TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gunung Merapi (2968 mdpl) terpantau mengalami lima kali guguran lava ke arah Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 2000 meter.
Hal itu berdasarkan laporan pantauan BPPTKG Yogyakarta, sepanjang periode pengamatan hari ini, Senin (23/2/2026), pukul 00.00-06.00 WIB.
Selain itu, pada periode pengamatan yang sama, tercatat pula 33 kali gempa Guguran dengan amplitudo 1-39 mm dan lama gempa 65.79-170.69 detik.
BPPTKG juga mencatat 31 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 1-26 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 12.72-40.45 detik.
Dan tiga kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 80 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 100.9-168.91 detik.
Hingga saat ini, Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan Level III (Siaga) untuk gunung berapi aktif di perbatasan DIY dan Jawa Tengah tersebut.
Untuk pengamatan visual, Gunung Merapi tertutup Kabut 0-III. Asap kawah nihil.
Baca juga: Info Prakiraan Cuaca DIY Senin 23 Februari 2026: Waspada Potensi Hujan Sedang-Lebat
Dari sisi klimatologi, cuaca di kawasan puncak Merapi terpantau berawan hingga mendung, angin tenang ke arah barat.
Suhu udara sekitar 18.3-20°C. Kelembaban 88-98.9 persen dan Tekanan udara 870.5-913 mmHg.
Lebih lanjut, BPPTKG Yogyakarta menyampaikan rekomendasi terkait potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.
Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.
Masyarakat pun diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan mewaspadai bahaya lahar serta awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.
Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (*)