TRIBUNTRENDS.COM - Sederet fakta mulai terkuak dalam kasus meninggalnya NS (12), bocah asal Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh ibu tirinya. Kematian tragis bocah yang masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar ini menyisakan tanda tanya besar sekaligus memicu keprihatinan luas di tengah masyarakat.
Pada tubuh korban ditemukan sejumlah luka mencurigakan. Selain bekas luka di beberapa bagian tubuh, terdapat pula lepuhan yang diduga akibat paparan panas dari dalam, sehingga semakin menguatkan dugaan adanya tindak kekerasan sebelum korban meninggal dunia. Kondisi tersebut menjadi sorotan publik setelah sejumlah potongan informasi dan kesaksian terakhir korban beredar luas dan viral di media sosial.
Tabir gelap kematian NS perlahan mulai tersingkap. Peristiwa ini memicu kemarahan dan kecaman warganet, yang mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus tersebut secara transparan dan adil. Banyak pihak berharap tidak ada fakta yang ditutupi, mengingat korban merupakan anak di bawah umur.
Baca juga: Bocah Dianiaya Ibu Tiri Sampai Tewas, Kasusnya Naik ke Penyidikan, Polisi Temukan Bukti KDRT
Saat ini, Polres Sukabumi masih menangani perkara tersebut secara intensif. Polisi tengah melakukan penyelidikan mendalam guna memastikan penyebab pasti kematian NS, termasuk mendalami apakah korban benar-benar meninggal akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau karena faktor lain.
Proses penegakan hukum masih berjalan, dan pihak kepolisian menegaskan akan mengedepankan pemeriksaan medis serta pengumpulan alat bukti untuk mengungkap kebenaran di balik kematian tragis bocah 12 tahun tersebut. Kasus ini pun terus menjadi perhatian publik, seiring harapan agar keadilan benar-benar ditegakkan bagi korban.
Berdasarkan data yang dihimpun Kompas.com, berikut adalah 5 fakta memilukan di balik kasus kematian NS:
Sebelum mengembuskan napas terakhirnya, NS sempat memberikan isyarat yang mengiris hati. Dalam sebuah rekaman video saat menjalani perawatan medis, NS yang terbaring lemah menunjuk ke arah ibu tirinya, TR, ketika ditanya mengenai penyebab luka di tubuhnya.
"Tuh, tuh..." ucap NS lirih sambil mengarahkan telunjuknya ke arah sang ibu tiri.
Melihat hal tersebut, ayah kandung korban, Anwar Satibi (38), tak kuasa menahan emosi dan sempat memukul istrinya di hadapan petugas kepolisian sebelum akhirnya dilerai.
NS juga sempat menyebut bahwa dirinya dipaksa meminum air panas.
Anwar Satibi mengungkap bahwa kekejaman yang dialami anaknya bukanlah yang pertama kali. Setahun silam, ia pernah melaporkan TR ke Polres Sukabumi karena tubuh NS penuh luka hantaman benda tumpul. Namun, laporan itu berakhir damai melalui mediasi.
"Dia sampai sujud ke saya, minta jangan dilaporkan. Katanya: 'Mama mau tobat dan berperilaku baik'. Akhirnya terjadi perdamaian," kenang Anwar dengan nada bergetar, Sabtu (21/2/2026).
Anwar menyesal telah memaafkan istrinya saat itu karena ternyata janji tersebut dianggapnya sebagai "tobat palsu" yang justru berujung pada kematian tragis sang anak.
Dalam dinamika rumah tangganya, Anwar membeberkan adanya ketimpangan perlakuan. TR diketahui memiliki dua anak angkat (laki-laki SMA dan satu perempuan).
Setiap kali terjadi perselisihan antara NS dengan anak angkat tersebut, NS selalu menjadi sasaran amarah.
"Kalau berantem antara anak kandung saya dengan anak angkat itu, yang dihantam selalu anak saya. Padahal itu anak angkat, bukan anak kandung dia," jelas Anwar.
Tim forensik RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Sukabumi telah melakukan autopsi selama tiga jam. Kepala Instalasi Forensik, Kombes dr. Carles Siagian, menyatakan ditemukan luka bakar di lengan, kaki, punggung, hingga luka permanen di area bibir dan hidung.
"Sepertinya terkena panas yang menyebabkan luka bakar. Namun, luka-luka tersebut seharusnya tidak menyebabkan kematian," ujar dr. Carles, Jumat (20/2/2026).
Kejanggalan ditemukan pada organ dalam, di mana paru-paru korban tampak membengkak.
Hingga saat ini, sampel organ telah dikirim ke Jakarta untuk uji laboratorium toksikologi guna mencari jejak zat tertentu atau penyakit bawaan.
Di sisi lain, sang ibu tiri, TR, membantah keras tuduhan telah menyiram atau memaksa korban minum air panas. Ia mengeklaim luka melepuh pada tubuh NS adalah efek dari "panas dalam" atau penyakit yang diderita korban.
"Jujur itu kalaupun ada kulit yang melepuh, itu faktor dari panas dalam gitu. Saya tidak kejam seperti yang dituduhkan netizen. Biar waktu yang menjawab segalanya," ujar TR saat dihubungi via WhatsApp.
Sementara itu, Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, menegaskan telah memeriksa 16 saksi.
"Kami mengedepankan pembuktian ilmiah. Setiap keterangan saksi akan dikroscek dengan hasil visum dan otopsi," tegas Samian.
(TribunTrends.com/Kompas.com)