bagian teras, terdapat kentongan tua yang menjadi bagian dari sejarah pesantren. Namun tidak semua benda berusia ratusan tahun ditampilkan secara langsung.
“Kentongan yang asli yang tua ada, yang ditampilkan di sini pajangan,” kata Afif.
Masuk ke bagian dalam, suasana ruang terasa lapang dan minim ornamen. Perabot yang ada hanya meja kayu, botol galon air, bangku panjang, serta beberapa sajadah yang terhampar di lantai. Cahaya matahari masuk melalui ventilasi kecil di bagian atas dinding.
Kesederhanaan ruang itu mencerminkan karakter pesantren salaf yang menempatkan fungsi dan keberkahan ilmu di atas kemegahan bangunan.
Musala Abu Darda
Masih satu kawasan dengan bangunan lama, berdiri Musala Abu Darda’ yang menjadi pusat kegiatan ibadah santri. Musala tersebut telah mengalami perbaikan, namun bagian inti bangunan tetap dipertahankan keasliannya.
“Untuk bangunan musalanya juga tua, tapi sudah direnovasi, yang asli yang di bagian dalamnya,” tutur Afif.
Di samping musala, terdapat sebuah joglo kayu yang menaungi makam pendiri pesantren, KH Syafi’i Pijoro Negoro.
Area makam diberi pembatas kayu dan papan penanda batas suci. Dia juga menjelaskan susunan makam yang ada di dalam joglo tersebut.
“Makamnya itu makam Kiai Haji Pijoro negoro. Di makamnya ada tiga, di sebelah makamnya itu istrinya, kemudian yang satunya Mbah Maskon, kemungkinan mantunya,” sebutnya.
Secara harfiah, pada tahun 1600-an, wilayah yang kini menjadi Kelurahan Wonosari (Ngaliyan) merupakan hutan lebat yang didominasi oleh pohon kedondong hutan.
Saat Kiai Syafi'i Pijoro Negoro datang untuk "babat alas" (membuka lahan), beliau memilih lokasi yang dikelilingi pohon-pohon ini sebagai penanda wilayah.
Riwayat KH Syafi’i Pijoro Negoro tidak hanya berkaitan dengan pendidikan agama.
Dalam berbagai sumber lisan dan arsip pesantren, dia dikenal sebagai bagian dari perjuangan Mataram Islam melawan VOC. Pendiri pesantren ini hidup sezaman dengan Sultan Agung.
Dalam penyerbuan ke Batavia pada 1629, KH Syafi’i disebut menjadi komandan pasukan Mataram.
Setelah peperangan, dia menetap di Kampung Dondong dan mendirikan padepokan yang kemudian berkembang menjadi pesantren.
Pada masa berikutnya, kawasan Dondong juga diyakini memiliki keterkaitan dengan jaringan perjuangan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825–1830).
Sanad Keilmuan
Di tengah minimnya jumlah santri, Pondok Pesantren Luhur Dondong tetap dikenal karena sanad keilmuan yang kuat.
Nama-nama besar ulama Nusantara disebut memiliki keterkaitan dengan pesantren ini.
Satu di antaranya adalah KH Sholeh Darat, ulama besar Semarang yang dikenal sebagai guru sejumlah tokoh nasional.
Sanad tersebut yang membuat Afif mantap memilih mondok di pesantren tua tersebut.
“Kenapa ingin mondok di sini? Karena dari sanad, dari keilmuannya, dari kitabnya, saya melihat para lulusan-lulusannya,” kata Afif.
Saat ini, jumlah santri yang menetap di Pondok Pesantren Luhur Dondong relatif tidak banyak.
Meski demikian, aktivitas belajar dan ibadah tetap berjalan setiap hari.
“Total santri di sini sekitar 17–18 orang. Delapan kamar. Ditempati santri, ada yang pekerja, ada juga yang masih bersekolah,” ujar Afif.
Dia sendiri menjalani kehidupan mondok sambil bekerja.
“Saya mondok di sini sambil bekerja di sebuah jasa kurir,” katanya.
Keseharian santri berlangsung di antara bangunan tua yang masih difungsikan, termasuk kamar Afif yang berada tepat di depan ruang mengaji.
“Saya inginnya punya waktu lebih panjang untuk nyantri di sini,” pungkas Afif. (Rezanda Akbar)