TRIBUNJATENG.COM, KOTA TEGAL - Di usia yang tak muda lagi, Mindayani Wirjono (82) masih bersemangat untuk memutar roda usaha produksi dodol cina atau kue keranjang.
Diakui, pasar kue keranjang yang tahun ini dirasakannya anjok karena sepi peminat, ia tetap berupaya bisnisnya terus berjalan.
Minda menjalakan usahanya di Jalan Belimbing, Kecamatan Tegal Barat, dengan nama merek kue keranjangnya 'Sido Makmur'.
Merintis usaha di tahun 1980-an, dari dapur yang semula ruangannya hanya menggunakan gedebok (batang pohon) pisang, kini ia mempunyai hingga puluhan karyawan. Kapasitas prodduksi kue keranjang tiap harinya bisa mencapai 3 kuintal.
Minda mengenang, saat awal menjalakan usaha, dapur yang terbuat cuma dari gedebok pisang itu roboh akibat hujan deras.
"Dulu saja tidak punya dapur, pakainya gedebok pisang. Kaalu kehujanan, gedeboknya ambruk, saya sampai nangis," ujarnya, ditemui Tribun Jateng, Sabtu (21/02/2026).
Setelah menjalankan usaha lebih dari 40 tahun, kue keranjang buatannya pun sudah banyak dikenal sampai ke kota-kota besar di Jawa Tengah, Jawa Barat dan DIY.
"Pengiriman produknya bisa sampai Bandung, Semarang, Solo, Pekalongan dan Karawang," ungkapnya.
Minda mengungkap, tahun perayaan Imlek tahun Kuda Api ini pesanan dodol keranjangnya terbilang merosot dari Imlek sebelumnya.
"Untuk permintaan saat ini banyak yang turun, yang di Karawang saja turun sampe 50 persen. Bilangnya pada sepi-sepi, dagangannya sepi. Faktornya mungkin ekonomi melemah," tuturnya menahan untuk tak patah semangat.
Ia pun mengingat perjalanan usahanya yang tak meraih sukses begitu saja. Minda menyebut telah merasakan jatuh bangun selama berwirausaha. Ia memulai usaha di usia sekitar 40 tahun.
Saat awal berkarir dari nol, ia merintis usaha bersama pembantu tetangganya, yang kini sudah meninggal dunia.
Ia yang berstatus ibu delapan anak, dituntut untuk harus bisa putar otak demi menghidupi keluarganya.
Saat itu, Minda juga memiliki toko bernama Sido Makmur, nama tersebut yang kini sudah terkenal menjadi merek kue keranjangnya.
"Ide awal usaha kue keranjangnya justru datang dari pembantu tetangga. Saya dahulu merintis dari bawah bersama Wa Nyamin sekarang sudah almarhum," tuturnyan.
Minda menuturkan, Wa Nyamin mengaku iba kepada dirinya karena mempunyai banyak anak.
Karena Wa Nyamin mempunyai bekal pernah bekerja di produsen dodol keranjang, maka ia menawarkan kepda dirinya untuk memulai usaha dodol keranjang.
"Kata Wa Nyamin, saat itu dia kasihan sama saya, karena saya hidupnya susah dan anaknya banyak. Kemudian dimulailah usaha dodol keranjang ini," ungkapnya.
Sempat Ragu
Minda juga menyebut, dirinya sempat ragu saat mengawali berwirausaha dodol keranjang lantaran tak punya modal dan keahlian untuk membuatnya.
"Tapi saya diyakinkan oleh Wa Nyamin, katanya dia siap membantu," terangnya.
Lantaran termotivasi oleh Wa Nyamin, Minda kemudian merintis usaha bersama anaknya, Waja, yang saat ini juga sudah meninggal dunia.
Awalnya, kata Minda, ia hanya mampu memproduksi dodol keranjang 20 kilogram per hari.
Tak modern seperti saat ini yang sudah menggunakan mesin untuk membuat adonan dodol, saat itu semua pekerjaan mengadon dodol dibuat menggunakan tangan.
Minda mengaku sangat bersyukur, saat ini usahanya bisa berkembang pesat hingga ke luar kota dengan produksi harian mencapai 2-3 kuintal adonan.
"Produksinya ya biasa dua kuintal, tiga kuintal, jadinya ya dua kali lipatnya sih. Kira-kira ya 400 biji, kan 200 kilogram gula, 200 kilogram tepung ketan," tuturnya.
Lantaran harga bahan pokok yang naik, tahun ini Minda menaikkan harga jual dagangannya. Untuk tepung ketan saja yang semula Rp 175 ribu kini menjadi Rp 190 ribu.
Kini, di saat pasar sepi, membuat Minda harus tega mengurangi karyawannya.
"Untuk jumlah karyawan sekarang lebih sedikit, cuma 20 orang. Kalau tahun kemarin masih bisa mempekerjakan 50 karyawan," katanya.
Pantauan Tribunjateng.com pengolahan adonan dodol keranjang berawal dari tepung ketan yang ditakar sesuai takaran. Kemudian, tepung dimasukkan ke dalam mesin dicampur dengan air dan gula dan di aduk hingga beberapa jam.
Barulah setelah jadi, di tangan-tangan cekatan, adonan tersebut dimasukan ke dalam cetakan yang dilapisi plastik.
Setelah dicetak, adonan kemudian dimasukkan ke dalam kompor oven raksasa yang bisa merebus ratusan biji adonan cetakan dodol keranjang.
Bahkan untuk memasukan ke kompor oven raksasa karyawan, Minda harus menggunakan alat bantu dongkrak.
Usai direbus beberapa jam di kompor oven raksasa, barulah dodol keranjang siap dipasarkan hingga di kota kota besar. (Wahyu Nur Kholik)